Bagian IV: Madrasah Langit: Para Mahaguru Mulia

Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan

Tayang:
Editor: Abdul Rosid
Dok/Pribadi
Penulis Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan, serta kebangsaan dari perspektif Nahdlatul Ulama. 

“Suatu hari,” katanya menepuk bahuku,

 “engkau akan menulis untuk dunia, tapi pastikan tulisanmu lahir dari sujud.”

Syekh Muhammad Khatib Sambas: Guru Ruhani di Jabal Abi Qubais

Malam Jumat di Makkah selalu istimewa.
Ketika malam turun perlahan, dari arah timur terdengar zikir yang menggema, menyatu dengan desir angin gurun.
Aku menapaki jalan batu menuju Jabal Abi Qubais, bukit tua di dekat Masjidil Haram, tempat para sufi berkumpul dalam diam dan dzikir.

Di atas bukit itu, di antara lentera-lentera kecil dan batu yang disusun melingkar, berkumpullah murid-murid Syekh Muhammad Khatib Sambas al-Jawi, seorang ulama besar asal Sambas, Kalimantan Barat, pendiri Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah.
Tempat itu kelak dikenal sebagai Madrasah Naqsyabandiyah, pusat zikir yang melahirkan banyak wali dan ulama Nusantara.

Ketika aku tiba, beliau duduk di tengah jamaahnya, berjubah putih, wajahnya lembut bercahaya, suaranya bening seperti angin dari zamzam.
Tatapannya menembus dada murid-muridnya satu per satu.
Ketika matanya berhenti padaku, beliau tersenyum.

“Engkau dari Tanara?”
“Iya, Guru.”
“Ah… aku tahu tanah itu.
Di sana, angin membawa doa para wali.”

 

Darinya aku belajar diam, sabar, dan fana.

 “Jangan buru-buru ingin menjadi ulama,” katanya.
“Belajarlah menjadi hamba terlebih dahulu.”

 

Beliau memberiku zikir sirr, amalan yang tak boleh diucapkan keras-keras, hanya dilantunkan dalam dada yang bersih dari riya’.

Sejak malam itu, setiap kali aku berzikir, aku merasakan bumi berputar lebih lambat, dan setiap detak jantung menjadi nama Allah.

“Zikir,” katanya lagi,
“adalah jembatan yang tak terlihat, menghubungkan bumi hatimu dengan langit rahmat Tuhan.”

 

Sumber: Tribun Banten
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved