Asing Terus Kabur dari Bursa! Dana Rp 39 Triliun Keluar, BBCA hingga BBRI Paling Banyak Dilepas
Aliran dana asing terus keluar dari Bursa Efek Indonesia sepanjang 2026 dengan total mencapai Rp 39,82 triliun.
Alhasil, masih ada potensi outflow dari passive funds setelah deadline reformasi pasar saham Indonesia yang ditentukan oleh MSCI pada Mei 2026, meskipun nanti Bursa Indonesia tak jadi turun dari emerging markets ke frontier market.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, penyebab outflow asing berasal dari tekanan suku bunga The Fed yang higher for longer, pelemahan rupiah, profit taking pasca pembagian dividen, dan rebalancing indeks MSCI.
“Dana asing berpotensi berlanjut setelah Mei nanti juga data inflasi AS tetap tinggi. Intensitas outflow baru akan reda setelah rebalancing MSCI dan stabilnya rupiah,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (23/4).
Ke depan, bulan Mei 2026 bisa menjadi titik balik jangka pendek dari arus keluar dana asing jika MSCI review dan rebalancing indeks utama BEI direspons bagus. Namun, Liza mengingatkan bahwa dana asing tak serta merta berhenti keluar begitu saja pada Mei nanti.
“Outflow asing melambat, tetapi bukan berbalik inflow. Kecuali, ada katalis jelas seperti stabilisasi rupiah dan kepastian penilaian MSCI,” ungkapnya.
Di situasi saat ini, investor pun disarankan untuk memperhatikan arah pergerakan rupiah, aliran dana asing harian di pasar saham, dan imbal hasil US Treasury. Jika imbal hasil US Treasury masih naik, artinya asing belum balik ke Tanah Air.
“Perbanyak strategi wait and see dan very speculative buy. Strategi buy on weakness bertahap hanya cocok untuk investasi jangka panjang. Pastikan punya dana cukup jika investasi tersangkut,” tuturnya.
Rully bilang, saham yang berpotensi terus dilepas asing umumnya memiliki beberapa karakter. Seperti, memiliki bobot besar di indeks global, sensitivitas tinggi terhadap aliran dana pasif, serta struktur kepemilikan yang terdampak isu free float atau HSC.
Di tengah kondisi ini, strategi yang paling rasional bagi investor adalah tidak reaktif mengejar aliran dana asing hari per hari, serta kembali menilai fundamental dan valuasi masing?masing emiten.
“Investor juga bisa memanfaatkan tekanan jual berbasis flow untuk secara selektif mengakumulasi saham-saham berfundamental kuat yang terkoreksi lebih dalam dari penurunan kinerja riilnya,” katanya.
Sektor komoditas, consumer, dan telekomunikasi dinilai masih menarik dilirik pada kondisi saat ini.
Rully pun merekomendasikan beli untuk EXCL, JPFA, BRMS, dan DEWA dengan target harga masing-masing Rp 4.300 per saham, Rp 3.750 per saham, Rp 1.100 per saham, dan Rp 800 per saham.
Wafi melihat, emiten yang akan lebih banyak dijual asing adalah saham big caps perbankan seperti BBRI dan BMRI, serta sektor telco seperti TLKM. Selain itu, saham terdampak review MSCI juga akan dilego asing ke depan.
Sementara, saham yang akan banyak dibeli saat kembali inflow juga berasal dari emiten sektor perbankan big caps yang valuasinya diskon dan sektor konsumer defensif seperti ICBP dan AMRT.
“Alasannya, stabilitas fundamental di tengah ketidakpastian makro,” tuturnya.
| Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas Perdagangan Hari ini, Senin 19 Januari 2026 : CTRA hingga RAJA |
|
|---|
| Rekomendasi Saham Hari Ini, Senin 12 Januari 2025 : ANTM, ASII, BBCA, MEDC dan SMGR |
|
|---|
| Anak Korban Banjir di Sumatera dapat Pendampingan Trauma Healing dari BRI |
|
|---|
| BBRI Bagikan Kado Awal Tahun Dividen Interim Rp20,6 Triliun untuk Pemegang Saham |
|
|---|
| UMKM Binaan BRI La Suntu Tastio Kembangkan Tas Tenun Bernuansa Tradisi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/SAHAM-BEI-resmi-memberikan-pe.jpg)