Virus Corona di Banten
Wagub Banten Ungkap Alasan Warga Dua Kampung Mengungsi gara-gara Rapid Test
Andika Hazrumy mengatakan, Pemprov Banten telah menyiapkan sekitar 1 persen atau 120 ribu alat rapid test
Di Kota Serang, menurut Hari, ada satuan gugus tugas hingga ke tingkat RT/RW serta melibatkan Babinkamtibmas dan Babinsa.
Tugas mereka untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan awal indikasi Covid-19.
"Sosialisasi sudah dilaksanakan, tapi informasi ke bawahnya ada miskomunikasi," kata dia.
Pelaksanaan rapid test massal di Kota Serang sudah dilakukan sejak akhir Mei 2020 lalu.
Rapid test dilakukan di kelurahan-kelurahan sebagai upaya untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.
Hingga saat ini, menurut Hari, sudah hampir 25.000 warga yang menjalani rapid test, dari target 1 persen penduduk Kota Serang sesuai anjuran WHO atau sekitar 70.000 orang.
• Update 19 Juni: Positif Corona Tambah Lagi 1.041, Total 43.408 Warga Tertular
Ada provokator
Sementara itu, Lurah Mesjid Priyayi Titin Kurnia menungkapman, informasi keliru soal rapid test lantaran diduga diprovokasi oknum.
Isu yang berkembang di masyarakat, rapid test akan dilakukan dari rumah ke rumah.
Hal itu membuat banyak warga di dua kampung, yakni Kampung Terwana Kiyata dan Masigit melarikan diri.
"Karena ada provokatornya juga, salah satu warga yang menghasut warga untuk menolak rapid test, sempat demo juga ke kelurahan menolak rapid test," kata Titin.
Titin mengatakan, rapid test dikhususkan untuk petugas kelurahan dan juga warga yang sukarela mengikuti rapid test.
Rapid test di Kelurahan Mesjid Priyayi akhirnya tetap dilaksanakan sesuai jadwal di Puskesmas Pembantu (Pustu), pada Kamis (18/6/2020).
Terdapat 45 warga yang ikut serta, di mana seluruh hasilnya non-reaktif. (Tribunnews.com/Kompas.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/rapid-test-di-kelurahan-mesjid-priyayi-serpong-banten.jpg)