Selain Rumah Diperbaiki, Dua Anak Yatim yang Terlantar di Serang Akan Disekolahkan
Subadri menekankan masalah sosial berupa rumah tidak layak huni dan pendidikan yang dialami kedua anak yatim itu harus dapat diselesaikan.
Penulis: Ahmad Tajudin | Editor: Abdul Qodir
Usup terpaksa berhenti sekolah saat masih duduk di bangku kelas enam SD lantaran tak lagi mempunyai biaya.
Pekerjaan sebagai tukang bongkar muat batok kelapa dilakoninya agar bisa bertahan hidup bersama adiknya.
Baca juga: Ayah Meninggal dan Ibunda Kabur, Secuil Kisah Pilu Dua Anak Yatim yang Hidup Terlantar di Serang
"Kalau nggak kerja, kita mau makan apa," ujar Usup saat ditemui di kediamannya, Kampung Kedaung RT 06/03 Kelurahan Cilaku Kecamatan Curug, Kota Serang. Rabu, (17/2/2021).
Meski masih di bawah umur, pekerjaan bongkar muat batok kelapa dilakukan Usup pada malam hingga pagi hari.
Dari pekerjaan itu, ia mendapat upah sekitar Rp 30.000 setiap hari.
Rumah kedua anak yatim itu berada tidak jauh dari Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) di Kota Serang.
Namun, keduanya yang hidup terlantar di sebuah rumah rapuh justru belum tersentuh bantuan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/kisah-anak-yatim-hidup-terlantar-di-kota-serang.jpg)