Kampung Palas Cilegon, Sentra Industri Kasur dan Bantal yang Tetap Bertahan di Era Modern

Sungguh mulia niat Mahdi Maksudi. Hal ini, karena Mahdi Maksudi memberdayakan warga di sekitar tempat tinggalnya berusaha.

Penulis: Khairul Maarif | Editor: Glery Lazuardi
TRIBUNBANTEN/KHAIRULMAARIF
Kampung Palas RW 01 menjadi wilayah paling dikenal sebagai sentra pengrajin kasur dan bantal di Kelurahan Bendungan, Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon, Banten. 

TRIBUNBANTEN.COM, CILEGON - Sungguh mulia niat Mahdi Maksudi.

Hal ini, karena Mahdi Maksudi memberdayakan warga di sekitar tempat tinggalnya berusaha.

Mahdi Maksudi bertempat tinggal di Jalan KH. Abdul Latief Kampung Palas RW 01.

Kampung Palas RW 01 menjadi wilayah paling dikenal sebagai sentra pengrajin kasur dan bantal di Kelurahan Bendungan, Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon, Banten.

"Di sini yang memulai pertama saya, awalnya bantuin orang tua tapi saya lanjutin," ujarnya kepada TribunBanten.com, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (20/2/2021).

Baca juga: Bangun Sekolah untuk Anak Kurang Mampu, Warga Lebak Malah Jadi Korban Penipuan Kini Usaha Kerajinan

Baca juga: Santri Ponpes Riyadul Ulum Banten Merintis Usaha Tanaman Hidroponik, Upaya Kreatif di Masa Pandemi

Mahdi Maksudi memulai usaha sejak 1977.

Pengrajin di kampung itu menggunakan rumahnya sebagai tempat produksi kasur dan bantal.

Setidaknya ada 36 pengrajin yang tersebar di wilayah tersebut.

Para pengrajin tersebar di pinggir jalan atau ada juga yang di dalam gang.

Pria 60 tahun ini mengaku usaha kasur dan batal dilakukan, karena kampung ini banyak ditumbuhi pohon kapuk.

Kampung Palas RW 01 menjadi wilayah paling dikenal sebagai sentra pengrajin kasur dan bantal di Kelurahan Bendungan, Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon, Banten.
Kampung Palas RW 01 menjadi wilayah paling dikenal sebagai sentra pengrajin kasur dan bantal di Kelurahan Bendungan, Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon, Banten. (TRIBUNBANTEN/KHAIRULMAARIF)

"Setiap kali panen pohonnya dijadikan kasur dan bantal atau ada juga yang membeli kapuknya saja," ujar pria berkacamata hitam ini.

Bapak 10 anak itu menceritakan usaha yang dirintisnya dapat menyuplai ke beberapa toko meubel.

"Kebanyakan masih wilayah Banten saja, paling jauh ke Jasinga, Bogor," ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, usaha miliknya tidak hanya terpaku pada pembuatan kasur kapuk.

Pada 1991, dia mulai menggunakan limbah spring bed sebagai bahan baku pembuatan kasur.

Sumber: Tribun Banten
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved