Harga Beras di Pasar Ciruas Serang Merangkak Naik, Pedagang Ungkap Penyebabnya

Harga beras di Pasar Ciruas, Kabupaten Serang, Banten, dilaporkan mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir.

Tayang:
Penulis: Muhammad Uqel Assathir | Editor: Abdul Rosid
TribunBanten.com/Muhammad Uqel Assathir
HARGA BERAS - Seorang pedagang beras di Pasar Ciruas, Kabupaten Serang, Cecep saat ditemui di lokasi, Rabu (28/4/2026). Harga beras di Pasar Ciruas, Kabupaten Serang mengalami kenaikan akibat minimnya pasokan karena belum musim panen. 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Muhammad Uqel

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Harga beras di Pasar Ciruas, Kabupaten Serang, Banten, dilaporkan mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. 

Kondisi ini dikeluhkan pedagang karena berdampak pada penjualan dan daya beli masyarakat.

Kenaikan harga beras tersebut terjadi sejak wilayah Serang belum memasuki musim panen. 

Akibatnya, pasokan beras masih bergantung dari luar daerah seperti Lampung dan Palembang, yang juga tengah mengalami keterbatasan produksi.

Baca juga: Anggota DPR RI dan DPRD Serang Sidak Gudang Bulog, Minta Jangan Jual Beras di Atas HET

Salah satu pedagang beras di Pasar Ciruas, Cecep, mengatakan bahwa minimnya hasil panen serta tingginya permintaan membuat harga di tingkat pemasok ikut naik dan berimbas pada harga jual di pasar.

"Di Serang sekarang enggak ada panen. Kebanyakan beras datang dari luar, kayak Lampung, Palembang. Harga di sana juga tinggi. Hasilnya sedikit, permintaan banyak," ungkap Cecep saat ditemui di lokasi, Rabu (28/4/2026). 

Selain itu, kenaikan harga gabah juga menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga beras

Saat ini, harga gabah disebut telah mencapai sekitar Rp7.000 per kilogram. 

"Kalau gabah naik, otomatis beras juga ikut naik," jelasnya.

Tak hanya faktor pasokan dan harga gabah, perubahan pola distribusi dari penggilingan padi (heller) juga turut memengaruhi harga di tingkat pedagang. 

Menurut Cecep, saat ini banyak penggilingan yang menjual langsung ke konsumen tanpa melalui pedagang.

Kondisi tersebut membuat harga di tingkat konsumen dan pedagang menjadi hampir sama, bahkan pedagang terkadang harus membeli dengan harga lebih tinggi karena adanya tambahan biaya distribusi.

"Sekarang banyak heller yang jual langsung ke konsumen tanpa lewat toko. Jadi kayak monopoli kecil. Harga konsumen dengan harga pedagang jadi sama. Bahkan kadang kami beli lebih mahal karena ada ongkos mobil, tenaga bongkar, dan lainnya," katanya.

Ia menilai, perubahan sistem distribusi tersebut menyebabkan harga beras di pasar menjadi tidak stabil dan sulit dikendalikan. 

"Perbandingan harga antara pedagang dan konsumen itu harusnya ada. Kalau disamakan ya pedagang keberatan. Ini yang bikin harga makin enggak menentu," imbuhnya.

Dengan kondisi tersebut, para pedagang berharap pemerintah daerah dapat melakukan koordinasi lebih jauh dengan penggilingan maupun Bulog agar distribusi dan harga lebih stabil.

Sumber: Tribun Banten
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved