Breaking News:

Virus Corona

Pemerintah Indonesia Targetkan 17 Agustus 2021 Bebas dari Covid-19, Realistikah ?

Doni Monardo menargetkan Indonesia dapat mengendalikan pandemi virus corona (Covid-19) pada 17 Agustus 2021, atau saat peringatan Hari Kemerdekaan

Editor: Yulis Banten
ANTARA FOTO/HO/SETPRES/MUCHLIS J
Presiden Joko Widodo menerima suntikan dosis kedua vaksin Covid-19 oleh vaksinator Wakil Ketua Dokter Kepresidenan Prof Abdul Mutalib di sisi barat halaman tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (27/1/2021). 

TRIBUNBANTEN.COM -  Hampir satu tahun lamanya Indonesia mengalami pandemi Covid-19

Sejak pertengahan Januari 2021 lalu, pemerintah mulai melakukan vaksinasi untuk mencegah persebaran Covid-19.

Terkait dengan langkah pemerintah melakukan vaksinasi, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Doni Monardo punya target ambisius.

Pria yang kini masih berpangkat Letjen TNI aktif itu menargetkan Indonesia dapat mengendalikan pandemi virus corona ( Covid-19) pada 17 Agustus 2021, atau saat peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Target tersebut, menurut Doni akan diiringi kebijakan yang tepat dan kepatuhan masyarakat.

”Target kita adalah pada 17 Agustus yang akan datang kita harus betul-betul terbebas dari Covid. Artinya Covid betul-betul pada posisi yang dapat dikendalikan," kata Doni Monardo dalam rapat koordinasi yang digelar secara virtual di kanal Youtube Pusdalops BNPB, Senin (15/2/2021).

Baca juga: Tempat Wisata Misterius, Banten Punya Danau Buatan Peninggalan Zaman Kesultanan

Doni Monardo mengatakan, target itu dibuat berkaca pada penurunan angka kasus aktif atau orang yang dalam perawatan Covid-19.

Doni Monardo mengatakan, angka kasus aktif atau orang yang dalam perawatan Covid-19 terus mengalami penurunan dalam sepekan terakhir.

”Sepekan lalu angka kasus aktif 176.000-an, baik tanpa gejala, gejala ringan, sedang, berat, bahkan kritis. Namun dari data Satgas kemarin, kasus aktif sudah 161.000 orang. 

"Sudah turun 15.000-an orang dalam kurun waktu sepekan. Artinya, ada hal positif yang sudah dilakukan semua pihak,” kata Doni Monardo.

Doni berharap dengan inovasi dan kerja keras dari semua pihak yang tiada henti,  masyarakat bersama pemerintah bisa semakin mampu menekan kasus Covid-19.

Ia  juga meminta pemerintah daerah melibatkan masyarakat dalam menangani Covid-19.

Menurut Doni, masyarakat bisa bersama-sama mencari cara terbaik dalam menanggulangi pandemi.

Baca juga: Komunitas Berbagi Nasi Serang, Bagi Nasi Gratis Kepada yang Membutuhkan, Gerakan Empati saat Pandemi

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu mengatakan, semua pihak harus menyadari bahwa salah satu kunci utama dalam penanggulangan wabah Covid-19 adalah kedisiplinan dan kepatuhan warga dalam menjalani protokol kesehatan.

Oleh sebab itu, Doni meminta agar warga tetap menaati semua ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah, termasuk soal aturan-aturan dalam Pemberlakuan Pembatasan  Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro di Pulau Jawa yang sudah berlangsung sejak 8 Februari hingga 22 Februari mendatang.

”Ini yang terpenting adalah disiplin dan patuh melaksanakan protokol kesehatan, disiplin dan mentaati semua ketentuan yang sudah dibuat pemerinntah,” kata Doni.

”Lewat komando Presiden Jokowi kita lebih fokus pada pendekatan berbasis mikro, RT/RW. Kita berharap setiap daerah yang padat penduduknya, terutama perkotaan yang memiliki pemukiman padat seperti rusun bahkan apartemen hendaknya bisa didapatkan cara terbaik bagaimana meredam kasus harian maupun aktif," ujarnya menambahkan.|

Saat ini kasus positif virus corona di Indonesia sudah mencapai 1.223.930.

Dari jumlah tersebut, 1.032.065 di antaranya telah sembuh dan 33.367 meninggal dunia.

Sementara kasus aktif pada Senin (15/2) kemarin tercatat sebanyak 158.489.

Baca juga: Pembunuh Sadis 1 Keluarga Dihukum Mati, Bocah 6 Tahun Ditusuk Saat Terbangun Lihat Ibunya Dibunuh

Tidak Realistis

Sementara itu epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menilai, target Indonesia bebas pandemi Covid-19 pada 17 Agustus 2021 yang dicanangkan Doni Monardo itu tidak realistis.

Dia menyebut target tersebut terlalu optimis di tengah intervensi penanggulangan pandemi Covid-19 yang masih longgar.

”Ya, untuk Indonesia terlalu optimis dengan intervensi seperti saat ini ya tidak realistis. Karena kondisi sepert ini. Optimis iya, tapi harus realistis," kata DickyBudiman.

Dicky menilai performa dalam menerapkan testing, tracing, dan treatment (3T) serta protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, dan menjauhi kerumunan (5M) juga masih belum maksimal.

Kebijakan vaksinasi Covid-19 nasional juga membutuhkan waktu yang cukup lama bila program tersebut dilakukan saat kasus penularan Covid-19 masih tinggi.

Baca juga: Pengajuan Dispensasi Menikah Meningkat, Pengadilan Agama Serang: Ada yang Hamil di Luar Nikah

”Nah kondisi ini kalau bicara Agustus itu berarti sekitar 6 bulan dari sekarang. Kalau strateginya seperti saat ini malah testingnya menurun, tracing juga tidak meningkat, dan tidak ada upaya pengetatan dalam PSBB atau pembatasan yang ketat, vaksinasi
dilakukan dalam pademi tidak akan signifikan dalam mengubah kondisi," kata Dicky  Budiman.

Menurut Dicky Budima, sebelum menargetkan pengendalian pandemi virus corona di Tanah Air, pemerintah harus meningkatkan 3T dan membangun program pengendalian pandemi Covid-19 mulai jangka pendek, menengah, hingga panjang.

”Ini yang harus dipahami. Menurut saya, ini bukan soal dikendalikan, tapi lakukan saja programnya bahwa testing diperbaiki, 300 ribu ini setengahnya saja tidak, atau seperempatnya (masih) jauh.

Jadi ini yang harus dibangun adalah tunjukkan performa untuk pengendalian seperti apa targetnya," ujarnya.(tribun network/yud/dod)

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved