Suluk Tanara: Rantai Nur di Dada Syekh Nawawi al-Bantani

Penulis adalah Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas.

|
Editor: Abdul Rosid
Dok/Pribadi
Penulis adalah Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan, serta kebangsaan dari perspektif Nahdlatul Ulama. 

Penulis adalah Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan, serta kebangsaan dari perspektif Nahdlatul Ulama.

TRIBUNBANTEN.COM - “Setiap darah adalah zikir yang mengalir.
Setiap nama dalam nasab adalah ayat yang menunggu dibaca.”

Malam Tanara sunyi. Angin laut membawa suara jauh seakan bisikan para leluhur yang memanggil dari masa ke masa.

Di atas sajadah, seorang pemuda muda berwajah lembut duduk bersila. Di hadapannya terbentang selembar kertas bertulisan Arab, tinta hitam di atas kertas kekuningan.

Kertas itu bukan sekadar daftar nama, tapi peta ruhani rantai nasab Syekh Abu Abdil Mu'thi Muhammad Nawawi bin Syekh Umar bin Syekh 'Arobi bin Syekh Ali bin Syekh Jammad bin Syekh Janta bin Syekh Masbuq bin Syekh Maskun bin Syekh Masnun bin Syekh Maswi bin Syekh Tajul 'Arasy (Pangeran Sunyararas) bin Sultan Maulana Hasanuddin Banten bin Sultan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati) yang dalam silsilahnya berpuncak pada Sayyidina Muhammad ﷺ.

Baca juga: Pohon Kelapa dari Langit Tanara

Di mata awam, ini hanya silsilah darah.
Namun bagi para arif, ini adalah untaian cahaya.
Setiap nama di dalamnya bukan sekadar leluhur, tapi maqām ruhani—tingkatan kesadaran yang menyambung dari Tanara hingga Madinah.

Dari Arabi hingga Arasy

Pada urutan kedua dari bawah tertulis:
ابن عمر (bin Umar), ayah beliau, KH. Umar bin Arabi, kiai Tanara yang mengajarkan fiqh dan adab dengan kesabaran yang dalam.

Lalu di atasnya tertulis ابن عربي (bin Arabi) leluhur yang namanya menggetarkan, seolah menyatu dengan gema nama besar Muhyiddin Ibn Arabi sang sufi Andalusia.
Mungkin bukan darah yang sama, tapi barangkali ruh yang bergetar di frekuensi yang sama ruh pencarian, ruh tauhid yang menembus batas jasad.

Di atasnya lagi: علي، جماد، جنطا—tiga nama yang di Tanara sering diucap para kiai dengan khidmat.

Nama-nama itu berakar dari darah bangsawan Banten lama, keturunan para amir laut dan penyebar Islam dari barat Jawa, para penjaga pelabuhan Karangantu di masa Maulana Hasanuddin.

Mereka bukan raja, tapi pilar rahasia: yang menegakkan agama di tengah gelombang niaga dan politik.

Laut Sebagai Wali

Ketika Agus Sunyoto menulis Suluk Abdul Jalil, laut menjadi metafor antara dunia lahir dan batin.

Begitu pula dalam nasab ini: antara “Jamad” dan “Janta”, antara “Maswi” dan Tajul "'Arasy"

Sumber: Tribun Banten
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved