Aurelie Moeremans Tak Menyangka Broken Strings Ramai Diperbincangkan, Terima Pro-Kontra yang Muncul

Apapun responsnya, Aurelie mengaku menerima itu semua sebagai bagian dari proses yang harus dihadapi setelah memutuskan merilis itu.

Tayang:
Editor: Vega Dhini
Kolase Tribun Banten/Instagram @aurelie
Tangkapan layar Instagram @aurelie, Senin (12/1/2026). Nama Aurelie Moeremans belakangan menjadi sorotan setelah merilis buku berjudul Broken Strings. 

TRIBUNBANTEN.COM - Nama aktris Aurelie Moeremans belakangan menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Hal ini buntut e-book berjudul "Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth" yang dirilis Aurelie Moeremans.

Buku yang berisi kisah kelam masa remaja Aurelie Moeremans ini viral hingga menimbulkan berbagai respons dari warganet.

Seolah membuka kembali luka masa lalu, Aurelie Moeremans mencoba mengungkapkan perjuangannya yang sempat menjadi korban grooming.

Grooming adalah proses pendekatan dan manipulasi yang dilakukan seseorang untuk membangun kepercayaan dengan korban yang sering kali anak atau remaja, dengan tujuan eksploitasi seksual.

Banyak pujian yang menghampiri Aurelie Moeremans atas keberaniannya mengungkap sisi kelas masa lalunya melalui buku tersebut.

Dukungan-dukungan didapatkan Aurelie Moeremans dari berbagai kalangan, termasuk dari para artis.

Namun selain dukungan, buku yang dirilis Aurelie Moeremans juga memicu perdebatan.

Terdapat segelintir orang yang menganggap buku itu sebagai sebuah masalah dan mempermasalahkannya.

Menanggapi hal tersebut, Aurelie mengaku sama sekali tidak menyangka bahwa buku yang awalnya ia kira akan dibaca secara terbatas justru berkembang menjadi perbincangan nasional.

"Jujur aku tidak menyangka," kata Aurelie Moeremans kepada Tribunnews.com, Rabu (14/1/2026).

"Awalnya aku pikir buku ini akan dibaca secara terbatas," sambungnya.

Namun seiring berjalannya waktu, buku yang dirilis tahun 2025 kemarin itu mendapat respon yang justru jauh lebih besar dari ekspektasinya. 

Diskusi, dukungan, hingga perdebatan bermunculan, terutama setelah buku tersebut mudah diakses dalam format digital.

Meski tinggal di Amerika, Aurelie tahu betul apa yang terjadi di Indonesia saat ini ketika banyak orang membicarakan bukunya.

Apapun responsnya, Aurelie mengaku menerima itu semua sebagai bagian dari proses yang harus dihadapi setelah memutuskan merilis itu.

"Tapi ternyata responsnya besar sekali. Ada dukungan, ada juga polemik, dan itu aku terima sebagai bagian dari proses," ujarnya.

Aurelie memilih untuk tidak terlarut dalam kontroversi yang muncul.

Ia melihat pro dan kontra sebagai konsekuensi dari keberanian membuka kisah personal ke ruang publik, apalagi dengan topik sensitif seperti child grooming.

Tersentuh dengan Respon Positif 

Di tengah riuhnya perdebatan, Aurelie justru lebih terfokus pada dampak positif yang ia rasakan secara langsung dari para pembaca. 

Beragam pesan dari orang-orang yang pernah merasakan hal serupa membuat Aurelie tersentuh, sebab ia mengatakan tujuan utama buku itu dirilis adalah untuk membantu orang-orang yang mengalami hal serupa dengannya.

"Yang paling menyentuh buat aku adalah ketika perempuan muda dan orang tua bilang mereka merasa terbantu," tuturnya.

"Itu bikin semua ketakutan di awal terasa sepadan," ungkap Aurelie.

Sejak awal Aurelie membebaskan orang-orang mengakses bukunya itu yang dirilis secara digital. 

Namun belakangan ketika muncul polemik, link untuk mengakses buku digital Aurelie mendadak tak bisa diakses.

Buku itu sendiri berisikan cerita kelam masa lalu Aurelie Moeremans di usia 15 tahun ketika dirinya mengalami child grooming oleh seseorang yang namanya disamarkan menjadi 'Bobby'.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved