Kisah Inspiratif, Pasutri asal Desa Mander Banten yang Tak Lelah Menganyam Bambu hingga Usia Senja
Kisah sepasang suami-istri asal Kampung Buah, Desa Mander Kecamatan Bandung, Kabupaten Serang, Banten.
Penulis: desi purnamasari | Editor: Glery Lazuardi
Laporan Wartawan TribunBanten.com, Desi Purnamasari
TRIBUNBANTEN.COM, KABUPATEN SERANG - Kisah sepasang suami-istri asal Kampung Buah, Desa Mander Kecamatan Bandung, Kabupaten Serang, Banten.
Arydin dan Aswinah menganyam bambu untuk dijadikan hasil kerajinan tangan.
Dari hasilnya anyaman bambu itu, pasangan suami istri tersebut mampu menyekolahkan anak hingga jenjang SMA.
Baca juga: Kisah H Aliyudin, Mantan Direktur PDAM yang Banting Setir jadi Perajin Miniatur Bambu
Baca juga: Selama Pandemi Covid-19, Omzet Kerajinan Tangan Khas Banten Turun Hingga 70 Persen
Berdasarkan pemantauan wartawan TribunBanten.com pada Minggu (14/3/2021) kemarin, terdengar senandung solawat mengiringi mereka menganyam bambu.
Jemari Arydin lincah membelah bambu menjadi ukuran tipis, hingga menumpuk dan segera dianyam.
Saat berkunjung ke lokasi terlihat di beberapa rumah terdapat tumpukan anyaman bambu.
Pada usia 70 tahun, Arydin dan Aswinah yang sudah rentan masih gesit dan bersemangat menganyam bambu.
Mereka mempelajari anyaman bambu sejak kecil.
Arydin mengatakan, membuat anyaman hanya menggunakan perasaan dan pikirannya saja.
Sebab penyakit yang diderita sejak usia tujuh tahun membuatnya tidak dapat kembali melihat.
Arydin bercerita, dahulu sempat putus asa dan merasa tidak beguna karena penyakit yang dideritanya tersebut.
"Satu tahun saya menderita penyakit cacar, hingga membengkak pada seluruh badan," ujarnya saat ditemui, TribunBanten.com, pada Minggu (14/3/2021).
Sekitar tahun 1965, kata dia, belum ada dokter dan klinik pengobatan terdekat di daerah tempat tinggalnya.
Akhirnya, dia mendapatkan pengobatan dari obat rempah-rempah yang dibuatkan oleh orang tua.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/pasutri-penganyam-bambu-1.jpg)