Cegah Banjir Akibat Sungai Cidurian, Warga Binuang Serang Minta Dibangunkan Tanggul yang Tinggi

Warga Kampung Kuranji, Desa Cakung, Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang, Banten, meminta pemerintah segera membangun dan meninggikan tanggul

Tayang:
TribunBanten.com/Muhammad Uqel Assathir
Warga Kampung Kuranji, Desa Cakung, Kecamatan Binuang bernama Royadi meminta pemerintah agar segera membangun tanggul untuk cegah banjir sungai cidurian, Jum'at, (6/2/2026). 

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG  – Warga Kampung Kuranji, Desa Cakung, Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang, Banten, meminta pemerintah segera membangun dan meninggikan tanggul di bantaran Sungai Cidurian guna mencegah banjir yang kerap melanda permukiman.

Permintaan tersebut disampaikan menyusul banjir akibat luapan Sungai Cidurian yang memaksa warga mengungsi hampir selama satu bulan.

Hingga kini, sebagian rumah warga masih terendam genangan air setinggi sekitar setengah meter, sehingga banyak warga terpaksa bertahan di tenda pengungsian, mengontrak rumah, atau menumpang ke rumah keluarga.

Salah satu warga, Royadi, mengatakan kondisi tanggul di bantaran Sungai Cidurian sudah menurun sehingga tidak mampu menahan luapan air saat debit sungai meningkat.

"Ini kan tanggulnya sudah turun, makanya kita sudah sampaikan ke instansi daerah, pemerintah desa, kecamatan, pihak PU, dan BBWSC. Semua sudah kita sampaikan terkait masalah tanggul," ungkap Royadi, Jum'at, (6/2/2026).

Baca juga: Tak Kunjung Dapat Bantuan, Korban Banjir di Desa Cakung Serang Ngungsi Pakai Tenda Seadanya di Jalan

Menurutnya, Kampung Kuranji memang menjadi daerah langganan banjir karena terhimpit oleh dua sungai, yakni Sungai Cidurian dan Sungai Kalimati.

Namun, banjir yang terjadi tahun ini disebut sebagai yang terparah.

"Hampir setiap tahun banjir, karena kampung ini diapit dua sungai. Tapi banjir tahun ini yang paling parah," tandasnya.

Ia menjelaskan, air mulai masuk ke permukiman warga sejak 5 Januari 2026, sementara warga mulai mengungsi pada 8–9 Januari 2026. Saat itu, ketinggian air mencapai satu hingga dua meter lebih.

"Sekarang sudah mulai surut, tapi di dalam rumah masih ada genangan sekitar setengah meter. Warga yang rumahnya sudah memungkinkan mulai balik buat bersih-bersih," ujarnya.

Selama mengungsi, kebutuhan logistik makanan warga dipasok dari dapur umum yang berada di Kecamatan Carenang.

"Kalau logistik sih bagus, baik dari Dinsos maupun Kemensos," katanya.

Namun demikian, Royadi mengeluhkan pasokan air bersih yang tidak tersedia sejak awal banjir. Untuk kebutuhan minum, warga terpaksa membeli air isi ulang.

"Dari awal air bersih nggak masuk, jadi buat minum kita beli air isi ulang," pungkasnya.

Warga berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan dan peninggian tanggul Sungai Cidurian sebagai solusi jangka panjang agar banjir tidak terus berulang setiap tahun.
 

 

Sumber: Tribun Banten
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved