Bagian IV: Madrasah Langit: Para Mahaguru Mulia
Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan
“Kelak, kau akan menulis seperti lautan ini, tapi jangan lupa lautan pun berasal dari setetes air mata.”
Syekh Ahmad Khatib al-Makki: Fiqh dan Keteguhan
Dari halaqah Zaini Dahlan, aku berpindah ke majelis Syekh Ahmad Khatib al-Makki, mufti fiqh Syafi‘i yang terkenal tegas dan jernih dalam berpikir.
Ia mengajar Tuhfatul Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, dan al-Minhaj dengan ketelitian seorang penenun sutra.
Beliau jarang tersenyum, tapi sekali berbicara, hatiku serasa disayat oleh kejujuran.
“Jangan jadi ahli hukum yang kehilangan kasih,” katanya.
“Hukum yang kering akan membunuh, tapi fiqh yang mengandung rahmat akan menumbuhkan.”
Aku menunduk lama setelah pelajaran itu.
Dalam hati, aku tahu beliau tidak hanya mengajarkan hukum, tapi mengajarkan bagaimana menimbang dengan nurani.
Fiqh baginya bukan sekadar dalil, tapi cahaya akal yang sujud kepada kasih Tuhan.
Syekh Muhammad Hasbullah Sulaiman: Adab Fatwa dan Kesabaran
Guru berikutnya adalah Syekh Muhammad Hasbullah Sulaiman,seorang alim yang sabar dan halus tutur katanya.
Di majelisnya aku belajar fiqh lanjutan, qiyas, dan adab al-fatwa.
Ia mengajarkan bahwa menjawab pertanyaan umat bukan sekadar memberi hukum, tetapi menyalakan harapan agar umat tidak berhenti bertanya.
“Wahai Nawawi,” katanya lembut,
“ulama sejati bukan yang paling cepat menjawab, tapi yang paling lama menimbang dalam diam.”
Beliau mengulang pelajaran hingga larut malam,dan aku sering menulis di bawah cahaya lentera yang hampir padam.
Tiap tetes minyak lampu yang habis terasa seperti waktu yang kupinjam dari hidupku sendiri.
Aku tahu, ini bukan sekadar belajar, ini pengabdian.
Syekh Muhammad Sa‘id Babshil: Bahasa, Irama, dan Keindahan
Bahasa Arab adalah lautan,dan Syekh Muhammad Sa‘id Babshil adalah nakhoda yang mengajarkanku bagaimana berenang di dalamnya.
Ia mengajar Alfiyyah Ibn Malik dengan kesabaran seorang penyair yang menimbang huruf satu per satu.
Setiap kali aku salah membaca, beliau tertawa kecil,
“Huruf ini bukan batu, Nak. Ia hidup, ia bernapas. Jika kau ingin menguasai bahasa, cintailah setiap harakatnya.”
Darinya aku belajar keindahan.
Bahwa kata-kata bukan sekadar alat berpikir, tapi jalan menuju hati manusia.
| Idul Adha 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal Versi Muhammadiyah, NU dan Pemerintah |
|
|---|
| Jelang Muktamar NU, Gus Salam Sowan ke Menag Nasaruddin Umar : Minta Restu Maju Calon Ketum PBNU |
|
|---|
| Kapan Hari Pertama Puasa Ramadhan 2026? Ini Prakiraan Pemerintah, NU, Muhammadiyah dan BRIN |
|
|---|
| 50 Ucapan Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama 2026: Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia |
|
|---|
| Kumpulan Link Twibbon Harlah 1 Abad NU Tahun 2026, Bisa Diunduh Gratis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/Muhamad-Roby-Ketua-Tanfidziya.jpg)