Resensi Buku
Resensi Buku "Kopassus Untuk Indonesia-Profesionalisme Prajurit Kopassus", Kisah tak Terceritakan
Kompilasi berbagai kisah-kisah heroik ini dikatakan akan menjadi jejak jelas yang kelak berguna bagi para penerus dan pasukannya.

"Tunduk dan taat kepada atasan dan pimpinan, pemimpin yang diakui negara. Jadi kita bisa bersatu, membuat negara ini lebih damai dan baik,” ucapnya.
Baca juga: Grup 1 Kopassus Lakukan Penghijauan dengan Menanam 13 Ribu Pohon di Serang dan Bogor
Sejarah panjang nama besar Kopassus diawali dari usulan Letkol Ignatius Slamet Riyadi pada 1950 yang merasa perlu dibentuk pasukan khusus.
Ide itu sejalan dengan cita-cita atasannya yakni Kolonel Alex Evert Kawilarang saat menjabat Panglima Tentara & Teritorium I/Sumatera.
Hubungan erat keduanya mewujudkan gagasan pembentukan pasukan komando dengan ditandatangani surat keputusan pembentukan pasukan komando oleh Kolonel Kawilarang pada 16 April 1952 dan Mayor Inf Mochammad Idjon Dhambi.
Idjon Dhambi adalah eks perwira commando didikan Inggris dan sekaligus veteran Perang Dunia II sebagai komandan pertama.
Dengan berspiritkan “Lebih Baik Pulang Nama, Daripada Gagal Di Medan Laga”, berbagai medan pertempuran ditundukan oleh pasukan khusus.
Sebut saja, DI/TII, Aceh, PRRI, Permesta, Operasi Woyla, Operasi Tinombala, Operasi Simpang Angin dll.
Danjen Kopassus Ke-15 (1995-1998), Letjen TNI (Pur) Prabowo Subianto mengatakan, keberhasilan yang telah dicapai selama ini harus dipupuk, dipelihara dan ditingkatkan.
"Dalam rangka menghadapi dinamika perkembangan situasi global, regional dan nasional yang bergulir dengan kompleksitas yang tinggi. Semua itu perlu diantisipasi dengan cepat, tepat, dan akurat dari setiap anggota Kopassus baik dalam hubungan perorangan maupun satuan. Komando!” katanya.
Memang tidak semua berjalan mulus, ada beberapa anggota Kopassus yang meninggal di medan yuda.
Sebut saja, Mayjen TNI (Anumerta) IGP Danny karya Nugraha yang tewas di Papua, RA Fadillah, Mayor Inf. Tatang Sutresna, Kopda (Anumerta) Suparlan, Lettu (Anumerta) Ahmad Kirang dll.
Baca juga: Komandan Grup 1 Kopassus Bersama Persit Bersilaturahmi ke Veteran Pejuang 45 di Banten
Sebagai tanda penghormatan, nama-nama mereka diabadikan di Kopassus dalam berbagai bentuk.
Nama harum Kopassus yang melegenda tidak hanya memberikan kebanggaan kepada para anggotanya, tetapi juga menjadi “kesakralan” bagi seluruh anggota termasuk purnawiranya.
Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan, sebagaimana dikutip dalam buku ini, mengatakan, “Saya tidak akan pernah abuse my power, karena saya percaya Tuhan telah mengatur hidup ini."
"Selama masih sehat dan bisa mengabdi pada pemerintah mengabdilan. Sekarang ini saya tidak mau bikin cacat karena saya tidak mau mencederai Korps Baret Merah ini. Saya tidak akan mengkhianati Korps Baret Merat. I promise you. Sesuaikan kata dan perbuatan.”