Sri Lanka Bangkrut, Pengiriman Uang dari Pekerja Migran Jadi Sumber Utama Devisa Negara
Sri Lanka saat ini tengah mengalami kebangkrutan akibat adanya gejolak ekonomi. Kini Sri Lanka bergantung pada pengiriman uang dari pekerja migran.
Awal bulan ini, Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengatakan bahwa Sri Lanka akan membutuhkan $5 miliar selama enam bulan ke depan untuk mengatasi gejolak ekonomi.
Pengiriman uang dari Sri Lanka biasanya menghasilkan sekitar $7 miliar setahun, sebelum dilanda pandemi Covid-19 pada tahun 2020.
Selama pandemi, menurun menjadi $5 miliar pada tahun 2021.
Dengan krisis yang makin dalam, diperkirakan tidak lebih dari $3 miliar tahun ini.
Keputusan yang dapat memperluas jangkauan tenaga kerja migran wanita ini disambut baik para agen tenaga kerja.
Baca juga: Rencana Pertemuan Jokowi dan Putin di Moskow Disorot Media Asing: Indonesia Mitra Penting Rusia
"Sebagian besar sponsor yang mempekerjakan pembantu rumah tangga lebih memilih untuk memiliki pembantu muda berusia antara 21 dan 25 tahun karena mereka energik dan hasil kerja mereka jauh lebih banyak daripada wanita tua," kata Saheed Mohamed Jaufer, direktur pelaksana New Kingdom Manpower di Kolombo.
Fawaza Thaha, presiden Asosiasi Wanita Muda Muslim, menilai para wanita muda bisa putus sekolah dengan adanya kebijakan ini.
"Hasilnya adalah gadis-gadis muda meninggalkan studi mereka demi padang rumput yang lebih hijau, yang bukan pertanda sehat bagi negara-negara berkembang seperti Sri Lanka," katanya kepada Arab News
Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe menyatakan bahwa perekonomian negara "benar-benar runtuh".
Bahkan menurutnya, negara sudah tidak mampu membayar impor minyak.
Bicara di hadapan parlemen, PM Wickremesinghe mengatakan Sri Lanka menghadapi "situasi yang jauh lebih serius" daripada kekurangannya saja, dan dia memperingatkan "kemungkinan jatuh ke titik terendah."
"Ekonomi kita benar-benar ambruk," katanya, Rabu (22/6/2022).
Baca juga: Perang Hari ke-117, Rusia Fokuskan Serang Kharkiv, Negara Lituania Terseret Gegara Ikut Campur
Wickremesinghe mengatakan bahwa BUMN di bidang migas Ceylon Petroleum Corporation memiliki utang $700 juta.
Alhasil, negara tidak bisa mengimpor bahan bakar karena hutang besar tersebut.
"Akibatnya, tidak ada negara atau organisasi di dunia yang bersedia menyediakan bahan bakar kepada kita. Mereka bahkan enggan menyediakan bahan bakar untuk uang tunai," kata perdana menteri.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Sri Lanka Bangkrut, Otoritas Setempat Kurangi Batas Usia Wanita untuk Jadi Pekerja Migran
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/sri-lanka.jpg)