Penyebab Utama Keruntuhan Uni Soviet, dari Inefisiensi Ekonomi hingga Reformasi Gorbachev

Ada teori konspirasi yang populer di Rusia bahwa Gorbachev sengaja berusaha menghancurkan sosialisme dan Uni Soviet

Tayang:
Penulis: Siti Nurul Hamidah | Editor: Siti Nurul Hamidah
Kolase TribunBanten.com/Kıvılcım Er/Pinterest
Ilustrasi - inilah penyebab utama keruntuhan Uni Soviet, sebagai sebuah kelompok negara sosialis yang ada di Eurasia tahun 1922–1991 

TRIBUNBANTEN.COM - Inilah penyebab utama keruntuhan Uni Soviet, sebagai sebuah kelompok negara sosialis yang ada di Eurasia tahun 1922–1991.

Dikutip dari Gramedia pada Senin (12/12/2022), Uni Soviet merupakan wilayah yang terbentang di sepanjang Eurasia.

Uni Soviet memiliki paham sosialis-komunis, dengan federasi bernama Republics Sosialist Soviet (RSS).

Uni Soviet terdiri dari 15 negara yakni Armenia, Azerbaijan, Byelorussia, Estonia, Georgia, Kazakhstan, Kirgizstan, Latvia, Lithuania, Moldavia, Rusia, Tajikistan, Turkmenistan, Ukraina, dan Uzbekistan.

Uni Soviet ini menganut sistem politik satu partai, yaitu Partai Komunis, hingga tahun 1990.

Uni Soviet 2
Uni Soviet adalah kelompok negara sosialis yang ada di Eurasia tahun 1922–1991

Baca juga: Zelenskyy Tuduh Rusia Serang Infrastruktur Energi di Kawasan Odesa dengan Drone Iran

Meskipun sebenarnya Uni Soviet adalah suatu kesatuan politik dari beberapa negara republik Soviet, tetapi sistem pemerintahannya sangat terpusat dan menerapkan sistem ekonomi terencana.

Dahulunya, Uni Soviet adalah federasi yang gagah dan kuat, namun sayangnya federasi ini runtuh pada tahun 26 Desember 1991 (wikipedia).

Dikutip pada Senin (12/12/2022), berikut ini penyebab utama keruntuhan Uni Soviet menurut Russia Beyond dalam rbth.com:

1. Harga Minyak dan Inefisiensi Ekonomi

Tanggal keruntuhan Uni Soviet sebetulnya sudah diketahui menurut Egor Gaidar.

Egor Gaidar, pakar reformasi ekonomi di Rusia pasca-Soviet pada 1990-an dan sekaligus pelaksana tugas perdana menteri Rusia pada 1992, mengatakan bahwa awal keruntuhannya telah dimulai pada tahun 1985.

Bukan pada hari ditandatanganinya Piagam Belovezha atau pada kudeta Agustus (1991).

Melainkan pada 13 September 1985, ketika Menteri Perminyakan Arab Saudi, (Ahmed) Yamani, menyatakan bahwa negaranya keluar dari perjanjian pembatasan produksi minyak dan mulai meningkatkan produksinya di pasar minyak.

Setelah itu, Arab Saudi meningkatkan produksi minyak sebesar 5,5 kali lipat dan harga minyak turun 6,1 kali lipat.

Baca juga: Ukraina Hancur karena Perang, Presiden Zelensky Malah Tutup Negosiasi Damai dengan Kubu Putin

2. Konflik Etnis

Di akhir '80-an, pada masa Perestroika, terjadi peningkatan kekerasan yang disebabkan persaingan nasionalisme etnis di republik-republik Soviet.

Contoh pertama kekerasan etnis terjadi pada akhir 1986 di ibu kota Kazakhstan, Almaty.

Saat itu, anak-anak muda Kazakh yang tak puas dengan pengangkatan kepala republik mereka, yang merupakan seorang beretnis Rusia, berdemonstrasi hingga menyebabkan kerusuhan.

konflik etnis uni soviet
Ilustrasi, konflik etnis kerap terjadi di Uni Soviet

Akhirnya, pemerintah mengirim pasukan untuk meredakan kerusuhan.

Kemudian, ada pogrom (pembunuhan besar-besaran) di Kota Sumgait, Azerbaijan, dan aksi kekerasan di Tbilisi, Baku, dan tempat-tempat lain di seluruh negeri.

Konflik paling berdarah terjadi di Karabakh antara Azerbaijan dan Armenia, yang kadang-kadang disebut sebagai “salah satu pemicu politis utama yang mengawali disintegrasi Uni Soviet”.

Pada akhir 1980-an, konflik etnis berubah menjadi mematikan, menewaskan ratusan orang dalam pertempuran.

Namun, pada 1990, mayoritas republik Soviet tak ingin meninggalkan Uni Soviet.

Menurut sejarawan Rusia Aleksandr Shubin, situasi kala itu terbilang relatif tenang.

Dari 15 republik Soviet, hanya negara-negara Baltik (Latvia, Lituania, dan Estonia) dan Georgia yang dengan tegas ingin melepaskan diri.

Baca juga: Pengertian dan Sejarah Nuklir: AS Gunakan Nuklir saat PD II, Uni Soviet Saingi Persenjataan Nuklir

3. Reformasi Gorbachev

Kinerja ekonomi yang buruk dan berkembangnya gerakan nasionalis berpengaruh pada kejatuhan Uni Soviet.

Namun faktor yang benar-benar dianggap memicu keruntuhan Negeri Tirai Besi adalah tindakan pemimpin negara itu sendiri, yang dimulai pada pertengahan 1980-an dengan kebijakan Perestroika Gorbachev.

Ada teori konspirasi yang populer di Rusia bahwa Gorbachev sengaja berusaha menghancurkan sosialisme dan Uni Soviet.

Namun, itu tak ditanggapi secara serius karena tidak ada indikasi apa pun yang menunjukkan bahwa ia benar-benar ingin melemahkan kepemimpinannya sendiri.

Sebaliknya, Perestroika mencoba mereformasi sistem Soviet, yang pada saat itu menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Reformasi pertamanya, yang disebut “percepatan” ekonomi, seharusnya melepaskan potensi “sosialisme modern”. Shlapentokh menyebut reformasi ini “neo-Stalinis” karena dilakukan dalam paradigma yang sama dengan kebijakan pendahulu Gorbachev yang kejam.

Uni Soviet 1
Ilustrasi, kinerja ekonomi yang buruk dan berkembangnya gerakan nasionalis berpengaruh pada kejatuhan Uni Soviet

Meskipun Gorbachev berniat baik, ekonomi gagal untuk “mempercepat” dan, sebaliknya, kebijakannya yang tidak efektif malah melemahkan negara.

Sistem Soviet sebelum Gorbachev memang buruk, tetapi karena reformasinya itu semua langsung berhenti berfungsi.

Demi memodernisasi ekonomi, Gorbachev memulai proses demokratisasi radikal yang membuat kematian sistem Soviet dan negara menjadi tak terelakkan.

Sementara itu, muncul aktor-aktor baru, di antaranya Boris Yeltsin, yang ingin menciptakan Rusia yang merdeka. Ini berarti kematian Uni Soviet yang tak terhindarkan.

Sumber: Tribun Banten
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved