Dampak PJJ Banyak Pelajar Putus Sekolah, Nadiem Makarim Minta Pemda Gelar Pembelajaran Tatap Muka

Sejumlah permasalahan terjadi selama metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) diterapkan.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
Warta Kota/henry lopulalan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (12/12/2019). Rapat kerja tersebut membahas sistem zonasi dan Ujian Nasional (UN) tahun 2020, serta persiapan pelaksanaan anggaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2020. 

TRIBUNBANTEN.COM - Sejumlah permasalahan terjadi selama metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) diterapkan.

Salah satu di antaranya mahalnya biaya kuota untuk mengikuti PJJ. Hal ini mengakibatkan jumlah angka putus sekolah meningkat.

Sebanyak 300 pelajar di tingkat SMP yang berada di Kabupaten Lebak, Banten, putus sekolah di masa metode PJJ.

Baca juga: Ratusan Pelajar di Kabupaten Lebak Putus Sekolah Selama PJJ

Baca juga: PPDB 2021 Tingkat SMA/SMK di Banten Dimulai 14 Juni, 10 Sekolah Masuk Favorit Nasional

Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim meminta pemerintah daerah membuka opsi pembukaan pembelajaran tatap muka di sekolah.

Permintaan ini ditujukan kepada daerah yang telah rampung melaksanakan vaksinasi bagi pendidik maupun tenaga kependidikan.

"Sekali lagi, saya imbau, kepada seluruh satuan pendidikan, jika ibu dan bapak guru serta tenaga pendidikan sudah divaksinasi mohon segera memberikan opsi PTM terbatas," kata Nadiem dalam Seri Webinar Guru Belajar Pembelajaran Tatap Muka Terbatas, Jumat (28/5/2021).

Nadiem mengatakan dirinya hingga hari ini masih sering mendengar aduan pelajar terhadap penerapan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ). Banyak dari mereka yang rindu belajar di kelas, bertemu guru dan teman sebayanya.

"Saya masih cukup sering mendengar keluhan para pelajar yang ingin kembali bersekolah, mereka bertanya kapan sekolah dibuka lagi, kapan bisa bertemu guru dan teman-teman, hal itu membuktikan anak-anak kita sudah tidak sabar," ungkapnya.

Oleh karena itu Nadiem menyatakan sudah tiba waktunya pendidikan di Indonesia bangkit dan melanjutkan hal - hal yang sempat tertunda selama pandemi. Kendati begitu, ia menegaskan keselamatan dan kesehatan warga sekolah harus jadi prioritas.

"Oleh karena itu sudah tiba waktu untuk kita bangkit dan meneruskan hal yang sempat tertunda selama pandemi. tentu keselamatan warga sekolah masih menjadi prioritas," pungkas Nadiem.

Baca juga: PPDB di Kabupaten Lebak Dibuka Mulai 17 Mei Sampai 1 Juli, Prioritas Jalur Zonasi Sekolah

Baca juga: Wali Kota Tangsel Sebut Sekolah Tatap Muka Belum Tentu Dimulai Pada Tahun Ajaran Baru 2021

Sebelumnya, sebanyak 300 pelajar di tingkat SMP yang berada di Kabupaten Lebak, Banten, putus sekolah di masa metode pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Ratusan pelajar putus sekolah itu tersebar hampir di 28 kecamatan yang ada di Kabupaten Lebak.

Kepala Dinas Pandidikan Kabupaten Lebak Wawan Ruswandi, mengatakan para siswa meminta untuk tidak sekolah.

Menurut dia, hal ini karena mereka tidak dapat mengikuti metode PJJ.

"Tidak benar di DO. Mereka tidak bersekolah lantaran mengikuti kerja orangtuan dan karena tidak kuat belajar secara daring," kata dia, saat ditemui, Jumat (28/5/2021).

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved