Breaking News

Anak Buruh Tani dan Kuli Bengkel di Lebak, Kini Punya Harapan Baru Lewat Sekolah Rakyat

Program Sekolah Rakyat di Kabupaten Lebak, Banten, memberi harapan baru bagi anak-anak dari keluarga buruh tani dan kuli bengkel.

Tayang:
Penulis: Misbahudin | Editor: Abdul Rosid
Misbahudin/TribunBanten.com
Anak buruh tani dan kuli bengkel di Lebak antusias mengikuti pemeriksaan kesehatan sebelum mulai belajar di Sekolah Rakyat. Program pendidikan gratis ini jadi harapan baru keluarga kurang mampu di Banten. 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Misbahudin

TRIBUNBANTEN.COM, LEBAK - Sebanyak 100 calon murid Sekolah Rakyat di Kabupaten Lebak, Banten, hari ini mengikuti pertemuan secara langsung di Gedung BPMP Rangkasbitung, Senin (14/7/2025).

Dalam pertemuan tersebut, para siswa dan siswi menjalani pemeriksaan kesehatan.

Kedatangan para siswa dan siswi didampingi oleh orang tua masing-masing.

Dari 100 murid yang akan bersekolah di Sekolah Rakyat, mayoritas berasal dari keluarga kurang mampu.

Baca juga: Orangtua Siswa SMP di Tangsel Keluhkan Tingginya Harga Seragam, Biaya Capai Rp 2 Juta

Salah seorang warga Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, bernama Rosita, mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto yang telah menghadirkan program Sekolah Rakyat.

"Alhamdulillah, saya bersyukur. Terima kasih, Pak Presiden. Saya orang tidak mampu, makanya anak saya masuk ke Sekolah Rakyat," ujarnya.

Pekerjaan sehari-hari suaminya hanyalah sebagai kuli bengkel dengan pendapatan tidak menentu.

"Kalau suami kerja di bengkel, kadang ada, kadang tidak. Kalau saya hanya ibu rumah tangga," katanya.

Ia berharap dengan adanya Sekolah Rakyat, anaknya bisa sukses seperti orang lain.

"Semoga ke depan anak saya bisa menjadi orang sukses. Saya sangat bersyukur," ucapnya.

Di tempat yang sama, Dedi, warga Desa Cimarga, Kecamatan Cimarga, mengaku senang karena anaknya terpilih sebagai murid Sekolah Rakyat.

Terlebih, kata dia, harapan dan cita-cita anaknya sangat terbantu dengan adanya program tersebut.

"Senang, merasa terbantu karena ada Sekolah Rakyat," ujarnya.

Untuk pekerjaan sehari-hari, Dedi hanya bekerja sebagai buruh tani yang mengandalkan panggilan dari orang lain.

Sumber: Tribun Banten
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved