Perjuangan Ronny Lukito Merintis Eiger, Modal 2 Mesin Jahit, Kini 157 Mesin Bernilai Miliaran Rupiah
Sebagai informasi, mesin produksi di pabrik ini sebagian menggunakan pemrograman.
TRIBUNBANTEN.COM - Ronny Lukito sudah merintis usaha Eiger pada 1979.
Dia adalah lulusan sekolah teknik menengah (STM).
Setelah lulus, Ronny membantu ayahnya membuka usaha toko kelontong.
Dia kesulitan biaya untuk melanjutkan kuliah.
Bermodalkan dua buah mesin jahit, Ronny mencoba untuk memproduksi tas sendiri.
"Brand pertama kita, itu brand Exsport. Lalu di tahun 1989 nama Eiger akhirnya muncul," kata Deputy CEO PT Eigerindo Multu Produksi Industri Christian Hartanto Sarsono, Senin (15/3/2021).
Dia bercerita kepada wartawan saat media gathering di Eigerindo Multi Produksi Industri di Katapang, Kabupaten Bandung.
"Brand pertama kita, itu brand Exsport. Lalu pada 1989 nama Eiger akhirnya muncul," kata Christian.
Harimula Muharam, GM Marketing PT Eigerindo Multi Produk Industri mengatakan meski usaha ini sudah dirintis sejak 1979, tapi merek pertama yang diproduksi kala itu bukanlah Eiger, tetapi Butterfly.
Nama Butterfly diambil dari nama mesin jahit yang digunakan Ronny.
Namun, tak lama setelahnya, nama Butterfly diubah menjadi Exxon dan kembali berubah menjadi Exsport yang merupakan singkatan dari Exxon Sport.
"Nah, pada tahun 1989 dimulai bikin Eiger, dan Eiger itu sendiri kemudian berkembang," ucapnya.
Dikutip dari situs resminya, nama Eiger sendiri terinspirasi dari Gunung Eiger berketinggian 3.970 mdpl.
Gunung ini, disebut menjadi gunung tersulit didaki ke-3 di dunia yang terletak di Bernese Alps, Swiss.
Kini, produk Eiger sudah berkembang pesat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/proses-produksi-pembuatan-tas-eiger-di-bandung-jawa-barat.jpg)