Virus Corona di Banten
Wagub Banten Ungkap Alasan Warga Dua Kampung Mengungsi gara-gara Rapid Test
Andika Hazrumy mengatakan, Pemprov Banten telah menyiapkan sekitar 1 persen atau 120 ribu alat rapid test
"Ada lebih dari 100 (warga) yang mengungsi, sekitar 70 persen warga di Kampung Masigit sudah mengungsi,” sambung warga itu.
“Sekarang ini tersisa para pemuda dan bapak-bapak saja untuk berjaga. Kalau yang anak-anak, perempuan dan yang sakit sudah diungsikan,” katanya.
Menurut warga tersebut, hal ini bukan semata-mata kesalahan warga, tetapi juga karena kurangnya sosialisasi yang baik dari pihak kelurahan maupun pemerintah setempat.
“Seharusnya ada yang menjelaskan kepada masyarakat bahwa rapid test ini tidak akan menyengsarakan mereka. Ini demi kebaikan bersama,” ucapnya.
“Saya sudah mencoba menenangkan, tapi kan masyarakat tidak peduli, saya bukan siapa-siapa,” tuturnya.
Sepengetahuan Andi, salah satu oknum ketua RT setempat yang meminta agar para perempuan dan anak untuk segera mengungsi ke tempat lain karena akan ada rapid test.
"Isu-isu dari warga, itu memang ada dari pak RT yang bilang supaya perempuan dan anak-anak diungsikan dari sini, karena mau ada rapid test. Nanti kalau ada yang terindikasi, semuanya nanti dibawa ke rumah sakit," jelasnya.
Duduk Perkara Sebenarnya
Penjelasan warga tersebut dibenarkan oleh Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Serang Hari Pamungkas.
Menurutnya, setelah ditelusuri, penolakan hingga akhirnya ratusan warga Kampung Masigit mengungsi dikarenakan adanya informasi keliru mengenai rapid test yang disebarkan ke warga setempat.
Misalnya, ada anggapan bahwa jika hasil test reaktif, maka warga tersebut akan langsung diisolasi di rumah sakit.
Padahal, jika hasil rapid test seseorang menunjukkan reaktif Covid-19, bukan berarti dia positif Covid-19 dan dibawa diinapkan di rumah sakit.
Perlu dilakukan tes swab guna memastikan seseorang terjangkit Covid-19.
"Kemungkinan kemarin miskomunikasi, informasi keliru diterima masyarakat. Ketakutan ada isu dihembuskan bahwa setelah rapid langsung diisolasi ke rumah sakit. Padahal bisa dilakukan mandiri, toh hanya reaktif," kata Hari Pamungkas saat dihubungi Kompas.com, Jumat (19/6/2020).
Hari mengatakan, sosialisasi mengenai rapid test ini sebenarnya sudah dilakukan jauh-jauh hari kepada masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/rapid-test-di-kelurahan-mesjid-priyayi-serpong-banten.jpg)