Permintaan Gerabah Kowi Bumijaya Serang Tetap Stabil di Tengah Pandemi
Para perajin gerabah masih menggunakan teknik tradisional yang sudah diwarisi secara turun-temurun.
Penulis: desi purnamasari | Editor: Abdul Qodir
Laporan Wartawan TribunBanten.com, Desi Purnamasari
TRIBUNBANTEN.COM, KABUPATEN SERANG - Tumpukan gerabah tersusun berbaris rapi di halaman rumah masing-masing warga di Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, Sabtu (12/6/2021).
Pemandangan itu ada di sentra pembuatan gerabah Bumijaya Ciruas.
Abah Maksudi, salah satu perajin di sentra gerabah Bumijaya di Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, Sabtu (12/6/2021).
Gerabah merupakan salah satu seni kriya yang sudah dikenal sejak dahulu kala. Namun seiring berkembangnya zaman para pembuat gerabah kini semakin berkurang.
Para perajin gerabah masih menggunakan teknik tradisional yang sudah diwarisi secara turun-temurun.
Abah Maksudi, salah satu perajin sekaligus pemilik usaha gerabah mengatakan usaha gerabah tersebut sudah ia tekuni secara turun-temurun.
"Sudah dari zaman nenek moyang saya kalau usaha ini, sejak kecil saya sudah dikenalkan dengan pembuatan gerabah ini," ujarnya kepada TribunBanten.com di lokasi, Sabtu (12/6/2021).
Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Sanggar Embun Serang, Tempat Kreativitas Seni Rupa Pendobrak Seniman Urakan
Ia menuturkan sentra gerabah Bumijaya adalah sentral gerabah satu-satunya yang berada di Kabupaten Serang sejak dahulu.
"Saya tidak tahu tepat untuk tahunnya hanya memang sejak zaman Kesultanan Banten disini sudah menjadi sentral pembuatan gerabah," katanya.
Selain itu pria kelahiran 1955 ini pun menceritakan dahulu mayoritas penduduk di Bumijaya merupakan perajin gerabah.
Dan pada saat berkunjung ke Bumijaya akan terlihat tumpukan gerabah di setiap halaman rumah dan terdengar suara pembuatan gerabah yang khas.
"Rame dulu di sini banyak juga yang berkunjung, terus nantinya akan mendengar suara khas dari pembuat gerbaha seperti toktoktok," katanya.
Baca juga: Mengenal Masyarakat Baduy via Buku Gerimis di Tanah Titipan Kanekes dan Pameran Seni di Perpusnas
Selain itu, Abah Maksudi pun menuturkan Desa BumiJaya sering dikunjungi oleh warga asing yang datang untuk sekedar belajar membuat gerabah bahkan membelinya.
"Semenjak adanya pandemi ini aja sepi, kiriman juga berkurang karena disananya juga masih banyak setoknya," ujar pria berusia 66 tahun tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/tumpukan-gerabah-di-sentra-gerabah-bumijaya-ciruas-kabupaten-serang.jpg)