Sri Lanka Bangkrut, Pengiriman Uang dari Pekerja Migran Jadi Sumber Utama Devisa Negara

Sri Lanka saat ini tengah mengalami kebangkrutan akibat adanya gejolak ekonomi. Kini Sri Lanka bergantung pada pengiriman uang dari pekerja migran.

Editor: Abdul Rosid
AFP
Pekerja migran yang merupakan warga Sri Lanka 

TRIBUNBANTEN.COM - Sri Lanka saat ini tengah mengalami kebangkrutan akibat adanya gejolak ekonomi.

Gejolak ekonomi di Sri Lanka tidak lain akibat pandemi Covid-19 yang menghantam selama dua tahun terakhir.

Kini Sri Lanka bergantung pada pengiriman uang dari pekerja migran.

Karena, bagaimana pun uang dari pekerja migran menjadi sumber utama devisa negara.

Akan tetapi, Sri Lanka mengurangi usia minimum wanita untuk diizinkan bekerja di luar negeri atau menjadi pekerja migran, menjadi 21 tahun.

Baca juga: Rusia Diterpa Sanksi Ekonomi, Putin Sebut AS Bertindak Seolah Sanksi Itu Dikirim Tuhan ke Bumi

Kebijakan dilakukan di tengah kebangkrutan negara yang sangat membutuhkan aliran masuk mata uang asing.

Selama berbulan-bulan, Sri Lanka kekurangan mata uang asing untuk mengimpor kebutuhan dalam negeri.

Dilansir Arab News, negara Asia Selatan ini bulan lalu gagal bayar utang luar negeri senilai jutaan dolar AS.

Bahkan krisis ekonomi yang terjadi saat ini, dianggap yang terburuk sejak merdeka pada tahun 1948.

Terjadi kelangkaan bahan bakar, makanan, hingga obat-obatan di negara ini.

Inflasi sekarang berjalan di 40 persen.

Sumber arus masuk yang paling penting adalah Timur Tengah, rumah bagi lebih dari 1 juta warga negara Sri Lanka yang mana 66 persen adalah pekerja migran.

Namun, untuk bekerja di Timur Tengah, perempuan sebelumnya diharuskan berusia minimal 23 tahun.

Baca juga: Ingatkan Jika Perang Dunia III Terjadi, Mantan Jenderal Rusia Sebut Inggris akan Lenyap

Batas usia telah diturunkan menjadi 21 tahun, berdasarkan rekomendasi yang dibuat oleh Kementerian Tenaga Kerja Luar Negeri.

Menteri Media Massa, Bandula Gunawardena, mengatakan kepada wartawan bahwa aturan telah dilonggarkan untuk "mendapatkan lebih banyak kesempatan kerja dan menghasilkan lebih banyak dolar untuk negara."

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved