Breaking News:

Vladimir Putin Teken Dekrit Tambahan Pasukan, Jenderal AS Sebut Bukti Rusia dalam Masalah di Ukraina

Pensiunan jenderal AS menilai keputusan Putin menambah pasukan menunjukkan militer Rusia dalam kesulitan di Ukraina.

Editor: Ahmad Haris
Tangkap layar Instagram @darktimeofficial
Ilustrasi tentara Rusia berbaris tegak saat perayaan Hari Kemenangan Rusia atas Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Presiden Rusia Vladimir Putin menambah pasukannya di Ukraina. Terkait hal itu, pensiunan jenderal Amerika Serikat (AS) menilai keputusan tersebut menunjukkan militer Rusia dalam kesulitan di Ukraina. 

TRIBUNBANTEN.COM - Presiden Rusia  Vladimir Putin menambah pasukannya di Ukraina.

Terkait hal itu, pensiunan jenderal Amerika Serikat (AS) menilai keputusan tersebut menunjukkan militer Rusia dalam kesulitan di Ukraina.

Menutur purnawirawan Jenderal AS itu, kemajuan invasi Rusia yang sudah berjalan selama enam bulan ini, terhambat sejumlah masalah serta pertahanan kuat dari militer Ukraina.

Baca juga: Tambah 137.000 Tentara, Presiden Vladimir Putin Buat Invasi Rusia ke Ukraina Semakin Masif

Dukungan negara-negara barat kepada Ukraina juga memaksa pasukan Moskow mundur ke wilayah timur.

Kondisi militer Rusia sempat dilaporkan kekurangan motivasi, hingga banyak yang telah terbunuh.

Menyusul kabar tersebut, Presiden Putin pekan ini meneken dekrit untuk meningkatkan jumlah personel.

Militer diperintahkan untuk menambah 137.000 tentara baru.

Keputusan itu mulai berlaku 1 Januari dan kemungkinan akan bergantung pada sukarelawan, menurut AP News.

Pensiunan Letnan Jenderal Angkatan Darat AS, Mark Hertling, mengatakan kepada CNN, perintah ini merupakan pertanda buruk bagi prospek Rusia untuk meraih kemenangan di Ukraina.

"Ini memberitahu saya bahwa mereka (pasukan Rusia) dalam masalah," kata Hertling, Sabtu (27/8/2022), dikutip dari Newsweek. 

Ia membeberkan kemungkinan alasan dari perintah itu, yang menurutnya karena unit garis depan Rusia memiliki kekuatan rendah.

Ia juga mengatakan, upaya perekrutan akan menargetkan orang-orang berusia hingga 60 tahun.

"Apakah mereka akan menempatkan tentara baru yang mereka rekrut melalui pelatihan dasar yang mereka miliki, yang sejujurnya, sangat tidak baik dan kemudian mengirim mereka langsung ke unit untuk mencoba mempelajari operasi senjata gabungan, yang sangat sulit, tanpa pelatihan tambahan? Jika itu terjadi, mereka akan mendapat masalah," kata Hertling.

"Saya tahu militer Rusia itu buruk. Saya tidak tahu mereka seburuk itu, berdasarkan pengamatan dan diskusi pribadi dengan pemimpin mereka."

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved