Resensi Buku

Resensi Buku "Kopassus Untuk Indonesia-Profesionalisme Prajurit Kopassus", Kisah tak Terceritakan

Kompilasi berbagai kisah-kisah heroik ini dikatakan akan menjadi jejak jelas yang kelak berguna bagi para penerus dan pasukannya.

zoom-inlihat foto Resensi Buku
dokumentasi AM Putut Prabantoro
Buku "KOPASSUS UNTUK INDONESIA” – "Profesionalisme Prajurit Kopassus.”

Oleh karenanya, regenerasi dan kaderisasi pasukan komando ini merupakan tradisi dari generasi ke generasi.

Baca juga: Batalyon 812 Satuan 81 Kopassus Meraih Juara Lomba Tembak di Sumatera Utara

Penghormatan, sebagai contoh, tidak hanya berlaku bagi yunior kepada senior, tetapi juga dari senior kepada yunior.

Saling menjaga kehormatan antara yunior dan senor sudah diawali sejak lahirnya pasukan khusus.

Ada kisah menarik digelar dalam buku ini tentang Kapten (Purn) Wardi.

Atas penunjukan Kapten Sandihardjo pada tahun 1950-an, Wardi yang bintara (onder officier) diangkat sebagai satu dari 40 pelatih pasukan RPKAD.

Pada waktu itu, pasukan RPKAD memiliki peran penting meredam gerakan radikal dan separatis yang merongrong keutuhan NKRI.

Setelah empat tahun menjadi pelatih, Wardi ingin juga menyandang brevet seperti anak didiknya.

Oleh karena itu, ia pun mengikuti pendidikan dasar komando dan digembleng oleh pelatih muda dari angkatan kedua komando generasi LB Moerdani, yakni Dading Kalbuadi dkk yang tidak lain adalah anak didiknya sendiri.

Baca juga: Prajurit Grup 1 Kopassus Bersama Persit Gelar Bakti Sosial, Bagikan Paket Sembako Seminggu ke Depan

TIDAK HEBAT TAPI TERLATIH
Kopassus akan selalu menjadil solusi Indonesia juga ditegaskan oleh Jenderal TNI (Pur) Agum Gumelar.

Komandan Kopassus ke-13 (1993-1994) ini mengatakan Satuan Baret Merah harus menjadi satuan yang dibanggakan seluruh rakyat Indonesia.

Jadilah prajurit Komando yang mencintai dan dicintai seluruh rakyat Indonesia.”

Komandan Kopassus ke-12, Letjen TNI (Purn) Tarub berujar, “Kami tidak hebat tetapi terlatih, Semangat ini harus dipertanggungjawabkan demi keberhasilan tugas.”

Oleh karena itu, selain menang tanpa harus ada pertumpahan darah, menjadi pasukan Komando siap untuk diturunkan dalam operasi darat, laut, dan udara.

Mereka dilatih secara khusus dan ditempa latihan tempur di hutan dan gunung bersuhu ekstrem.

Menurut Letjen TNI (Pur) Sintong Panjaitan, Komandan Kopassus ke 10 (1985-1987), prajurit Kopassus harus jadi prajurit berdisiplin tinggi yang setia kepada negara.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved