Virus corona

Hasil Riset: Banten dan Provinsi Ini Paling Tidak Siap Hadapi Ledakan Puncak Corona

Jawa Barat dan Banten dinilai sebagai provinsi paling tidak siap menghadapi ledakan puncak virus corona yang diprediksi terjadi pada April-Mei 2020.

Tayang:
Editor: Abdul Qodir
(KOMPAS.COM/ACEP NAZMUDIN)
Situasi di RSUD Banten sepi setelah ditetapkan sebagai RS khusus corona atau Covid-19 di Provinsi Banten, Rabu (25/3/2020). 

TRIBUNBANTEN.COM, JAKARTA - Pandemi virus corona atau Covid-19 kian meluas ke sejumlah wilayah Indonesia, termasuk ke wilayah sekitar episenter corona DKI Jakarta.

Riset Katadata Insight Center (KIC) mengungkap, terdapat tiga provinsi di Indonesia, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, yang paling rentan terhadap penyebaran virus mematikan itu.

Namun, Jawa Barat dan Banten dinilai sebagai provinsi yang paling tidak siap menghadapi ledakan puncak virus corona yang diprediksi terjadi pada April hingga Mei 2020.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Riset Katadata, Mulya Amri dalam acara Press Briefing "Siapkah Daerah Menghadapi Pandemi: Peluncuran Indeks Kerentanan Provinsi terhadap Covid-19" di Jakarta, Jumat (3/4/2020).

Penyebabnya, kata Mulya, kurang memadainya kondisi layanan kesehatan di Jawa Barat dan Banten.

Padahal, keduanya merupakan provinsi terdekat dengan DKI Jakarta sebagai wilayah dengan penyebaran corona terbesar di Indonesia.

"Konektivitas ketiga provinsi ini sangat baik sehingga menyebabkan mobilitas penduduk sangat tinggi. Ini berpotensi menyebarkan virus dari DKI ke dua provinsi tersebut," kata Mulya.

Update Corona: Pasien Bertambah 106 Orang Tersebar di 9 Provinsi, termasuk Banten

3 Dokter Meninggal Hari ini karena Covid-19, Satunya dari Tangsel, Total Sudah 18 Dokter Meninggal

Berdasarkan riset KIC, DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat merupakan provinsi dengan tingkat kerentanan paling tinggi terhadap Covid-19. Ketiganya masing-masing memiliki indeks 47.05, 45.54, dan 43.59.

Meski memiliki indeks kerentanan tertinggi, kondisi layanan kesehatan DKI Jakarta merupakan yang paling baik di antara seluruh provinsi Indonesia.

Sementara, Jawa Barat dan Banten merupakan provinsi yang kondisi layanan kesehatannya sangat memerlukan perhatian.

Jawa Barat juga menduduki posisi paling bawah dalam skor kondisi layanan kesehatan dari 34 provinsi di Indonesia. "Banten dan Jawa Barat rentan, tapi kondisi layanan kesehatannya sangat tertekan atau kurang memadai. Ini menjadi perhatian kita," ujarnya.

Jumlah total kasus yang terinfeksi virus corona (Covid-19) bertambah menjadi 686 kasus dan peta sebaran di Indonesia ada di 24 Provinsi.
Jumlah total kasus yang terinfeksi virus corona (Covid-19) bertambah menjadi 686 kasus dan peta sebaran di Indonesia ada di 24 Provinsi. (www.covid19.go.id)

Oleh sebab itu, Mulya menyarankan agar pemerintah bisa lebih responsif, agar kedua provinsi tersebut bisa menghadapi peningkatan jumlah pasien corona.

"Bahkan perlu ada langkah antisipasi kondisi yang lebih buruk lagi," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng Faqih juga memgimbau pemerintah pusat agar lebih sigap mengatur anggaran penanganan Covid-19.

"Regulasi harus dibuat lebih cepat agar pembagian anggaran ke seluruh daerah juga bisa lebih cepat," kata Daeng.

Percepatan alokasi anggaran tersebut, dimaksudkan agar daerah dapat segera meningkatkan fasilitas medis yang ada dalam menangani pandemi, termasuk di Jawa Barat dan Banten yang rentan terhadap penyebaran virus.

Pemerintah telah menganggarkan tambahan belanja penanggulangan Covid-19 sebesar Rp 405,1 triliun.

Tambahan belanja tersebut diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 tahun 2020.

Namun, Perppu tersebut belum bisa dijalankan karena masih menunggu persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Perppu juga baru diserahkan pemerintah kepada pimpinan DPR kemarin sore. (larasati/tribunnetwork/cep)

Faktor Penyebab

Riset Katadata Insight Center (KIC) mengungkap, provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, paling rentan menghadapi penyebaran virus corona.

"Skor indeks kerentanan provinsi cukup bervariasi. Provinsi DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat sebagai provinsi yang paling rentan," ujar Mulya.

Ketiga provinsi tersebut kerentannya lebih tinggi dibandingkan provinsi lainnya seperti Kepulauan Riau.

Kerentanan tiga provinsi tersebut terbentuk berdasarkan sub indeks atau bagian yang membentuk indeks utama. Di antaranya risiko mobilitas penduduk, risiko kesehatan penduduk, serta risiko karakteristik daerah.

"Risiko kesehatan penduduk, misalnya seberapa banyak orang yang sakit disana dan seberapa banyak masyarakat yang bisa mengakses layanan kesehatan di provinsi tersebut, seberapa banyak kalangan Lansia yang ada disana," ujar Mulya Amri.

"Kalau risiko karakteristik daerah terkait seberapa banyak penduduk, seberapa padat daerah itu, seberapa baik kondisi udaranya dan apakah masyarakat memiliki hunian yang layak disana," lanjutnya.

BREAKING NEWS: Wakil Jaksa Agung Arminsyah Meninggal dalam Kecelakaan di Tol Jagorawi

Wakil Jaksa Agung Arminsyah Meninggal Jelang Pensiun, Ini Profil dan Pegangan Hidupnya

Dari ketiga analisis tersebut ditemukan faktor mobilitas penduduk adalah faktor yang penting dan berperan besar dalam menentukan kerentanan penyebaran virus corona di tiga provinsi tersebut.

Direktur riset Katadata itu juga menyebut sejumlah hal yang membuat suatu daerah siap dalam menghadapi wabah Covid-19 dari sisi layanan kesehatan.

Beberapa faktor di antaranya terdiri dari fasilitas kesehatan, keberadaan tenaga kesehatan, dan anggaran kesehatan per provinsi.

Periset menemukan DKI Jakarta memiliki kondisi layanan kesehatan yang relatif lebih baik atau memadai dibanding provinsi lain.

Sedangkan kondisi pelayanan kesehatan provinsi lain seperti Jawa barat, Banten dan Lampung akan tertekan oleh tingginya permintaan.

Dari 2 Orang Tembus 2.000 Orang

Kali pertama kasus virus corona muncul di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China pada Desember 2019, hingga satu provinsi tersebut sempat dilakukan penyekatan atau lockdown. 

Virus mematikan itu menyebar secara masif ke sejumlah wilayah China lainnya dan merembet ke banyak negara lainnya.

Kini, virus corona telah menyebar di lebih 200 negara dan sudah lebih 1 juta orang terjangkit virus yang belum ditemukan vaksinnya itu.

Di Indonesia, kali pertama kasus virus corona diumumkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2 Maret 2020.

Saat itu, Presiden Jokowi menyampaikan ada warga di Indonesia positif terjangkit virus corona.  Kedua orang ini sempat berinteraksi dengan warga negara Jepang yang lebih dahulu dinyatakan positif terjangkit corona.

"Seorang ibu yang umurnya 64 tahun dan putrinya yang berumur 31 tahun dicek oleh tim kita. Ternyata pada posisi yang sakit. Dicek, dan tadi pagi saya mendapatkan laporan dari Pak Menkes bahwa ibu ini dan putrinya positif corona," ujar Jokowi di Istana Merdeka, Senin (2/3/2020).

Presiden Jokowi dalam konferensi pers, Selasa (31/3/2020) di Istana Bogor. Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa pemerintah memutuskan Status Kedaruratan Kesehatan untuk Indonesia serta menerbitkan PP Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Presiden Jokowi dalam konferensi pers, Selasa (31/3/2020) di Istana Bogor. Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa pemerintah memutuskan Status Kedaruratan Kesehatan untuk Indonesia serta menerbitkan PP Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) (Kompas TV)

Dan pada Sabtu (4/4/2020), Juru bicara penanganan virus corona Achmad Yurianto mengungkapkan jumlah warga di Indonesia yang positif corona terus bertambah dan sudah tembus 2.000 orang atau tepatnya 2.092 orang.

"Kita masih prihatin masih terjadi penambahan kasus untuk konfirmasi positif 106 kasus, sehingga menjadi 2.092 kasus konfirmasi positif dengan tes menggunakan molekuler," ujar Yuri.

Selain itu, jumlah kematian akibat virus corona juga terus bertambah menjadi 191 orang.

Kabar baiknya, terdapat 150 orang pasien positif corona yang sembuh. "Kita bersyukur bahwa ada 16 saudara kita yang sudah sembuh dengan pemeriksaan negatif dan 2 kali berturut turut, sehingga bisa dipulangkan, total menjadi 150 orang," jelasnya.

"Mereka yang sudah sembuh ini kondisinya bagus dan tidak perlu dikhawatirkan lagi untuk menularkan penyakit. Bahkan kita yakini yang 150 orang ini telah sembuh dan memiliki imunitas atau kekebalan terhadap virus Covid-19," tandasnya.

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved