Bagian IV: Madrasah Langit: Para Mahaguru Mulia

Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan

Tayang:
Editor: Abdul Rosid
Dok/Pribadi
Penulis Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan, serta kebangsaan dari perspektif Nahdlatul Ulama. 

Penulis Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan, serta kebangsaan dari perspektif Nahdlatul Ulama.

TRIBUNBANTEN.COM - Aku masih ingat bau laut itu asin, hangat, dan seperti menyimpan doa yang terperangkap dalam ombak.
Perahu kayu yang membawaku dari pelabuhan Banten bergoyang pelan, dan di langit barat, matahari turun perlahan seperti lentera yang padam satu demi satu.
Di dadaku, Tanara belum juga pergi.
Aku masih mendengar suara ibu, masih melihat pohon kelapa di halaman rumah,masih mendengar Sungai Cidurian yang berbisik: “Mengalirlah hingga lautan.”

Dan kini, lautan itu benar-benar terbentang di hadapanku.

Baca juga: Bagian I: Benih Ilmu di Tanah Tanara

Baca juga: Bagian II: Anak Kiai dari Ujung Sungai Cidurian

Baca juga: Bagian III: Pesantren dan Perlawanan

Tiga bulan perjalanan laut, dari pesisir Jawa, menyeberangi Selat Malaka,singgah di Aceh, menumpang kapal dagang Gujarat, hingga akhirnya mencapai pelabuhan Jeddah.
Setiap malam di atas dek, aku menatap langit penuh bintang, langit yang sama yang menatap ibu di Tanara.
Dan di antara bintang itu, satu selalu tampak paling terang, seperti mata yang memanggilku:

“Selamat datang, penulis takdir dari Tanah Banten.”

Saat kaki ini pertama kali menginjak pasir Hijaz, aku merasa bumi bergetar halus di bawah tapak.
Ada semacam arus yang mengalir dari tanah ke dadaku, menyala pelan seperti bara di dalam hati.
Seolah tanah suci mengenali langkahku sebelum aku mengenali diriku sendiri.

Madrasah Tanpa Dinding

Makkah adalah madrasah tanpa dinding.
Tiang-tiang masjid menjadi kitab, bayang Ka‘bah menjadi guru.
Di setiap sudut, halaqah ilmu berputar seperti bintang.
Aku berpindah dari satu lingkar ke lingkar lain, pagi belajar tafsir, siang fiqh, malam tasawuf.
Dan setiap pergantian guru adalah pergantian langit: semakin tinggi, semakin sunyi, semakin terang.

Tidurku sedikit.
Makanan pun sering sekadar roti kering dan air zamzam.
Tapi setiap kali pena menari di atas kertas, aku merasakan sesuatu yang tak bisa dijelaskan: seakan tinta itu berasal dari doa ibu, dan setiap hurufnya adalah zikir yang belum selesai.

Syekh Ahmad Zaini Dahlan: Lautan Kasih dan Cahaya

Guru pertamaku adalah Syekh Ahmad Zaini Dahlan,
mufti besar Makkah, seorang alim yang wajahnya memantulkan kedalaman samudera.
Beliau mengajarkan tafsir dan hadis dengan ketenangan yang membuat dada terasa lapang.

“Nawawi,” katanya, “ilmu itu seperti air hujan:
ia hanya turun ke tanah yang tidak sombong.”

Aku duduk paling depan, menyalin setiap kata dengan tangan bergetar.
Dari beliau aku belajar cinta kepada Rasulullah, dan kecintaan pada jalan tengah, Ahlussunnah wal Jama‘ah.

Beliau menuntunku memahami sejarah bukan sebagai deretan tanggal, tapi sebagai perjalanan cinta Allah kepada manusia.

Suatu hari, beliau menatapku lama, lalu berkata:

“Kelak, kau akan menulis seperti lautan ini, tapi jangan lupa lautan pun berasal dari setetes air mata.”

Syekh Ahmad Khatib al-Makki: Fiqh dan Keteguhan

Dari halaqah Zaini Dahlan, aku berpindah ke majelis Syekh Ahmad Khatib al-Makki, mufti fiqh Syafi‘i yang terkenal tegas dan jernih dalam berpikir.
Ia mengajar Tuhfatul Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, dan al-Minhaj dengan ketelitian seorang penenun sutra.

Beliau jarang tersenyum, tapi sekali berbicara, hatiku serasa disayat oleh kejujuran.

“Jangan jadi ahli hukum yang kehilangan kasih,” katanya.
“Hukum yang kering akan membunuh, tapi fiqh yang mengandung rahmat akan menumbuhkan.”

Aku menunduk lama setelah pelajaran itu.
Dalam hati, aku tahu beliau tidak hanya mengajarkan hukum, tapi mengajarkan bagaimana menimbang dengan nurani.
Fiqh baginya bukan sekadar dalil, tapi cahaya akal yang sujud kepada kasih Tuhan.

Syekh Muhammad Hasbullah Sulaiman: Adab Fatwa dan Kesabaran

Guru berikutnya adalah Syekh Muhammad Hasbullah Sulaiman,seorang alim yang sabar dan halus tutur katanya.
Di majelisnya aku belajar fiqh lanjutan, qiyas, dan adab al-fatwa.
Ia mengajarkan bahwa menjawab pertanyaan umat bukan sekadar memberi hukum, tetapi menyalakan harapan agar umat tidak berhenti bertanya.

“Wahai Nawawi,” katanya lembut,
“ulama sejati bukan yang paling cepat menjawab, tapi yang paling lama menimbang dalam diam.”

Beliau mengulang pelajaran hingga larut malam,dan aku sering menulis di bawah cahaya lentera yang hampir padam.
Tiap tetes minyak lampu yang habis terasa seperti waktu yang kupinjam dari hidupku sendiri.
Aku tahu, ini bukan sekadar belajar, ini pengabdian.

Syekh Muhammad Sa‘id Babshil: Bahasa, Irama, dan Keindahan

Bahasa Arab adalah lautan,dan Syekh Muhammad Sa‘id Babshil adalah nakhoda yang mengajarkanku bagaimana berenang di dalamnya.
Ia mengajar Alfiyyah Ibn Malik dengan kesabaran seorang penyair yang menimbang huruf satu per satu.

Setiap kali aku salah membaca, beliau tertawa kecil,

“Huruf ini bukan batu, Nak. Ia hidup, ia bernapas. Jika kau ingin menguasai bahasa, cintailah setiap harakatnya.”

Darinya aku belajar keindahan.
Bahwa kata-kata bukan sekadar alat berpikir, tapi jalan menuju hati manusia.

“Suatu hari,” katanya menepuk bahuku,

 “engkau akan menulis untuk dunia, tapi pastikan tulisanmu lahir dari sujud.”

Syekh Muhammad Khatib Sambas: Guru Ruhani di Jabal Abi Qubais

Malam Jumat di Makkah selalu istimewa.
Ketika malam turun perlahan, dari arah timur terdengar zikir yang menggema, menyatu dengan desir angin gurun.
Aku menapaki jalan batu menuju Jabal Abi Qubais, bukit tua di dekat Masjidil Haram, tempat para sufi berkumpul dalam diam dan dzikir.

Di atas bukit itu, di antara lentera-lentera kecil dan batu yang disusun melingkar, berkumpullah murid-murid Syekh Muhammad Khatib Sambas al-Jawi, seorang ulama besar asal Sambas, Kalimantan Barat, pendiri Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah.
Tempat itu kelak dikenal sebagai Madrasah Naqsyabandiyah, pusat zikir yang melahirkan banyak wali dan ulama Nusantara.

Ketika aku tiba, beliau duduk di tengah jamaahnya, berjubah putih, wajahnya lembut bercahaya, suaranya bening seperti angin dari zamzam.
Tatapannya menembus dada murid-muridnya satu per satu.
Ketika matanya berhenti padaku, beliau tersenyum.

“Engkau dari Tanara?”
“Iya, Guru.”
“Ah… aku tahu tanah itu.
Di sana, angin membawa doa para wali.”

 

Darinya aku belajar diam, sabar, dan fana.

 “Jangan buru-buru ingin menjadi ulama,” katanya.
“Belajarlah menjadi hamba terlebih dahulu.”

 

Beliau memberiku zikir sirr, amalan yang tak boleh diucapkan keras-keras, hanya dilantunkan dalam dada yang bersih dari riya’.

Sejak malam itu, setiap kali aku berzikir, aku merasakan bumi berputar lebih lambat, dan setiap detak jantung menjadi nama Allah.

“Zikir,” katanya lagi,
“adalah jembatan yang tak terlihat, menghubungkan bumi hatimu dengan langit rahmat Tuhan.”

 

Dan ketika ribuan suara Allāh… Allāh… mengalun dari puncak Abi Qubais, aku merasa bintang-bintang pun menunduk.
Dari bukit itu, aku mengerti: ilmu tanpa dzikir hanyalah kata tanpa makna, dan zikir tanpa ilmu hanyalah gema tanpa arah.

Para Maha Guru Nusantara di Makkah

Namun bukan hanya ulama Arab yang mengajarkanku ilmu.
Ada para guru dari Timur, dari tanah airku, yang datang jauh sebelum aku lahir, meninggalkan sungai, sawah, dan hutan-hutan Nusantara, demi menanam ilmu di Tanah Suci.

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, ulama dari Martapura, adalah di antara yang pertama.
Dari beliau, sanad ilmu fiqh dan tauhid mengalir.
Karyanya Sabil al-Muhtadīn dan Tuhfah al-Rāghibīn beredar dari Banjarmasin hingga Makkah.
Aku membaca kitab itu di malam hari, dan di sela lembaran kuningnya, aku mendengar suara tanah airku.

Dari Syekh Arsyad aku mengenal bahwa ilmu harus menyapa rakyat, bukan sekadar menghiasi menara.

Lalu ada Syekh Abdus Shamad al-Palimbani, pengelana ilmu dari Palembang, yang semangatnya membakar malam-malam Makkah.
Ia menulis Siyar al-Sālikīn, ringkasan Ihya’ Ulumuddin, dan mengajarkan jihad melawan hawa nafsu lebih berat daripada perang.
Dari beliau yang telah sepuh, aku belajar Syarḥ Mukhtaṣar Ibn al-Ḥājjah dan mengenal makna amal yang hidup.

Beliau pernah berkata,

“Nawawi, menulis itu juga jihad, sebab tinta ulama lebih panjang usianya daripada darah para pejuang.”

Dan di antara para guru itu, ada Syekh Daud bin Abdullah al-Fatani, ulama besar dari Patani yang mendirikan Komunitas Melayu di Makkah.
Beliau menulis lebih dari tiga puluh delapan kitab, di antaranya Kifāyat al-Muḥtāj dan Nahj al-Rāghibīn.

Dari karyanya aku belajar bahwa menulis bukan sekadar menyusun kalimat, melainkan mengukir keabadian.
Ketika beliau wafat di Ṭāʾif dan disemayamkan di sisi sahabat Abdullah bin Abbas, murid-muridnya berdoa sambil menangis.

Aku ikut di antara mereka, dan dalam diam aku berjanji:

“Aku akan menulis seperti engkau, guru bukan untuk dikenang, tapi untuk menyalakan hati manusia.”

Madrasah Langit

Sepuluh tahun berlalu tanpa terasa.
Aku datang ke Makkah sebagai anak berumur lima belas, dan kini usiaku telah melewati dua puluh lima.
Rambutku mulai tumbuh janggut, tulisanku lebih tenang, dan hatiku lebih dalam.

Setiap malam aku menatap Ka‘bah dan berkata dalam diam:

“Ya Allah, jika ilmu ini adalah cahaya, maka jadikan aku lentera yang kecil saja, agar cukup menerangi jalan pulang bagi yang tersesat.”

Dari para guru Arab dan para maha guru Nusantara, aku belajar satu hal: bahwa ilmu sejati bukan yang membuatmu tinggi, tetapi yang membuatmu tunduk.

Dan malam itu, di bawah langit Makkah yang bertabur bintang,
aku merasa telah berada di madrasah yang sesungguhnya, madrasah langit, tempat bumi menunduk kepada ilmu, dan ilmu bersujud kepada cinta.

Sumber: Tribun Banten
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved