Dinkes Pandeglang Didemo Warga dan Mahasiswa Gara-gara Unggahan Ibu Hamil Ditandu di Medsos
Koordinator lapangan aksi, Elien Robiqi mengatakan menilai pernyataan pihak Dinkes Pandeglang itu menciderai logika masyarakat serta pembohongan publi
Penulis: Marteen Ronaldo Pakpahan | Editor: Abdul Qodir
Laporan wartawan Tribunbanten.com, Marteen Ronaldo Pakpahan
TRIBUNBANTEN.COM, PANDEGLANG - Puluhan mahasiswa dan warga Kecamatan Sindangresmi menggeruduk dan berdemo di kantor Dinkes Kesehatan Kabupaten Pandeglang, Jalan Bhayangkara 3, Pandeglang, Kamis (6/5/2021).
Para mahasiswa dan warga tersebut minta bertemu dan menuntut permintaan maaf Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Raden Dewi Setiani menyusul adanya unggahan foto dan pernyataan soal kejadian ibu hamil ditandu di akun Instagram Dinkes Pandeglang, @Dinkes_Pandeglang.
Beberapa waktu lalu, admin akun Instagram Dinkes Pandeglang mengedit foto ibu hamil Enah (39) yang ditandu oleh warga saat hendak melahirkan karena jalan rusak dengan pernyataan bahwa foto itu menggambarkan aparatur desa dan warga tengah melestarikan budaya gotong-royong.
Warganet ramai-ramai menyerang dan mengkritik unggahan dari akun Instagram Dinkes Pandeglang itu karena dinilai pembohongan publik.
Lantas, admin akun Instagram Dinkes Pandeglang itu menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan pernyataan itu adalah opini pribadi. Dan akhirnya unggahan itu dihapus dari akun Instagram Dinkes Pandeglang.
Baca juga: Dua Ibu Hamil Ditandu Sarung Saat ke Puskesmas Hingga Bayi Meninggal, Kadinkes Pandeglang Menghilang
Koordinator lapangan aksi, Elien Robiqi mengatakan menilai pernyataan pihak Dinkes Pandeglang itu menciderai logika masyarakat serta pembohongan publik.
Selain itu, pihaknya menyayangkan dengan sikap Dinkes Kabupaten Pandeglang yang tidak bertanggung jawab atas pernyataan tersebut.
"Pemda semestinya harus hadir di tengah-tengah masyarakat yang saat sedang kesulitan, bukan malah menghindar dan mencari alasan seolah-olah mereka tak bersalah seperti yang diliris pemda," katanya.
Ia juga menilai selama ini DPRD Kabupaten Pandeglang selaku Wakil Rakyat justru tutup mata dengan adanya kejadian ibu hamil sampai ditandu saat hendak melahirkan karena jalan rusak.
Baca juga: Viral Ibu di Pandeglang Ditandu Saat Akan Melahirkan, DPRD: Miris, Bupati Dua Periode Masih Begini
Baca juga: Viral Ibu Hamil Ditandu Pakai Sarung Melintasi Jalan Rusak, DPRD Soroti Kinerja Pemkab Pandeglang
Selain berorasi dengan pengeras suara, mahasiswa menggelar aksi teatrikal dengan menandu seorang dengan bambu dan sarung sebagai bentuk perjuangan seorang ibu yang akan melahirkan di Pandeglang.
"Jangan hanya ketika membahas anggaran perjalanan dinas mencapai Rp 80 miliar yang bersuara dan bergembira. Kalau anggaran itu dialokasikan kepada jalan di Sindangresmi tersebut yang bisa dirasakan masyarakat," terangnya.
Mahasiswa dan warga sempat berusaha merangsek masuk ke dalam kantor Dinkes Kabupaten Pandeglang, namun berhasil dihalau polisi yang menjaga unjuk rasa.
Pendemo kembali merangnsek masuk ke dalam kantor tersebut setelah janji untuk dipertemukan dengan perwakilan Dinas Kesehatan tak terjadi.
Setelah terjadi dorong-dorongan dan adu mulut, akhirnya pengunjuk rasa membubarkan diri dan melanjutkan unjuk rasa di kantor Sekretaris Daerah Kabupaten Pandeglang.
Kantor Sekda Kabupaten Pandeglang menjadi sasaran unjuk rasa karena sebelumnya Kabag Humas kantor tersebut menyatakan ke media bahwa Pemkab Pandeglang tidak bisa disalahkan atas kejadian meninggalnya bayi kembar Ibu Enah setelah ditandu saat hendak melahirkan karena jalan desa rusak.
Baca juga: Dua Ibu Hamil Ditandu Saat Mau Melahirkan Karena Jalan Rusak, Pemkab Pandeglang Enggan Disalahkan
Pihak Sekda Pemkab Pandeglang beralasan jalan yang dilalui oleh ibu Enah adalah milik PT Perkebunan Nusantara sehingga tidak bisa dibangun oleh pemerintah sebelum ada izin dari perusahaan.
Padahal, warga sudah mengumpulkan tanda tangan yang menyatakan jalan dari perusahaan BUMN itu bisa dibangun pemda.
Diberitakan sebelumnya, viral kisah dua ibu hamil di Pandeglang yang ditandu sarung saat hendak melahirkan gara-gara jalan rusak.
Kedua ibu hamil itu tidak bisa dibawa dengan kendaraan apapun karena kondisi jalan berlumpur dan licin.
Adalah Lina Karlina (25) dan Enah (39) , dua ibu hamil yang sama-sama tinggal di Kecamatan Sindangresmi, Kabupaten Pandeglang, dan melahirkan dalam rentang waktu tidak lama.
Selain jarak jauh ke fasilitas kesehatan puskesmas, jalan yang dilalui kedua hamil itu terbilang berisiko tinggi lantaran jalan setapak yang licin.
Bahkan, Ibu Enah harus menerima kenyataan pahit. Setelah menderita dalam perjalanan menuju tempat persalinan, bayi kembar yang dilahirkannya dinyatakan meninggal dunia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/mahasiswa-dan-warga-demo-di-kantor-dinkes-kesehatan-kabupaten-pandeglang.jpg)