Breaking News:

Peringatan May Day FSPMI Kabupaten Serang Berbeda, Lewat Aksi Virtual di Media Sosial

Selain itu, mereka juga akan menggalang dana untuk solidaritas pangan dan kesehatan

Dok Tribun Jateng
ilustrasi demo buruh 

TRIBUNBANTEN.COM - Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kabupaten Serang, Banten, tetap melaksanakan aksi peringatan May Day tahun ini.

Konsulat FSPMI Kabupaten Serang Gunawan mengatakan peringatan May Day pada tahun ini tidak dengan turun ke jalan.

"Tetapi dilakukan melalui aksi virtual di akun media sosial masing-masing pekerja, baik di Twitter, Facebook, Instagram, dan lain sebagainya," kata Gunawan melalui sambungan telepon, kemarin.

Selain itu, mereka juga akan menggalang dana untuk solidaritas pangan dan kesehatan.

"Di beberapa daerah, kawan-kawan juga bisa membuka lumbung pangan, mengumpulkan bahan makanan untuk masyarakat sekitar, serta membagikan alat pelindung diri (APD), masker, dan hand sanitizer ke rumah sakit,” ujar dia.

Misi yang akan dibawa FSPMI pada aksi May Day ini adalah menolak Omnibus Law dan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran.

"Yang pertama adalah menolak Omnibus Law yang sedang dirancang DPR, lalu Stop PHK secara besar-besaran yang dilakukan oleh perusahaan, dan yang terakhir liburkan buruh dengan upah dan THR 100 persen," ucap Gunawan.

Menurut dia, peserta aksi virtual dalam rangka May Day ini akan diikuti hampir seluruh serikat buruh di Indonesia yang ada di Banten.

" Ada KSPI, KSBSI, KSSPI, dan KASBI," katanya.

Akademisi Hukum Tata Negara Songga Aurora, SH, MH mengatakan sah-sah saja jika buruh melakukan kegiatan untuk upaya menyampaikan aspirasinya ke pemerintah.

"Di dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2013 tentang ketenagakerjaan sebenarnya mengatur bahwa setiap buruh itu mempunyai hak atas keselamatan kerja, perlindungan atas keselamatan kesehatan, dan itu dijamin oleh negara. Dan dalam hal ini bagi yang terkena PHK pun harus diberikan pesangon," ucapnya.

Menurut dia, yang menjadi persoalan adalah bagaimana masih buruh yang bekerja dengan sistem kontrak atau yang dirumahkan.

" Nasib untuk buruh Banten sendiri, mereka akhirnya mengalami kesulitan. Banyak sekali perusahaan-perusahaan yang harus memangkas pekerjanya karena suplai danpermintaan tidak seimbang. Konsekuensi logis yang diterima adalah PHK atau dirumahkan,” ujarnya. (tribuners/martin ronaldo)

Editor: Agung Yulianto Wibowo
Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved