Breaking News:

Termakan Ucapan Sang Jenderal, Anak Buah Ferdy Sambo Menangis dan Menyesal Soal Kasus Brigadir J

Anggota Kompolnas Yusuf Warsyim para anak buah Ferdy Sambo menyesal atas perbuatannya telah termakan omongan Ferdy Sambo soal ada rekayasa kasus

Editor: Abdul Rosid
Tribunnews.com
Anggota Kompolnas Yusuf Warsyim mengatakan para anak buah Ferdy Sambo menyesal atas perbuatannya telah termakan omongan Ferdy Sambo soal ada rekayasa kasus 

TRIBUNBANTEN.COM - Anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Yusuf Warsyim mengungkapkan anak buah Ferdy Sambo menangis saat jalani sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) dalam siaran langsung YouTube Kompas.com, Rabu (31/8/2022).

Mereka para anak buah Ferdy Sambo menyesal atas perbuatannya dalam kasus pembunuhan Brigadir J.

Beberapa di antara mereka telah termakan omongan Ferdy Sambo soal ada rekayasa dalam kasus pembunuhan Brigadir J.

Melalui sidang itu terungkap, Sambo berusaha meyakinkan bawahannya bahwa istrinya, Putri Candrawathi, dilecehkan oleh Brigadir J.

Baca juga: Bersimbah Darah, Jasad Brigadir J Terkapar di Dekat Tangga dan Video Ferdy Sambo Panggil Ajudan

Kepada para anak buahnya, mantan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri tersebut juga mengandaikan bagaimana jika pelecehan itu terjadi pada keluarga mereka.

"Terus ditanya lagi (ke) bawahannya, 'Itu kalau terjadi kepada kamu, bagaimana posisinya?'. Menyampaikan istrinya itu (dengan sebutan) mbakmu. 'Itu kalau terjadi itu bagaimana? Apa yang terjadi pada mbakmu terjadi?" ujar Yusuf.

Sambo juga berusaha meyakinkan bahwa setelah pelecehan itu, terjadi baku tembak antara Brigadir J dan Richard Eliezer atau Bharada E di rumah dinasnya yang berujung tewasnya Yosua.

Rupanya, jenderal bintang dua tersebut sempat memerintahkan bawahannya supaya mengumumkan ke publik bahwa Bharada E merupakan penembak nomor satu.

"Kan waktu itu ada rilis soal sebutan (Bharada E) penembak nomor satu. Itu ada perintah dari FS," ucap Yusuf.

Yusuf mengatakan, kalimat-kalimat Sambo itu seolah berhasil menghipnotis para anak buahnya. Akhirnya, mereka percaya adanya pelecehan dan baku tembak.

"Itu jadi disugesti apakah hipnotis dan sebagainya. Itu yang muncul di keterangan saksi pada waktu kemarin mereka pada waktu itu memercayai apa yang dikatakan oleh FS," kata dia.

Menurut Yusuf, kala itu para personel kepolisian tersebut tak kuasa menolak perintah Sambo yang merupakan atasan mereka.

Padahal, kode etik Polri telah mengatur bahwa anggota kepolisian harus menolak perintah atasan jika itu bertentangan dengan norma hukum, agama, dan susila.

Namun, semua sudah telanjur. Kini, para bawahan Sambo itu hanya bisa menyesali perbuatan mereka.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved