Warga di Ciledug Terpaksa Keluar Masuk Rumah Panjat Pagar Beton 2 Meter dan Berduri, Ini Penyebabnya

Baru kali ini terjadi, warga yang hendak ke luar rumah harus memanjat pagar. Itulah kondisi yang dirasakan warga di Tajur, Kecamatan Ciledug

Tayang:
Editor: Yulis Banten
WARTA KOTA/ANDIKA PANDUWINATA
Kediaman Melinda di RT 04 / RW 03 Jalan Akasia, Kelurahan Tajur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang dipagar tembok beton. Ruli yang membangun dinding tersebut mengurung rumah Melinda. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNBANTEN.COM, TANGERANG - Baru kali ini terjadi, warga yang hendak ke luar rumah harus memanjat pagar

Itulah kondisi yang dirasakan warga di Tajur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang.

Sebab, warga Jalan Akasia Nomor 1 RT 04/03, Tajur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang harus memanjat tembok beton setinggi dua meter untuk keluar masuk rumahnya.

Mulai dari anak-anak, hingga orang dewasa harus memanjat tembok beton berjeruji tajam untuk beraktivitas.

Lantaran, akses jalan ke rumahnya terbeton layaknya terkurung dalam sangkar.

Satu dari dari beberapa pemilik rumah, Asep menjelaskan kalau dirinya sudah jadi ahli panjat tembok beton sejak dua tahun lalu.

Baca juga: Anton Medan Berjuang Melawan Diabetes Sebelum Akhirnya Wafat, Sempat Terjatuh Dari Tempat Tidur

Potret warga Jalan Akasia Nomor 1 RT 04/03, Tajur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang harus memanjat tembok beton setinggi dua meter untuk keluar masuk rumahnya di kawasan Tajur, Kota Tangerang, Senin (15/3/2021).
Potret warga Jalan Akasia Nomor 1 RT 04/03, Tajur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang harus memanjat tembok beton setinggi dua meter untuk keluar masuk rumahnya di kawasan Tajur, Kota Tangerang, Senin (15/3/2021). (TRIBUNJAKARTA.COM/EGA ALFREDA)

Sebab, proses betonisasi terjadi sejak tahun 2019.

Asep menjelaskan, almarhum kakeknya, Munir, membeli rumah melalui acara lelang dari sebuah bank.

Munir pun berhasil membeli tanah dengan harga murah seluas 1.000 meter.

"Sekitar tahun 2016 beli rumah, harganya murah banget dari hasil lelang. Itu sudah lengkap sama bangunannya," kata Asep, Senin (15/3/2021).

Pasalnya, almarhum Munir tidak tahu menahu soal kepemilikan tanah tersebut.

Tiba-tiba pada tahun 2019, seseorang yang mengaku pewaris tanah tiba-tiba datang.

"Tapi jalan yang di situ punya saya dipagar lah jalan itu," kata Asep menirukan nada yang mengaku sebagai ahli waris.

"Saat itu, kami masih dikasih akses masuk, cuma bisa satu motor," tambah Asep

Baca juga: Rumah Warga Ciledug Tangerang di Pagar Beton Pemilik Lahan, Satu Keluarga Keluar Masuk Panjat Tembok

Lanjutnya, ketika memasuki musim hujan awal tahun ini, kawasan tersebut digenangi banjir tinggi.

Menyebabkan beton yang menghalangi rumahnya roboh.

"Eh malah setelah banjir dipasang kawat di atas," keluh Asep.

Asep juga mengatakan, ibunya mengalami trauma saat beton yang menutupi rumahnya roboh.

Dikarenakan, Ruli yang mengaku sebagai pemilik tanah mengancam dengan menggunakan senjata tajam berjenis golok.

"Ibunya ini sempet dikalungin golok gara-gara pager roboh. Kemarin itu kerendem banjir, nah tiba-tiba katanya pager ada yang roboh. Engga tahu lah entah karena banjir atau karena ambles," cerita Asep.

Pada kesempatan tersebut, Asep menerangkan bahwa sebenarnya jalanan tersebut di waqafkan oleh orang tua dari Ruli.

"Menurut informasi almarhum Munir itu hibah dari pada bapaknya yang punya lahan ini, artinya yang punya bapaknya Ruli," tandas Asep.

Awalnya viral sebuah video di media sosial Instagram yang memperlihatkan sejumlah pria membuat pagar dengan tumpukan beton di salah satu rumah di kawasan Pondok Kacang, Ciledug, Kota Tangerang.

Baca juga: Dihamili Kekasih Lalu Nomor Diblokir, Remaja 16 Tahun Buang Bayinya ke Selokan

Trauma

Warga lainnya yakni Melinda dan keluarganya juga mengaku kesulitan untuk masuk ke area pekarangan rumah sendiri.

Hal ini, karena terdapat beton setinggi lebih dari 2 meter berada persis di depan kediaman Melinda.

Bahkan pagar beton ini dipasangi kawat sehingga sulit jika melewati akses tersebut.

Rumah itu berlokasi di RT 04 / RW 03 Jalan Akasia, Kelurahan Tajur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, Banten.

Tak ada jalan keluar dan Melinda beserta keluar terkurung di dalamnya.

"Susah lewat, makanya ditaruh bangku - bangku untuk naik," ujar Melinda.

Baca juga: Mirip Kamp Militer, Akses Rumah Warga di Ciledug Tangerang Ditutup Dinding Sepanjang 300 Meter

Baca juga: Dinas Kesehatan Kota Tangerang Beri Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua kepada Pelayan Publik

Melinda pun hanya bisa pasrah.

Pemasang pagar beton itu yakni Ruli yang mengklaim bahwa lahan tersebut miliknya.

Sehingga dibangun tembok setinggi dua meter lebih dan dipasangi kawat.

"Kasihan anak-anak masih kecil, kalau keluar harus manjat," ucapnya.

Lebih parah lagi jika turun hujan.

Kondisi licin dan dekat kabel listrik berada di atasnya.

"Badan pada lecet - lecet, jatuh juga. Kalau malam hari juga ngeri," kata Melinda tampak sedih

Baca juga: Cerita Anton Medan Hidup Susah Hingga Terlibat Kriminal Saat Remaja, Menangis Saat Cerita Soal Ibu

Diancam Golok

Sementara itu, Kapolsek Ciledug, Kompol Wisnu Wardana, mengungkapkan bahwa Melinda dan keluarganya pernah diintimidasi.

Keluarga Melinda sempat mendapat intimidasi dari Ruli, yang mengklaim bahwa itu merupakan lahan miliknya.

"Terkait kasus pengancaman," ujar Wisnu kepada Warta Kota, Minggu (14/3/2021).

Menurutnya, pihak keluarga korban telah melaporkan perihal ini kepada polisi.

Dan saat ini polisi tengah menindak lanjuti laporan tersebut.

"Untuk laporan ke kepolisian sementara berproses," ucapnya.

Wisnu menyebut jajarannya sudah melakukan pemeriksaan.

Keterangan dari keluarga korban telah digali.

"Kemarin sudah dimintai keterangan oleh penyidik dari pihak pelapor," kata Wisnu.

"Kami sudah mencoba meminta keterangan dari pihak Ruli ini, tapi tidak datang-datang. Ruli ini mengancam korban menggunakan golok selain memagari rumahnya dengan tembok beton," ungkapnya.

Baca juga: Viral Video Para Remaja Syok sedang Makan Tiba-tiba Televisi Meledak Karena Tersambar Petir

Keluarga Melinda Berharap Ada Bantuan

Melinda beserta keluarga besarnya pun berharap ada bantuan dari pihak Pemkot Tangerang.

Hal ini disampaikan oleh kuasa hukumnya, Yasin.

Yasin menceritakan mengenai ikhwal kejadian ini.

"Awalnya itu keluarga besar di sini atas nama Pak Munir membeli lahan dari orang tua Ruli," ujar Yasin.

Kejadian itu berlangsung pada lima tahun silam.

Munir pun sudah meninggal dan mewarisi ke anak-anaknya lahan tersebut.

"Namun, Ruli mengklaim bahwa sebagian lahan di depan rumah keluarga Munir adalah miliknya," ucapnya.

Lalu Ruli membangun pagar beton di rumah yang kini ditempati oleh Melinda.

Bahkan beton setinggi dua meter ini dipagari kawat.

Sehingga tidak ada akses jalan.

Melinda beserta sekeluarga pun terkurung di dalamnya.

"Jadi kalau mau keluar harus manjat. Kami sudah meminta mediasi kepada Ruli, tapi tidak ada tanggapan. Kami meminta dari jajaran Pemerintah Kota Tangerang membantu dalam persoalan ini," kata Yasin.

Baca juga: Enam Pelaku Pembakaran Posko Ormas Ditangkap, Berasal dari Kelompok di Luar Tangerang Selatan

Baca juga: Cinta Kandas Berujung Petaka, Pria Bawa Bensin lalu Bakar Rumah Mantan Kekasih di Curug Tangerang

Camat Ciledug dan Wali Kota Tangerang Merespon

Camat Ciledug, Syarifudin, menjelaskan mengenai persoalan ini.

Ia telah memanggil kedua belah pihak untuk mediasi.

"Saya sudah panggil mereka, tapi dari pihak Ruli tidak datang - datang," ujar Syarifudin kepada Warta Kota, Minggu (14/3/2021).

Bahkan masalah ini sudah sampai ke telinga Wali Kota Tangerang, Arief R Wismansyah.

Arief juga telah mengintruksikan kepada anak buahnya untuk segera atasi permasalahan ini.

"Perintah Pak Wali bongkar paksa tembok beton tersebut," ucapnya.

Syarifudin mennyebut jika pihak Ruli tak ada tanggapan, maka Pemkot Tangerang akan melakukan tindakan tegas.

Yakni sesuai dengan aturan Perundang - undangan.

"Dia (Ruli) ngaku itu lahannya. Padahal kan akses jalan juga di situ. Kami akan segera bongkar," kata Syarifudin.

Kholid Menangis Lihat Cucunya Manjat Pagar Beton Berkawat

Kholid datang melihat kondisi sanak saudaranya yang rumahnya terkurung tembok beton di Ciledug, Kota Tangerang pada Minggu (14/3/2021).

Ia bersama Mulyani, sang istri.

Mulyani merupakan adik dari Munir pemilik lahan tersebut.

Munir telah meninggal belum lama ini.

Di rumah itu ada sekitar 7 orang.

Melinda, suaminya, tiga orang anaknya, dan orang tua.

Saat memasuki rumah tersebut, Kholid dan Mulyani kesulitan.

Pasalnya rumah saudaranya itu dipagari beton.

Dinding beton setinggi lebih dari dua meter.

Panjangnya hingga 180 meter.

Di atasnya dipasangi kawat.

Sehingga harus manjat untuk masuk ke rumah Melinda.

"Ada cucu-cucu saya yang masih kecil di sini. Mereka tidak tau apa-apa, kenapa jadi korban," ujar Kholid tampak menangis saat dijumpai Warta Kota di Ciledug, Kota Tangerang, Minggu (14/3/2021).

Baca juga: PPKM Mikro di Tangerang Raya Diperpanjang Hingga 22 Maret 2021, Berikut Aturannya

Baca juga: Sakit Hati Ditinggal Pacar, Wanita Ini Bunuh dan Buang Bayi di Tempat Sampah Tangerang

Kholid menjelaskan, awalnya Munir membeli lahan ini pada lima tahun yang lalu.

Munir membelinya kepada orangtua Ruli.

"Ruli ini yang bangun pagar di depan rumah. Dia ngakunya itu lahan dia," ucapnya.

Kholid pun tak kuasa menahan sedih.

Ia dari Cengkareng menyempatkan datang untuk melihat kondisi saudaranya itu.

"Saya berharap semoga ini cepat berakhir. Kalau ini terus menerus yang jadi korban ya anak-anak," kata Kholid

Melinda dan keluarga besanya tak pernah mengira bakal mengalami nasib malang seperti sekarang ini.

Ia tak pernah terpikir bakal hidup di dalam 'kurungan' lantaran ada tembok beton yang menghalangi akses dari rumahnya menuju ke luar.

Rumahnya yang berlokasi di RT 04 / RW 03 Jalan Akasia, Kelurahan Tajur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang dipagar tembok beton hingga menutupi akses jalan.

Pembuat pagar beton bernama Ruli mengklaim bahwa itu merupakan lahan miliknya.

Dinding tembok tersebut setinggi lebih dari 2 meter dan dipasangi kawat.

Minta Bantuan Pemkot Tangerang

Melinda, warga beralamatkan di RT 04 / RW 03 Jalan Akasia, Kelurahan Tajur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang rumahnya dipagari beton.

Ia beserta keluarga besarnya berharap ada bantuan dari pihak Pemkot Tangerang.

Hal ini disampaikan oleh kuasa hukumnya yakni Yasin. Yasin menceritakan mengenai ikhwal kejadian ini.

"Awalnya itu keluarga besar di sini atas nama Pak Munir membeli lahan dari orang tua Ruli," ujar Yasin kepada Warta Kota saat dijumpai di Ciledug, Kota Tangerang, Minggu (14/3/2021).

Kejadian itu berlangsung pada lima tahun silam.

Munir pun sudah meninggal dan mewarisi ke anak-anaknya lahan tersebut.

"Namun, Ruli mengklaim bahwa sebagian lahan di depan rumah keluarga Munir adalah miliknya," ucapnya.

Lalu Ruli membangun pagar beton di rumah yang kini ditempati oleh Melinda.

Bahkan beton setinggi dua meter ini dipagari kawat.

Sehingga tidak ada akses jalan, Melinda beserta sekeluarga pun terkurung di dalamnya.

"Jadi kalau mau keluar harus manjat. Kami sudah meminta mediasi kepada Ruli, tapi tidak ada tanggapan. Kami meminta dari jajaran Pemerintah Kota Tangerang membantu dalam persoalan ini," kata Yasin.

Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Nasib Malang Satu Keluarga di Ciledug, Rumahnya Terisolasi Tembok Beton, Pernah Diancam Pakai Golok

Tulisan ini sudah tayang di Tribunnews.com berjudul Cerita Rumah Keluarga Melinda Dipagar Beton dan Diancam Golok Sampai ke Telingan Wali Kota Tangerang


Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved