Tak Kunjung Diterima Sekolah, Lima Pelajar Kabupaten Tangerang Mengadu ke LBH
Mereka menyatakan telah mendaftar diri ke SMAN 20 Tangerang pada saat pelaksanaan PPDB online dua bulan lalu.
TRIBUNBANTEN.COM - Lima pelajar asal Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten, bersama orang tua mengadu ke LBH SIKAP Banten, Sumurpecung, Kota Serang, Rabu (12/8/2020).
Mereka mengadukan nasibnya yang tak kunjung bersekolah sejak dua bulan mengikuti seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru ( PPDB) di SMAN 20 Tangerang.
Kelima pelajar tersebut bernama Iryansyah asal Desa laksana, Lala Amanda dan Gina Lusiana Hidayat asal Desa sukawali, serta Warningsih dan Lisnawati asal Desa Surya Bahari.
Mereka menyatakan telah mendaftar diri ke SMAN 20 Tangerang pada saat pelaksanaan PPDB online dua bulan lalu.
Mereka menempuh jalur zonasi, afirmasi dan prestasi.
Namun, hingga tahun ajaran baru dimulai, mereka tak kunjungan kabar kelulusan dari SMA tersebut.
• Gubernur Banten Bicara PPDB: Warga yang Menemukan Pungli, Bisa Melapor ke Kami
Zaenal, orang tua dari Lala, menceritakan jika anaknya sejak lama berkeinginan masuk ke SMAN 20 Tangerang.
"Namun setelah mendaftar online tidak diterima oleh sekolahnya. Padahal, jarak sekolah dari rumah kami ada 6 kilometer," ujar Zaenal.
Ia selaku orang tua belum mengerti PPDB online lewat jalur zonasi yang memprioritaskan calon peserta didik di sekitar sekolah.
Namun, ia mengakui sempat meminta bantuan seorang guru di SMA tersebut untuk penerimaan anaknya.
"Saya enggak tahu (jalur zonasi) itu," aku Zaenal.
"Intinya, saya waktu itu minta tolong kepada ibu guru, namanya Lilis. Jadi, setelah ditolong oleh Ibu Lilis. (Tapi), orang bagian penerimaan di sana (SMAN 20 Tangerang), namanya Pak Edi, selaku panitia penerimaan, dipecat," imbuhnya.
Zaenal mengaku kesal karena tak mendapatkan kepastiaan diterima atau tidak anaknya dari pihak SMA tersebut setelah menunggu dua bulan. Padahal, jarak rumahnya dengan SMAN 20 Tangerang terbilang dekat.
Orang tua anak lainnya, Wahyudi menilai pelaksanaan PPDB online kali ini tidak sinkron. Sebab, yang dia ketahui semula kuota penerimaan siswa di SMA tersebut sebanyak 288 orang dalam 8 romble.
Selain itu, ada tambahan dua romble sehingga total 10 romble.
"Iya atas intruksi gubernur dan dindikbud jadi ditambah 2 romble lagi, harusnya kuota itu 288," ucap Wahyudi.
Ia mengaku kecewa karena anaknya tak juga diterima di SMA itu meski ada tambahan romble.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/lima-pelajar-mengadu-ke-lbh.jpg)