HUT RI ke-78, Ini Daftar Empat Pahlawan Nasional Asal Banten

Menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia atau HUT RI ke-78, berikut ini daftar pahlawan nasional asal Banten.

Editor: Abdul Rosid
Kolase/NU Online
Menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia atau HUT RI ke-78, berikut ini daftar pahlawan nasional asal Banten. 

KH Syam’un masih keturunan KH Wasid, tokoh "Geger Cilegon" 1888 (Perjuangan melawan Pemerintah Kolonial Belanda). Sejak masih anak-anak Brigjen KH Syam’un mendapat pendidikan pesantren.

Pada usia 4 tahun sudah dikirim orangtuanya menimba ilmu agama di pesantren Delingseng, selama dua tahun (1898-1900). Ki Syam'un yang masih usia balita belajar di bawah asuhan KH Sa’i, dilanjutkan ke Pesantren Kamasan (1901-1904) dibawah asuhan KH Jasim.

Pada umur 11 tahun (seusia murid sekolah dasar kelas 5) ia melanjutkan studi ke Mekah (1905-1910) berguru di masjid Al-Haram tempat ahli-ahli keislaman terbaik di dunia berkumpul membagi ilmu.

Pendidikan akademiknya dilalui di Al-Azhar University Cairo Mesir dari 1910-1915. Saat kembali ke Indonesia, Syam'un justru bergabung dengan PETA yang notabene adalah gerakan pemuda bentukan Jepang.

Bagi orang yang tidak mengerti ia mungkin dianggap plin-plan. Padahal, bergabungnya ia dengan PETA merupakan strategi untuk mempersiapkan perlawanan ke Jepang.

Dalam PETA, jabatan KH Syam’un adalah Dai Dan Tyo yang membawahi seluruh Dai Dan I PETA dengan wilayah kekuasaannya meliputi Serang, yang pada akhirnya pindah ke Labuan.

Selama menjadi Sai Dan Tyo, KH Syam’un sering mengajak anak buahnya untuk memberontak dan mengambil alih kekuasaan Jepang.

Maksud tersebut ia utarakan kepada Pemimpin Dai Dan Tyo M KH Oyong Ternaya dan Dai Dan Tyo IV Uding Surya Atmadja untuk mengumpulkan kekuatan.

Keterlibatan KH Syam’un dalam dunia militer mengantarkan KH Syam’un menjadi pimpinan Brigade l Tirtayasa Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan berganti menjadi TNI Divisi Siliwangi.

Dengan pangkat terakhir BrigadirJendral (Brigjen), Karir KH Syam'un di ketentaraan terbilang gemilang hingga diangkat menjadi Bupati Serang periode 1945-1949.

4. Raden Aria Wangsakara

Dalam sejumlah literatur yang bercerita tentang Babad Tangerang dan Babad Banten disebutkan, Wangsakara merupakan keturunan Raja Sumedang Larang, Sultan Syarif Abdulrohman.

Bersama dua kerabatnya, Aria Santika dan Aria Yuda Negara, Wangsakara lari ke Tangerang karena tidak setuju dengan saudara kandungnya yang malah berpihak kepada VOC.

Wangsakara yang kemudian memilih menetap di tepian Sungai Cisadane diberi kepercayaan oleh Sultan Maulana Yusuf, pemimpin Kesultanan Banten kala itu, untuk menjaga wilayah yang kini dikenal sebagai Tangerang, khususnya wilayah Lengkong, dari pendudukan VOC.

Sehari-hari, Wangsakara yang juga pernah didapuk sebagai penasihat Kerajaan Mataram menyebarkan ajaran Islam. Namun, aktivitas Wangsakara menyebarkan ajaran Islam mulai tercium oleh VOC tahun 1652-1653.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved