PROFIL Emmanuel Macron, Presiden Prancis Imbau Embargo Senjata ke Israel

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengimbau negara-negara Barat menghentikan pengiriman senjata atau embargo senjata ke Israel.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Glery Lazuardi | Editor: Glery Lazuardi
ABDULMONAM EASSA / POOL / AFP
Presiden Prancis Emmanuel Macron 

TRIBUNBANTEN.COM - Presiden Prancis Emmanuel Macron mengimbau negara-negara Barat menghentikan pengiriman senjata atau embargo senjata ke Israel.

Macron juga mengkritik keputusan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu yang mengirim pasukan dalam melakukan operasi darat di Lebanon.

Baca juga: Ini Isi Khotbah Salat Jumat Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei: Israel Tidak Akan Bertahan Lama!

Berikut ini profil Emmanuel Macron

Emmanuel Macron lahir 21 Desember 1977 adalah seorang politikus Prancis yang menjabat sebagai Presiden Prancis dan ex-officio Pangeran Andorra sejak tanggal 14 Mei 2017.

Sebelumnya, Macron merupakan mantan bankir investor Prancis.

Pada 26 Agustus 2014 ia dilantik sebagai Menteri Ekonomi, Pembaruan Industri dan Urusan Digital dalam pemerintahan Manuel Valls.

Pada Pemilihan umum Presiden Prancis 2017, ia mengalahkan Marine Le Pen dengan meraup 66,06 persen suara jauh mengungguli Marine Le Pen, yang hanya meraup 34 persen suara.

Kemenanganya menjadikan ia sebagai Presiden Prancis termuda dalam sejarah dengan usia 39 tahun.

Macron adalah putra dari Jean-Michel Macron, Profesor Neurologi di Universitas Picardy, dan Françoise Macron-Noguès, MD. 

Ia akrab dengan neneknya, seorang kepala sekolah yang tumbuh dalam rumah tangga iliterasi, dan tinggal dengannya selama beberapa waktu.

Ia mempelajari piano selama sepuluh tahun, mendapatkan penghargaan ketiga di Konservatori Amiens.

Ia menempuh pendidikan selama beberapa tahun di lycée La Providence in Amiens yang didirikan oleh Yesuit sebelum ia melanjutkan di sekolah tinggi élite Lycée Henri-IV di Paris. 

Ia mempelajari Filsafat di Universitas Paris-Nanterre, mendapatkan gelar DEA. 

Ia bekerja sebagai asisten Paul Ricoeur antara 1999 dan 2001 di mana ia membantu menyunting buku karya Ricoeur La Mémoire, l'histoire, l'oubli. 

Ia juga mendapatkan sebuah gelar dalam bidang Urusan Publik di Sciences Po, sebelum ikut serta dalam pelatihan sebagai pegawai negeri sipil senior di École nationale d'administration (ENA), lulus pada 2004.

Macron bekerja sebagai Inspektur Keuangan dalam Kementerian Ekonomi Prancis antara 2004 dan 2008. 

Pada 2007, ia menjabat sebagai deputi rapporteur pada Komisi untuk mempengaruhi pertumbuhan Prancis yang dikepalai oleh Jacques Attali.

Ia kemudian meninggalkan jabatan tersebut untuk menjadi bankir investor di Rothschild & Cie Banque.

Macron adalah anggota Partai Sosialis dari tahun 2006 hingga 2009.

Baca juga: Berusaha Menyerang Lebanon Selatan, Lebih dari Selusin Tentara Israel Dihabisi Hizbullah

Dari tahun 2012 hingga 2014, ia menjabat sebagai deputi sekretaris jenderal Élysée, seorang anggota senior staf Presiden Hollande.

Ia dilantik menjadi Menteri Ekonomi, Industri dan Data Digital dalam Kabinet Valls kedua pada 26 Agustus 2014, menggantikan Arnaud Montebourg.

Macron menikah dengan Brigitte Trognieux, seorang guru Prancis yang pertama kali bertemu dengannya di sekolah menengah atas, ketika usianya baru 15 tahun dan Brigitte berusia 39 tahun. 

Pasangan tersebut tinggal dengan anak-anak Trognieux dari pernikahan sebelumnya di Prancis.

Kritik Operasi Israel

Seperti dilansir dari VOAIndonesia,  Presiden Prancis Emmanuel Macron, Sabtu (5/10), mengimbau komunitas Barat untuk menghentikan pengiriman senjata ke Israel untuk digunakan di Gaza. Ajakan tersebut memicu tanggapan keras dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Macron juga mengkritik keputusan Netanyahu untuk mengirim pasukan dalam melakukan operasi darat di Lebanon.

"Saya pikir hari ini, prioritasnya adalah kita kembali ke solusi politik, bahwa kita berhenti mengirim senjata untuk berperang di Gaza," kata Macron kepada penyiar Prancis, France Inter.

"Prancis tidak mengirim apa pun," tambahnya selama wawancara, yang direkam pada Selasa.

Macron menegaskan kembali kekhawatirannya atas konflik di Gaza yang terus berlanjut meskipun ada seruan berulang kali untuk melakukan gencatan senjata.

"Saya pikir kami tidak didengarkan," katanya. "Saya pikir itu adalah kesalahan, termasuk untuk keamanan Israel," katanya, seraya menambahkan bahwa perang itu mengarah pada "kebencian".

Komentarnya memicu tanggapan cepat dari Netanyahu.

Baca juga: Kala Presiden Iran Sebut Iron Dome Milik Israel Lebih Rapuh daripada Kaca

"Saat Israel memerangi kekuatan barbarisme yang dipimpin Iran, semua negara beradab harus berdiri teguh di sisi Israel," kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kantornya.

"Namun, Presiden Macron dan para pemimpin Barat lainnya kini menyerukan embargo senjata terhadap Israel. Mereka harus malu,” tukasnya.

Kantor Macron menanggapi dengan pernyataannya sendiri pada Sabtu malam.

Prancis adalah "sahabat setia Israel", katanya, yang menggambarkan reaksi Netanyahu sebagai "berlebihan dan tidak sejalan dengan persahabatan antara Prancis dan Israel".

Qatar, mediator utama dalam perundingan gencatan senjata Gaza, mengatakan pernyataan Macron adalah "langkah penting dan dihargai untuk menghentikan perang".

Yordania menyambut baik pernyataan pemimpin Prancis itu dan menekankan "pentingnya memberlakukan larangan total terhadap ekspor senjata ke Israel" dan "konsekuensi nyata" atas tindakan negara itu.

Warga Palestina memeriksa puing-puing masjid yang diubah menjadi tempat perlindungan di Deir al-Balah di Jalur Gaza bagian tengah, yang menjadi sasaran serangan Israel pada malam 6 Oktober 2024. (Foto: AFP)
Seruan Gencatan Senjata

Dalam wawancaranya, Macron juga mengatakan bahwa menghindari eskalasi di Lebanon adalah sebuah "prioritas."

"Lebanon tidak bisa menjadi Gaza baru," tambahnya.

Ia kembali membahas isu tersebut pada Sabtu (5/10) dalam pidatonya di konferensi negara-negara berbahasa Prancis di Paris.

Macron menyampaikan penyesalannya atas keputusan Perdana Menteri Netanyahu yang memilih jalan berbeda, terutama terkait operasi darat di Lebanon, di tengah seruan gencatan senjata dari Paris dan Washington.

Sebanyak 88 anggota organisasi negara berbahasa Prancis, Organisasi Internasional La Francophonie (OIF), termasuk Prancis dan Kanada, telah menyerukan gencatan senjata "segera dan abadi" di Lebanon, tambahnya.

Macron menegaskan kembali hak Israel untuk membela diri. Ia juga mengumumkan bahwa pada Senin, ia akan bertemu dengan kerabat warga Prancis-Israel yang disandera di Gaza.

Baca juga: Prediksi Pasca Serangan Iran ke Israel, Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Israel memperingati ulang tahun pertama serangan Hamas pada 7 Oktober, yang memicu perang di Gaza dan kini meluas ke negara tetangga Lebanon, dan memicu krisis regional yang berbahaya.

Serangan itu mengakibatkan tewasnya 1.205 orang, sebagian besar warga sipil, menurut penghitungan AFP yang didasarkan pada angka resmi Israel yang mencakup sandera yang tewas dalam penahanan.

Serangan balasan Israel terhadap Gaza hingga saat ini telah menewaskan sedikitnya 41.825 orang, sebagian besar di antaranya adalah warga sipil, menurut kementerian kesehatan di wilayah Palestina yang dikuasai Hamas. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa angka-angka tersebut dapat dipercaya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved