Virus Corona di Banten
Warga Satu Kampung Mengungsi Tengah Malam Karena Takut Di-rapid Test
Bahkan, beberapa warga yang tengah terbaring sakit ikut dipaksa anggota keluarganya untuk meninggalkan rumah.
TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Keheningan malam di Kampung Masigit, Kelurahan Mesjid Priyayi, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, pecah setelah ratusan warga di kampung itu berbondong-bondong meninggalkan tempat tinggal mereka.
Mereka khawatir dengan rencana tes cepat atau rapid test Covid-19 yang akan digelar pemerintah setempat.
Seorang warga setempat, sebut saja namanya Andi menceritakan, para warga yang didominasi ibu-ibu dan anak-anak tampak panik dan berhamburan meninggalkan rumah masing-masing pada sekitar pukul 02.00 WIB.
Ada yang berjalan kaki cepat, naik sepeda motor, dan banyak juga para ibu yang berteriak-teriak memanggil tukang ojek.
Bahkan, beberapa warga yang tengah terbaring sakit ikut dipaksa anggota keluarganya untuk meninggalkan rumah.
"Sekarang ini tersisa para pemuda dan bapak-bapak saja untuk berjaga. Kalau yang anak-anak, perempuan dan yang sakit sudah diungsikan," ujar Andi saat dihubungi.
"Ada lebih dari seratus yang mengungsi, sekitar 70 persen warga di Kampung Masigit sudah mengungsi," sambungnya.
• Lagi, 2 Tenaga Medis di Kota Serang Tertular Virus Corona
Ia mengungkapkan ratusan warga tempat tinggalnya panik setelah beredar informasi akan adanya rapid test massal yang dapat menjadikan mereka menjadi pasien Covid-19 di rumah sakit.
"Memang ada informasi bahwa di sini akan ada rapid test pada Senin pagi. Tapi, ternyata jam 2 sampai jam 3 subuh itu warga pada kabur. Ada yang ke rumah saudaranya di Ciceri, pokoknya pergi dari rumahnya," ujarnya.
Sepengetahuan Andi, salah satu oknum ketua RT setempat yang meminta agar para perempuan dan anak untuk segera mengungsi ke tempat lain karena akan ada rapid test.
"Isu-isu dari warga, itu memang ada dari pak RT yang bilang perempuan dan anak-anak diungsikan dari sini. Karena mau ada rapid test. Nanti kalau ada yang terindikasi, semuanya nanti dibawa ke rumah sakit," jelasnya.
Ia pun menyesalkan tidak ada perwakilan kelurahan maupun pemerintahan setempat yang menenangkan dan memberikan sosialisasi yang baik ke warga Kampung Masigit.
"Seharusnya ada yang melaskan kepada masyarakat bahwa rapid test ini tidak akan menyengsarakan mereka. Ini demi kebaikan bersama," tuturnya.
"Saya sudah mencoba menenangkan, tapi kan masyarakat tidak peduli, saya bukan siapa-siapa," sambungnya.
• Masyarakat Kota Serang Diajak Gotong-Royong Hadapi Covid-19 hingga Tuntas!
Sementara itu, Camat Kasemen, Gholib Abdul Mutholib mengungkapkan, bukan hanya warga di Kampung Masigit, kepanikan juga terjadi di beberapa kampung lainnya di Kelurahan Mesjid Priyayi.
Menurut Gholib, hal tersebut dikarenakan masyarakat masih belum tersosialisasikan dengan baik bahwa rapid test merupakan upaya dari pemerintah untuk mencegah terjadinya penyebaran Covid-19.
"Yah kalau dari kecamatan atau kelurahan itu enggak ada. Soalnya itu kan masalah kesehatan, jadi harus orang yang benar-benar dari Dinas Kesehatan yang melakukan sosialisasi," kata dia.
"Kalau dari kami kan khawatir tidak benar sosialisasinya. Tapi, kalau sosialisasi pengumuman dari pemerintah, itu pasti kami teruskan hingga RT," sambungnya.
Terkait oknum RT yang diduga memprovokasi warga Kampung Masigit untuk mengungsi, ia menduga itu semata khawatir wilayahnya dicap daerah penyebaran virus corona jika ada yang positif Covid-19 dari rapid test.
"Jadi mereka takut, nanti terkesan bahwa wih ini orang Priyayi nih tempat Corona. Jadi, menjaga image begitu. Khawatir warga Masjid Priyayi kalau keluar itu disangka, ini orang yang terkena Covid-19," jelasnya. (*)
(Tribuners/Martin Ronaldo Pakpahan)