Dari 142 Pesawat, Tersisa 40-60 Unit, Garuda Indonesia Sepi Terbang, Wamen BUMN: Banyak Komplain
Belakangan kami banyak mendapatkan komplain karena flight Garuda Indonesia makin langka
Pada tahun 2019, emiten berkode saham GIAA tersebut sebetulnya sudah dapat menghasilkan keuntungan dari rute domestik meski merugi di rute internasional.
Saat itu, Garuda masih bisa meraih keuntungan senilai 240 juta dolar AS.
Namun, pandemi Covid-19 menjadi pemicu yang disebut Tiko sebagai perfect storm.
Maskapai dengan jenis layanan penuh tersebut harus berjuang dengan cost structure dan pendapatan yang turun signifikan.
Baca juga: Garuda Indonesia Alami Kritis Keuangan, Komisaris Tegaskan Rela Gajinya Tak Dibayar Mulai Mei 2021
Apabila pada 2019 jumlah penumpang GIAA sempat menyentuh 235 juta, kini tertinggal hanya 70 juta orang.
“Ini yang merupakan imbas pengetatan kemudian juga penerapan PCR berdampak ke Garuda. Penumpang saat ini pun hanya 70 juta orang,” ucapnya.
Padahal pada Desember 2020, jumlah penumpang pernah mencapai 100 juta, tetapi kembali turun karena pandemi.
Tiko menyebut, saat ini sulit untuk memprediksi cashflow Garuda karena sangat tergantung dari pemulihan kondisi Covid-19.
“Jadi kalau ditanyakan Garuda ini kinerjanya turun karena apa karena pandemi atau karena korupsi? Dua-duanya Covid-19 dan korupsi,” katanya.
Baca juga: Garuda Indonesia Miliki Tunggakan Gaji Karyawan Rp 328 Miliar Hingga Pesawat Hanya Tinggal 53 Unit
Tiga Skema
Ada tiga skema restrukturisasi yang disiapkan Garuda, yaitu:
Pertama, Garuda akan mengurangi jumlah pesawat dari 202 armada pada 2019 menjadi 134 pada 2022.
Pengurangan jumlah armada ini sejalan dengan pemangkasan rute serta tipe pesawat.
Garuda akan berfokus menerbangi rute potensial dalam negeri.
Dari sisi jenis pesawat, Garuda akan bakal memangkas armadanya dari total 13 jenis menjadi hanya tujuh jenis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/moncong-di-pesawat-garuda-1.jpg)