Harga BBCA Turun Tajam Sepanjang 2026, Foreign Outflow Jadi Beban Saham BCA

Harga saham BBCA masih tertekan sepanjang 2026 akibat derasnya foreign outflow dan naiknya risk premium Indonesia.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Abdul Rosid
https://karir.bca.co.id/
BCA - Harga saham BBCA masih tertekan sepanjang 2026 akibat derasnya foreign outflow dan naiknya risk premium Indonesia. 

TRIBUNBANTEN.COM -Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih berada dalam tekanan sepanjang 2026. 

Derasnya arus keluar dana asing atau foreign outflow menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut.

Meski fundamental BCA dinilai tetap solid, sentimen negatif pasar membuat saham BBCA belum mampu keluar dari tren pelemahan. 

Investor asing terus melakukan aksi jual di tengah meningkatnya risk premium Indonesia dan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global.

Baca juga: Prospek IHSG Awal Juni 2026: Waspada Koreksi, Cermati Sentimen Global dan Domestik

Pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026), saham BBCA berada di level Rp 5.825 per saham atau naik 2,19 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Namun secara mingguan saham ini masih terkoreksi 2,51 persen.

Bahkan, secara year to date (ytd), harga saham BBCA telah merosot hingga 27,86 persen. Penurunan tersebut menjadikan BBCA sebagai salah satu saham perbankan yang paling tertekan sepanjang tahun ini.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan mengatakan pelemahan saham BBCA lebih banyak dipicu faktor eksternal dibandingkan penurunan kinerja fundamental perusahaan.

Menurutnya, BBCA menjadi salah satu saham yang paling sensitif terhadap foreign outflow karena memiliki tingkat likuiditas tinggi dan porsi kepemilikan investor asing yang besar.

"BBCA merupakan salah satu saham dengan porsi kepemilikan asing yang besar dan sangat likuid, sehingga ketika terjadi foreign outflow, saham ini biasanya menjadi salah satu yang paling terdampak," ujar Ekky kepada Kontan.co.id, Selasa (2/6/2026). 

Ia mencatat, sepanjang April 2026 saham BBCA sempat turun lebih dari 9 persen ke kisaran Rp 5.850 per saham, sejalan dengan tekanan jual investor asing pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. 

Selain itu, sentimen terhadap sektor perbankan juga masih tertahan setelah sejumlah lembaga pemeringkat memberikan catatan terhadap risiko Indonesia. 

Salah satunya adalah Moody's yang merevisi outlook lima bank besar nasional, termasuk BCA, menjadi negatif setelah outlook sovereign Indonesia juga diturunkan.

"Jadi tekanan pada BBCA bukan karena fundamentalnya memburuk, melainkan kombinasi foreign outflow, kenaikan risk premium Indonesia, dan penyesuaian valuasi sektor perbankan oleh pasar," jelasnya. 

Padahal, dari sisi kinerja, BCA masih mencatatkan pertumbuhan yang positif. Pada kuartal I 2026, laba bersih BCA naik 3,8 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp 14,7 triliun. 

Penyaluran kredit tumbuh 5,6 persen yoy menjadi Rp 994 triliun, sementara dana murah atau current account saving account (CASA) tetap kuat di level Rp 1.089 triliun.

Meski demikian, menurut Ekky, pertumbuhan laba tersebut belum cukup menjadi katalis kuat bagi saham BBCA

Pasalnya, investor saat ini lebih memperhatikan risiko perlambatan ekonomi, tekanan margin bunga bersih (NIM), serta potensi memburuknya kualitas aset di sektor perbankan. 

"Fundamental BBCA masih sangat sehat, tetapi pertumbuhan laba belum terlalu agresif sehingga belum mampu menjadi katalis utama di tengah sentimen pasar yang masih berhati-hati," katanya. 

Untuk prospek ke depan, Ekky menilai valuasi BBCA saat ini sudah jauh lebih menarik setelah mengalami koreksi yang cukup dalam. 

Namun, pemulihan harga saham masih sangat bergantung pada kembalinya aliran dana asing ke pasar saham Indonesia. 

Menurutnya, dalam jangka pendek pergerakan saham BBCA masih akan cenderung volatil dan lebih dipengaruhi faktor teknikal. 

Oleh karena itu, investor perlu menunggu konfirmasi masuknya kembali dana asing sebelum mengharapkan pembalikan arah yang lebih kuat. 

"Target terdekat BBCA berada di area Rp 6.500 hingga Rp 6.700. Jika sentimen membaik dan dana asing kembali masuk, ada peluang menuju level Rp 7.700 per saham," ujarnya. 

Ekky merekomendasikan investor jangka panjang untuk mulai melakukan akumulasi secara bertahap atau buy on weakness mengingat fundamental perseroan masih kuat. 

Sementara bagi trader jangka pendek, ia menyarankan untuk menunggu sinyal pembalikan tren yang lebih jelas. 

"Risiko utamanya adalah jika foreign outflow masih berlanjut dan saham gagal bertahan di area support bawah," tutupnya.

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved