Kisah Nelayan di Pabuaran Kabupaten Serang, Gadaikan Sertifikat Demi Perbaiki Perahu

Isra (45) nelayan asal Pabuaran, Kabupaten Serang terpaksa tetap melaut mencari ikan demi memenuhi kebutuhan rumah tangganya

Penulis: desi purnamasari | Editor: Yudhi Maulana A
TribunBanten.com/Desi Purnamasari
Isra (45), nelayan di Pabuaran, Kabupaten Serang yang terpaksa harus tetap melaut meski pendapatannya menurun 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Desi Purnamasari

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Isra (45) nelayan asal Pabuaran, Kabupaten Serang terpaksa tetap melaut mencari ikan demi memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Hal itu terpaksa ia lakukan karena kondisi keuangannya terdampak karena Covid-19. 

"Saat pandemi seperti ini, saya sebenarnya sangat terpukul karena hasil-hasil penjualan tidak langsung terjual karena kebanyakan masyarakat terhalang sama kebutuhan lain," katanya kepada TribunBanten.com, Sabtu (2/10/2021).

Isra (45) yang merupakan warga Lampung bermigrasi ke Pabuaran sejak usianya masih muda dan telah menjadi nelayan saat usia 18 tahun tersebut mengikuti jejak orang tuanya yang juga seorang nelayan.

Melaut baginya sendiri sudah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupannya, meskipun pendapatannya tak seberapa dengan resiko yang ia dapat ketika pergi ke tengah laut namun ia selalu bersyukur.

Menurutnya selama pandemi ia dan kawan-kawan tidak terlalu sering pergi ke laut, sebelum pandemi ia berangkat ke laut biasanya empat kali dalam seminggu namun sekarang hanya dua kali dalam seminggu itu pun tergantung cuaca dan ombak.

Baca juga: Nelayan Diterkam Buaya saat Cari Ikan Bersama Istri, Korban Minta Tolong 3 Kali Sebelum Hilang

Dia juga bercerita tentang bagaimana nelayan bisa bertahan saat pandemi, seperti yang ia alami sampai menggadaikan sertifikat rumah demi dapat memperbaiki kapal yang rusak akibat diterjang karang agar bisa beraktivitas kembali.

"Iya, walaupun ada berbagai cobaan kita tetap bertahan, namun sangat disayangkan kami sebagai nelayan kecil jarang menerima bantuan dari pemerintah," ucapnya saat ditemui di lokasi.

Beberapa di antaranya untuk jaring karena seringkali rusak menggantinya sementara guna menggantinya tangkapan penjualan ikan saat ini tidak banyak.

Ia juga menuturkan menjadi nelayan tidak mudah apalagi dengan pendapatan yang tak seberapa namun sangat dibutuhkan sekali bagi masyarakat dan negara.

Baca juga: Warga Desa Lontar Nobar Film Wong Miyang, Obati Kerinduan para Nelayan Tentang Tradisi Ruwat Laut

Sementara itu, kapal miliknya yang berbahan fiber sendiri menjadi andalan baginya agar dapat memenuhi berbagai kebutuhan.

Beruntungnya ia memiliki kapal berbahan fiber, dimana itu sangat memudahkannya untuk merawat tidak seperti bahan kayu yang mahal dan susah dirawat.

Dalam sekali menangkap kapalnya dapat membawa sekitar satu ton ikan akan tetapi untuk saat ini jarang mendapat ikan banyak sebanyak itu hal itupun turut dipengaruhi oleh faktor cuaca.

Waktu seharian pun biasa ia habiskan di kapal karena jadwal berangkatnya biasa dari sore hingga esok pagi.

Sumber: Tribun Banten
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved