Breaking News:

Babak Baru Dugaan Pelecehan Mahasiswi Untirta, Kuasa Hukum Presma Minta Kampus Cabut Surat Keputusan

Tim kuasa hukum Presma Untirta, KZ mendatangi Rektorat Untirta dan meminta untuk membatalkan Surat Keputusan Rektor.

Penulis: desi purnamasari | Editor: Yudhi Maulana A
TribunBanten.com/Desi Purnamasari
Tim kuasa hukum dari KZ, Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) yang diduga lakukan pelecehan datangi Rektorat Untirta pada Kamis (21/10/2021). 

Laporan Wartawan TribunBanten.com, Desi Purnamasari

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Kasus dugaan pelecehan terhadap Mahasiswi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) yang diduga dilakukan oleh Presiden Mahasiswa (Presma), KZ memasuki babak baru.

Tim kuasa hukum KZ mendatangi Rektorat Untirta Pada Kamis (21/10/2021) dan meminta untuk membatalkan Surat Keputusan Rektor.

Kuasa Hukum KZ, Raden Elang Yayan Mulyana, mengatakan sejak diterbitkan Surat Keputusan Rektor tersebut KZ tidak pernah dipanggil oleh pihak kampus terlebih dahulu oleh pihak Untirta sebagai terduga pelaku pelecehan seksual.

“Keputusan tersebut tidak objektif, mendahului keputusan hukum dan Undang-Undang sehingga berpotensi menimbulkan kerugian bagi klien kami," katanya saat ditemuai di Kampus Untirta Sindangsari, Kamis (21/10/2021).

Gedung Untirta Serang
Gedung Untirta Serang (TribunBanten.com/Desi Purnamasari)

Menurutnya hal tersebut dibuat dengan cara- cara tidak sah alias cacat formil dan untuk itu seharusnya surat keputusan tersebut dicabut atau dibatalkan.

Pihaknya menyayangkan pihak kampus tidak pernah melakukan klarifikasi baik terhadap terduga pelaku maupun korban.

"Pihak kampus tidak pernah memanggil terduga pelaku mengadakan mediasi untuk kedua belah pihak," katanya.

Hingga saat ini pun ia dipersulit untuk menemui pihak rektorat kampus dengan alasan ada kegiatan.

Baca juga: Mahasiswi Untirta yang Diduga Dilecehkan Presma Lapor Polisi, Bawa Bukti Video Pengakuan Pelaku

"Kami menilai proses yang dilakukan terhadap klien kami tidak adil, ketika pihak rektorat mengeluarkan surat pun tidak pernah memanggil klien kami," ucapnya.

Ia juga mengatakan kliennya pun kini mendapat kerugian nama baik serta terancam masa depannya.

Hingga saat ini pun klien kami diskors selama satu semester sehingga mengganggu aktivitas kegiatan belajarnya.

"Kita harap pihak kampus tetap mengedepankan klarifikasi berkeadilan dengan menemui korban serta pelaku, sehingga tidak merugikan keluarga yang bersangkutan," ujarnya.

Baca juga: Mahasiswi Untirta yang Diduga Jadi Korban Pelecehan Oleh Presma Lapor Polisi

Pihak terduga juga ke depan kemungkinan akan mengajukan upaya hukum gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Serang.

"Jika tidak ada jawaban atau itikad baik dari rektorat kita akan kawal hingga ke peradilan tata usaha negara," tambahnya.

Sumber: Tribun Banten
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved