virus corona
Indonesia Kembangkan Vaksin Virus Corona, Anggarkan Rp20 Miliar
Kemenristek-BRIN telah membentuk sebuah konsorsium yang akan berupaya membuat vaksin untuk penangkal Covid-19 atau virus corona.
Organ dan bagian tubuh seperti rongga mulut, jantung, saluran pencernaan (usus halus dan usus besar) dan ginjal termasuk dalam kategori risiko tinggi terhadap infeksi SARS-CoV-2, temuan yang dapat menjelaskan adanya gejala non-pernafasan pada Covid-19.
Herbal Indonesia berpotensi cegah corona
Negara yang kaya akan tumbuhan-tumbuhan bisa dimanfaatkan sebagai obat herbal. Indonesia memiliki riwayat yang panjang dalam pemanfaatan tumbuhan untuk pengobatan berbagai macam penyakit secara turun temurun.
Namun, Covid-19 merupakan jenis penyakit baru sehingga belum ada riwayat pengobatan di dunia ini termasuk Indonesia yang memanfaatkan tumbuhan.
Beberapa tumbuhan Indonesia mengandung senyawa-senyawa yang berpotensi aktif sebagai agen untuk menghambat infeksi maupun replikasi SARS-CoV-2 berdasarkan aktivitasnya pada target-target terapi yang relevan.
Senyawa-senyawa berpotensi aktif tersebut merupakan senyawa yang terdapat dalam tumbuhan Indonesia setidaknya memiliki aktivitas pada target terapi di level in vitro.
Tumbuhan-tumbuhan Indonesia
Kedua akademisi dari Center for Natural Antiinfective Research/CNAIR, dan Departemen Biologi Farmasi, Fakultas Farmasi UGM menjelaskan beberapa tumbuhan Indonesia dan senyawanya yang berpotensi untuk dikembangkan dalam penanggulangan Covid-19 atau cegah corona:
1. Tumbuhan yang berpotensi mengambat interaksi reseptor ACE2 dengan protein S
Untuk saat ini, ACE2 merupakan reseptor yang berhasil diidentifikasi sebagai pintu masuknya virus SARS-CoV-2 dalam menginfeksi manusia. Reseptor ACE2 ini banyak diekspresikan di paru-paru.
Namun, risiko infeksi ini bisa dicegah atau dikurangi dengan senyawa dari tumbuhan yang mampu mengganggu interaksi tersebut.
Beberapa tumbuhan Indonesia mengandung senyawa yang berpotensi untuk mencegah atau mengurangi infeksi virus ini, yakni: lidah buaya (Aloe vera; daun) dan kelembak (Rheum officinnale; akar).
Pada biji dari tumbuhan genus Cassia, seperti: Cassia alata atau Senna alata (ketepeng kebo), Cassia obtusifolia atau Senna obtusifolia (kacang jawa), Senna alexandrina (jati cina).
Sedangkan tanaman yang banyak mengandung luteolin antara lain: seledri (Apium graveolens, daun dan biji), tapak liman (Elephantopus scaber; daun dan bunga), bawang (Alium cepa; daun) brokoli (Brassica oleracea), cabe hijau (Capsicum annuum; buah), belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi; daun dan buah), jeruk purut (Citrus hystrix; daun), wortel (Daucus carota; umbi).
• Jawaban Peneliti tentang Covid-19 yang Hilang saat Musim Panas
2.Tumbuhan yang berpotensi menghambat aktivitas protease serin
Pada tahap selanjutnya, diperlukan aktivitas enzim protease serin oleh TMPRSS2 (sebuah glikprotein transmembran) yang memungkinkan virus untuk melebur dan masuk ke dalam sel target untuk memulai infeksinya.
Penghambatan aktivitas protease serin ini merupakan target dalam pencegahan infeksi virus.
Senyawa yang menghambat protease pada residu serin (serine protease inhibitor, selanjutnya disebut sebagai SPI) diperkirakan bisa menjadi kandidat obat yang baik untuk menghentikan siklus hidup virus.
Tumbuhan keluarga polong-polongan (Fabaceae, Poaceae, dan Solanaceae) merupakan sumber penghasil SPI yang utama dari tumbuhan.
Contoh tumbuhan suku polong-polongan yang bijinya mengandung SPI adalah: kacang tanah (Arachis hypogaea), kedelai (Glycine max), buncis (Phaseolus vulgaris), kapri (Pisum sativum), orok-orok (Crotalaria juncea).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/ilustrasi-vaksin.jpg)