Bagian III: Pesantren dan Perlawanan
Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan
Penulis Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan, serta kebangsaan dari perspektif Nahdlatul Ulama.
TRIBUNBANTEN.COM - Tanara selalu basah oleh doa. Namun ketika aku beranjak remaja, langitnya mulai berat.
Kabut pagi bukan lagi sekadar embun, melainkan asap dari dapur rakyat yang lapar.
Di pasar, serdadu Belanda berdiri congkak,
dan para petani menunduk di hadapan pajak yang tak sanggup mereka bayar.
Namun di surau ayahku, suara Al-Qur’an tak pernah padam.
Baca juga: Bagian I: Benih Ilmu di Tanah Tanara
Baca juga: Bagian II: Anak Kiai dari Ujung Sungai Cidurian
“Selama ada yang mengaji,” kata ayah, “kita masih merdeka.”
Namun di dada kecilku, ada gelisah yang tak bisa kutulis.
Aku merasa dunia ini lebih luas dari Tanara,
dan ilmu yang kutimba baru setetes dari sungai.
Setiap malam aku terbangun di bawah pelita, memandangi arus Sungai Cidurian yang perlahan memudar ke arah utara.
Aku merasa sungai itu bicara kepadaku:
“Mengalirlah.”
Pesantren: Sekolah Tertua dari Rahim Rakyat
Sejak kecil aku tahu bahwa surau ayah bukan sekadar tempat mengaji, melainkan bagian dari rantai panjang ilmu yang telah hidup jauh sebelum bangsa-bangsa asing datang.
Orang-orang Tanara menyebutnya pesantren sebuah kata yang berasal dari santri dan cantrik, murid yang menetap di rumah guru untuk belajar ilmu dan adab.
Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di bumi Nusantara ini, jauh sebelum penjajah mengenalkan sekolah atau huruf Latin.
Di masa Walisongo, abad ke-15, sudah berdiri pesantren Ampel Denta di Surabaya, Giri Kedaton di Gresik, dan pesantren di Banten Lama semuanya dibangun bukan oleh raja, melainkan oleh para ulama yang mencintai ilmu dan umat.
“Pesantren adalah rahim ilmu yang pertama di tanah ini,” kata ayahku.
“Dari sinilah lahir ulama, pemimpin, dan penegak kebenaran.”
| Fakta Baru Kasus Gadai Mobil di Serang, Ini Alasan Polisi Tak Tahan Terduga Pelaku |
|
|---|
| Pelaku Penggelapan Mobil di Tanara Serang Diduga Dilepas Polisi, Korban Kecewa Berat |
|
|---|
| Detik-Detik Mencekam, Buaya Muara Tersangkut Jaring di Empang Warga Tanara Serang |
|
|---|
| Pria Asal Tanara Jadi Korban Penipuan, Motor Dibawa Kabur Wanita yang Dikenal Lewat Facebook |
|
|---|
| Jalan Rusak Parah di Tanara Kabupaten Serang Dikeluhkan Warga, Nasrudin: Sudah Lama Belum Diperbaiki |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/Muhamad-Roby-Ketua-Tanfidziya.jpg)