Lebih Banyak Main Saat Pandemi jadi Salah Satu Pemicu Pelecehan Seksual Anak di Kota Serang
"Sekolah online kan cuma satu hingga dua jam, selebihnya mereka kan asik main hp. Buka-buka internet, facebook, instagram, youtobe dan lain-lain,"
Penulis: Ahmad Tajudin | Editor: Abdul Qodir
Laporan Wartawan TribunBanten.com Ahmad Tajudin
TRIBUNBANTEN.COM, KOTA SERANG - Kota Serang mencatat ada 45 kasus kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan dan anak di Kota Serang selama masa pandemi Covid-19.
Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB)
Sepanjang 2020, kasus pelecehan seksual terhadap anak di Kota Serang ada 18 kasus. Dan pada awal 2021, bertambah 9 kasus.
Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DP3AKB Kota Serang Mamah Rohmah menjelaskan kasus pelecehan seksual terhadap anak di Kota Serang sebagian besar dilakukan oleh orang terdekat, keluarga hingga tetangga.
"Pelecehan seksual yang terjadi pada anak ini, rata-rata terjadi pada orang terdekat dari korban. Dimana pelakunya merupakan seseorang yang dikenal," ujarnya saat ditemui di kantor DP3AKB Kota Serang, Jalan Kolonel Tubagus Suwardi, Kelurahan Lontarbaru, Kecamatan Serang, Kota Serang, Jumat (12/3/2021).
Mamah mengungkapkan pengalamannya selama menangani kasus pelecehan seksual terhadap anak di Kota Serang.
Baca juga: Polda Banten Tangani 3.623 Tindak Pidana, Kapolda: Kami Menyoroti Tingginya Kasus Pelecehan Seksual
Baca juga: Modus Pinjam Kamar Nenek untuk Kerokan, Eh Ternyata Pria Asal Lampung Cabuli Anak di Bawah Umur
Ia menyampaikan bahwa salah satu pemicunya pelecehan seksual terhadap anak di wilayahnya dikarenakan lebih banyak waktu anak untuk bermain tanpa pengawasan selama penerapan pembelajaran online di pandemi Covid-19.
"Dimana dampak dari adanya pandemi Covid-19 ini, sistem pendidikan dilakukan secara daring atau online," ujarnya.
Ia menilai bahwa sistem belajar yang dilakukan selama ini, kurang efektif terhadap pembelajaran bagi seorang anak.
"Sekolah online kan cuma satu hingga dua jam, selebihnya mereka kan asik main hp. Buka-buka internet, facebook, instagram, youtobe dan lain-lain," ujarnya.
Baca juga: FAKTA Setahun Belajar Online, Sekolah di Kota Serang Jadi Sarang Ayam Bertelur, Ini Videonya
Baca juga: Target Belajar Tatap Muka di Banten Dimulai Juli 2021, Bagaimana Persiapannya?
Mamah menilai bahwa minimnya kegiatan pendidikan terhadap anak, membuat anak lebih sering bermain.
"Mereka asik main, kumpul-kumpul bersama. Kenal sana sini, akhirnya terjadilah pelecehan seksual di situ," ujarnya.
Ia menambahkan beberapa kasus pelecehan seksual anak di berbagai daerah berbeda-beda.
Namun, umumnya kasus pelecehan seksual terhadap anak yang ditemui di Kota Serang, merupakan dampak dari pergaulan si anak serta perilaku menyimpang orang terdekat dan kenalan korban.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/ilustrasi-pelecehan-seksual-anak-di-bawah-umur.jpg)