Virus Corona di Banten

Wagub Banten Ungkap Alasan Warga Dua Kampung Mengungsi gara-gara Rapid Test

Andika Hazrumy mengatakan, Pemprov Banten telah menyiapkan sekitar 1 persen atau 120 ribu alat rapid test

Editor: Abdul Qodir
Dok. Lurah Mesjid Priyayi
Warga Kelurahan Mesjid Priyayi, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, mengikuti rapid test masal setelah sebelumnya menolak rapid test, Kamis (18/6/2020) 

TRIBUNBANTEN.COM, JAKARTA - Pemerintah Provinsi Banten mengungkap alasan adanya ratusan warga di wilayahnya yang menolak menjalani rapid test hingga sampai ada yang mengugsi dari kampungnya.

Menurut Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy, hal itu dikarenakan kondisi beban psikologis yang dihadapi jika sampai dinyatakan positif Covid-19.

"Pikiran mereka ya itu, kondisi psikologis yang memang mereka tidak bisa terima apabila mereka positif (Covid-19)," kata Wagub Andika dalam siaran BNPB, Jumat (19/6/2020).

Menurutnya, beban psikis itu di antaranya diinapkan atau dikarantina di rumah sakit hingga harus berpisah dari keluarganya.

“Seperti mereka harus terpisah dari keluarga, dikarantina, dan lain-lain,” sambung dia.

Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy di Kantor Kemenko Bidang PMK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (7/1/2020).  NASRUDIN YAHYA)
Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy di Kantor Kemenko Bidang PMK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (7/1/2020). NASRUDIN YAHYA) (Kompas.com/Ahmad Nasrudin Yahya)

Andika Hazrumy mengatakan, Pemprov Banten telah menyiapkan sekitar 1 persen atau 120 ribu alat rapid test dengan populasi warga Banten yang kurang lebih sekitar 12 juta jiwa.

"Kami langsung turun, melakukan pendekatan personal. Kemarin dalam lingkup pondok pesantren, kami berkoordinasi dengan RSPP untuk memberikan informasi detail tentang rapid test dan demi keselamatan masyarakat dan mendeteksi penyebaran Covid-19," kata Andika Hazrumy yang juga putra pertama Ratu Atut Chosiyah itu.

Andika juga mengimbau kepada warga Banten, untuk tidak takut melakukan rapid test.

Terlebih, bagi mereka yang mengkhawatirkan karena harus merogoh kocek dalam ketika harus dites.

"Ada pemikiran ini harus bayar, padahal ini gratis kita sediakan untuk masyarakat. Jadi jangan takut untuk di-rapid test, supaya kita bisa melihat kondisi dari masyarakat di Banten," pungkasnya.

Warga Satu Kampung Mengungsi Tengah Malam Karena Takut Di-rapid Test

3.085 Orang di 5 Wilayah di Banten Rapid Test Covid-19, Ini Hasilnya

Diberitakan sebelumnya, sebagian besar warga dari dua kampung di Kelurahan Mesjid Priyayi, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, memilih mengungsi lantaran takut menjalani rapid test dari pemerintah setempat.

Seharusnya mereka dijadwalkan untuk menjalani rapid test pada Senin, 15 Juni 2020.

Namun pukul 02.00 dini hari, warga kampung itu berbondong-bondong meninggalkan tempat tinggal mereka sehingga hanya tersisa anak muda dan bapak-bapak.

Mereka khawatir akan menjadi pasien di rumah sakit jika hasil rapid test itu adalah reaktif Covid-19.

“Memang ada informasi bahwa di sini akan ada rapid test pada Senin pagi. Tapi, ternyata jam 2 sampai jam 3 subuh itu warga pada kabur. Ada yang ke rumah saudaranya di Ciceri, pokoknya pergi dari rumahnya,” ungkap warga setempat yang enggan disebut namanya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved