Hasil Wangsit, Tabib Harimbi Bangun Makam Ki Joharudin dari Batu Pantai Selatan

Tabib Harimbi yang mengaku sebagai titisan Nabi Khidir mengungkap sejarah pembangunan makam Syekh Abdul Rojak atau Ki Joharudin.

Penulis: mildaniati | Editor: Abdul Rosid

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Mildaniati

TRIBUNBANTEN.COM, KOTA SERANG - Tabib Harimbi yang mengaku sebagai titisan Nabi Khidir mengungkap sejarah pembangunan makam Syekh Abdul Rojak atau Ki Joharudin.

Diketahui, lokasi makam itu berada di The Visenda Residence di jalan Warungjaud, Kaligandu, Kecamatan Serang, Kota Serang.

Menurut Tabib Harimbi, makam Syekh Abdul Rojak atau Ki Joharudin dibangun olehnya menggunakan batu yang berasal dari Pantai Selatan atau Bayah Lebak.

Penggunaan batu yang berasal dari Pantai Selatan tersebut merupakan hasil wangsit yang diterimanya melalui mimpi.

MUI Kota Serang Keluarkan Dasar Hukum Soal Tabib Harimbi yang Ngaku Titisan Nabi Khidir

Pria berusia sekitar 38 tahun itu mengaku, biaya untuk membangun makam berasal dari dana pribadi dan sumbarang dari para kerabat.

"Dana dari pribadi saya dan ada yang sedekah dari para sahabat yang ikhlas ikut menyumbang," ujarnya saat ditemui di makam, Rabu (14/7/2022).

Bangunan itu berbentuk segi empat dengan dipenuhi ornamen batu warna hitam.

Setiap sisinya terlihat limas berbentuk segi tiga.

Di pintu masuk menuju makam, ada dua buah tiang kokoh, tidak terlalu tinggi namun bentuknya limas.

Di sisi kanan bangunan makam terdapat sumur yamg memiliki kedalaman 12 meter lebih.

Sumur itu bernama "nurcahaya-tin", dilengkapi bebatuan.

Pada bagian dalam makam, terdapat satu buah makam dihiasi batu yang konon didapatkan dari Bayah.

Setiap dinding makam tertulis lafadz jalalah, bagian bawahnya tertulis nama Syekh Abdul Rojak.

Di sisi kiri tertulis nama latin Ki Joharudin.

Baca juga: Dapat Wangsit Diusia 12 Tahun, Tabib Harimbi Diperintah Nabi Khidir Sebagai Titisannya

Bagian kanan bangunan utama makam, terdapat kaligrafi bertuliskan Khidir, bagian bawahnya tertulis nama Tabib Harimbi.

Pada pintu masuk, sisi kiri tertulis angka 0 dan sisi kanan tertulis angka satu.

Tidak hanya itu, pada nisan makam tertulis nama lafadz Allah yang sudah dihapus.

Setiap dinding dan kaligrafi serta makam dihiasi bebatuan hitam.

Kata Harimbi, bentuk bangunan inspirasi dari dirinya sendiri.

"Ini mutlak dari tabib sendiri, inspirasinya ada dorongan dari Ki Joharudin ada di qolbu harus batu tempelannya," terangnya.

"Alhamdulillah saya tempelkan batu sesuai keinginan, saya bangun ini ikut juga, selebihnya saya borongkan," sambungnya.

Baca juga: Sosok Tabib Harimbi yang Ngaku Sebagai Titisan Nabi Khidir, Sejak Usia 12 Tahun Sudah Ngobati Pasien

Bangunan sekitar memiliki luas 500 meter, dilengkapi mushola, aula, ruangan tertutup bertulis "Tabib Harimbi", dua buah kamar mandi.

Bagian aula, ada dua buah lemari kaca yang di dalamnya tersimpan jubah hitam dan coklat bertuliskan kaligrafi lafadz Khidir berbentuk bulat dibelakangnya.

"Batunya saya ambil dari Bayah laut, beliau ngasih syarat ke saya untuk ambil batu itu dilaut satu tempat," uturnya.

Jumlah batunya sekitar 1 truk.

Dia dibantu sahabat dan muridnya sekitar 6 orang.

"Batunya sampai setengah truk dibantu sahabat dan murid saya sekitar 6 orang, satu hari ambilnya," jelasnya.

"Saya ambil batu itu tadinya lautnya surut, saat pulang lautnya naik," jelasnya.

Adapun filosofi angka 01 dalam abngunan utama makam adalah tidak ada yang bisa ditunggalkan selain Allah SWT.

Baca juga: Viral Tabib Harimbi Ngaku Titisan Nabi Khidir, Sekda Kota Serang Imbau Masyarakat Tidak Terpengaruh

"Angka satu adalah tidak ada yang saya hebatkan dan tunggalkan kecuali allah, bentuk limas ini pondasi atau tiang yang kokoh," kata Harimbi yang memakai baju hitam, peci hijau, sarung serta sepatu putih.

Dia biasa bermimpi sejak kecil, terkadang mimpinya hadir dalam kurun waktu 3, 5 bulan bahkan satu tahun 3 kali.

"Mimpi dari kecil sekitar 5, 3 bulan sekali bahkan 1 tahun tiga kali," pengakuan pria yang juga sebagai Tabib itu.

Sejak usianya 12 tahun, Harimbi sudah terbiasa mengobati orang sakit.

Obat-obatannya berasal dari fikiran yang terlintas di kepalanya.

"Kalau kitanya fokus dan yakin datang sendiri dari fikirian kaya dedaunan, bisa pakai doa dan air juga," jelasnya.

Sumber: Tribun Banten
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved