Asing Terus Kabur dari Bursa! Dana Rp 39 Triliun Keluar, BBCA hingga BBRI Paling Banyak Dilepas

Aliran dana asing terus keluar dari Bursa Efek Indonesia sepanjang 2026 dengan total mencapai Rp 39,82 triliun.

Editor: Abdul Rosid
Dok. Ist
SAHAM - Aliran dana asing terus keluar dari Bursa Efek Indonesia sepanjang 2026 dengan total mencapai Rp 39,82 triliun. Saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, hingga BMRI menjadi yang paling banyak dilepas investor global 

TRIBUNBANTEN.COM - Aliran dana asing terus keluar dari pasar saham Indonesia dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. 

Sepanjang tahun berjalan 2026 (year to date/ytd), nilai outflow asing bahkan telah menembus angka Rp 39,82 triliun di seluruh pasar.

Pada perdagangan Kamis (23/4/2026), investor asing kembali mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 1,36 triliun di pasar reguler. 

Sementara jika dihitung secara keseluruhan, dana asing yang keluar pada hari itu mencapai Rp 978,65 miliar.

Baca juga: Rupiah Sempat Tembus Rp 17.321 per Dolar AS, Paling Lemah Sepanjang Masa

Tekanan jual asing ini juga terlihat dari sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps) yang menjadi sasaran utama. 

Saham perbankan raksasa mendominasi daftar emiten yang paling banyak dilepas oleh investor global.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat sebagai saham yang paling banyak dijual asing dengan nilai mencapai Rp 67,3 triliun di pasar reguler sejak awal tahun. 

Disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 36,8 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 35 triliun, serta PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 10,3 triliun.

Selain sektor perbankan, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga tak luput dari tekanan, dengan nilai jual bersih asing mencapai Rp 32,2 triliun.

Analis menilai, derasnya arus keluar dana asing ini bukan sekadar dipengaruhi faktor musiman seperti pembagian dividen. 

Lebih dari itu, terdapat kombinasi faktor global dan domestik yang membuat pasar saham Indonesia dinilai kurang menarik dibandingkan negara lain.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyebut kondisi ini berkaitan dengan isu struktural seperti ketidakpastian free float, daftar saham high concentration list (HSC), serta menurunnya daya tarik likuiditas pasar.

“Inti masalahnya adalah Indonesia tampak “kalah menarik” secara relatif. Ini bukan karena fundamentalnya jelek, tapi karena investability dan liquidity story yang dipertanyakan,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (23/4/2026).

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, tekanan outflow asing saat ini merupakan kombinasi dari beberapa faktor.

“Sebut saja, kekhawatiran terkait status pasar Indonesia di indeks global seperti MSCI, ketidakpastian soal waktu dan bentuk final rebalancing, serta dinamika global seperti arah suku bunga dan risk appetite terhadap emerging market secara umum,” ungkapnya kepada Kontan, Kamis (23/4/2026).

Sumber: Kontan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved