Bagian IV: Madrasah Langit: Para Mahaguru Mulia
Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan
Dan ketika ribuan suara Allāh… Allāh… mengalun dari puncak Abi Qubais, aku merasa bintang-bintang pun menunduk.
Dari bukit itu, aku mengerti: ilmu tanpa dzikir hanyalah kata tanpa makna, dan zikir tanpa ilmu hanyalah gema tanpa arah.
Para Maha Guru Nusantara di Makkah
Namun bukan hanya ulama Arab yang mengajarkanku ilmu.
Ada para guru dari Timur, dari tanah airku, yang datang jauh sebelum aku lahir, meninggalkan sungai, sawah, dan hutan-hutan Nusantara, demi menanam ilmu di Tanah Suci.
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, ulama dari Martapura, adalah di antara yang pertama.
Dari beliau, sanad ilmu fiqh dan tauhid mengalir.
Karyanya Sabil al-Muhtadīn dan Tuhfah al-Rāghibīn beredar dari Banjarmasin hingga Makkah.
Aku membaca kitab itu di malam hari, dan di sela lembaran kuningnya, aku mendengar suara tanah airku.
Dari Syekh Arsyad aku mengenal bahwa ilmu harus menyapa rakyat, bukan sekadar menghiasi menara.
Lalu ada Syekh Abdus Shamad al-Palimbani, pengelana ilmu dari Palembang, yang semangatnya membakar malam-malam Makkah.
Ia menulis Siyar al-Sālikīn, ringkasan Ihya’ Ulumuddin, dan mengajarkan jihad melawan hawa nafsu lebih berat daripada perang.
Dari beliau yang telah sepuh, aku belajar Syarḥ Mukhtaṣar Ibn al-Ḥājjah dan mengenal makna amal yang hidup.
Beliau pernah berkata,
“Nawawi, menulis itu juga jihad, sebab tinta ulama lebih panjang usianya daripada darah para pejuang.”
Dan di antara para guru itu, ada Syekh Daud bin Abdullah al-Fatani, ulama besar dari Patani yang mendirikan Komunitas Melayu di Makkah.
Beliau menulis lebih dari tiga puluh delapan kitab, di antaranya Kifāyat al-Muḥtāj dan Nahj al-Rāghibīn.
Dari karyanya aku belajar bahwa menulis bukan sekadar menyusun kalimat, melainkan mengukir keabadian.
Ketika beliau wafat di Ṭāʾif dan disemayamkan di sisi sahabat Abdullah bin Abbas, murid-muridnya berdoa sambil menangis.
Aku ikut di antara mereka, dan dalam diam aku berjanji:
“Aku akan menulis seperti engkau, guru bukan untuk dikenang, tapi untuk menyalakan hati manusia.”
Madrasah Langit
Sepuluh tahun berlalu tanpa terasa.
Aku datang ke Makkah sebagai anak berumur lima belas, dan kini usiaku telah melewati dua puluh lima.
Rambutku mulai tumbuh janggut, tulisanku lebih tenang, dan hatiku lebih dalam.
Setiap malam aku menatap Ka‘bah dan berkata dalam diam:
“Ya Allah, jika ilmu ini adalah cahaya, maka jadikan aku lentera yang kecil saja, agar cukup menerangi jalan pulang bagi yang tersesat.”
Dari para guru Arab dan para maha guru Nusantara, aku belajar satu hal: bahwa ilmu sejati bukan yang membuatmu tinggi, tetapi yang membuatmu tunduk.
Dan malam itu, di bawah langit Makkah yang bertabur bintang,
aku merasa telah berada di madrasah yang sesungguhnya, madrasah langit, tempat bumi menunduk kepada ilmu, dan ilmu bersujud kepada cinta.
| Idul Adha 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal Versi Muhammadiyah, NU dan Pemerintah |
|
|---|
| Jelang Muktamar NU, Gus Salam Sowan ke Menag Nasaruddin Umar : Minta Restu Maju Calon Ketum PBNU |
|
|---|
| Kapan Hari Pertama Puasa Ramadhan 2026? Ini Prakiraan Pemerintah, NU, Muhammadiyah dan BRIN |
|
|---|
| 50 Ucapan Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama 2026: Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia |
|
|---|
| Kumpulan Link Twibbon Harlah 1 Abad NU Tahun 2026, Bisa Diunduh Gratis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/Muhamad-Roby-Ketua-Tanfidziya.jpg)