Program Makan Bergizi Gratis Mulai 6 Januari, Cek di Sini Menu Makanan untuk Wilayah Banten

Pada Senin (6/1/2025), program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang merupakan janji kampanye Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabumi

Editor: Glery Lazuardi
Endrapta Pramudhiaz
Ilustrasi program makan bergizi gratis 

TRIBUNBANTEN.COM - Pada Senin (6/1/2025), program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang merupakan janji kampanye Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, resmi diluncurkan. 

Program ini diselenggarakan untuk membantu pemenuhan gizi bagi balita, anak-anak sekolah, santri, ibu hamil, dan ibu menyusui di seluruh Indonesia. 

Program ini juga menandai tonggak sejarah sebagai upaya pertama dalam pemenuhan gizi berskala nasional di Indonesia.

Baca juga: Program Makan Bergizi Gratis Dimulai Senin 6 Januari, Ini Daftar Lokasi Dapur Siap Operasi di Banten

Penerima Manfaat dan Lokasi Program

Program ini akan menyasar sekitar 3 juta penerima manfaat pada tahap awal, yang terdiri dari balita, anak sekolah, santri, serta ibu hamil dan ibu menyusui. 

Pada akhir tahun 2025, jumlah penerima manfaat diharapkan akan mencapai 15 juta orang, dengan target jangka panjang mencapai 82,9 juta penerima manfaat pada tahun 2029.

Program MBG akan berlangsung di 190 titik yang tersebar di 26 provinsi, antara lain Aceh, Bali, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, dan Papua Selatan.

Kualitas dan Pengawasan Makanan

Setiap titik distribusi MBG dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yang akan beroperasi dengan pengawasan ketat dari ahli gizi dan akuntan. 

Mereka memastikan bahwa setiap porsi makanan memenuhi standar gizi, serta menjaga kebersihan dan kelancaran distribusi. 

Program ini juga memperhatikan pengelolaan limbah dengan merancang nampan stainless steel yang dapat digunakan ulang.

Baca juga: Besok Makan Bergizi Gratis Diluncurkan, Ini 190 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi termasuk di Banten

Menu Makanan yang Variatif

Menu makanan yang disediakan akan disesuaikan dengan bahan pokok yang tersedia di masing-masing daerah. 

Untuk memastikan keberagaman dan kecukupan gizi, menu makanan di setiap wilayah akan mencakup kombinasi karbohidrat, lauk, buah, dan sayur sesuai dengan produksi lokal. Misalnya, daerah yang tidak memproduksi beras akan menggunakan bahan pengganti seperti jagung, singkong, atau talas. 

Berikut daftar menu makan bergizi gratis: 

Area 1 (sebagian besar Sumatera)

Karbohidrat: nasi

Lauk: daging ayam, tahu

Buah: pepaya, manggis

Sayur: kangkung

Area 2 (Mentawai)

Karbohidrat: sagu, talas

Lauk: udang, ikan

Buah: pisang, nangka, durian

Sayur: daun pepaya

Area 3 (Riau dan Bangka Belitung)

Karbohidrat: sagu

Lauk: udang, ikan

Buah: pepaya, durian, nanas

Sayur: kangkung, timun, terong

Area 4 (Kalimantan)

Karbohidrat: Talas, singkong

Lauk: ikan, daging sapi

Buah: pisang, rambutan, jeruk

Sayur: wortel, kangkung, sawi hijau

Area 5 (Banten dan Jawa tengah)

Karbohidrat: nasi, jagung

Lauk: daging ayam

Buah: pepaya, jeruk

Sayur: labu, buncis

Area 6 (DI Yogyakarta dan Jawa Timur)

Karbohidrat: nasi, jagung, singkong

Lauk: udang, ikan, telur, daging

Buah: mangga, alpukat, buah naga

Sayur: kol, kacang panjang, wortel

Area 7 (Bali)

Karbohidrat: nasi

Lauk: ikan, tahu

Buah: salak, jeruk, pisang, mangga

Sayur: kangkung, sawi hijau, kacang hijau

Area 8 (Nusa Tenggara Barat dan Timur)

Karbohidrat: jagung, sorgum

Lauk: daging sapi

Buah: jeruk, pisang, pepaya

Sayur: daun kelor, terong, pepaya

Area 9 (Sulawesi)

Karbohidrat: jagung, sorgum

Lauk: daging sapi

Buah: jeruk, pisang, pepaya

Sayur: daun kelor, terong, pepaya

Area 10 (Maluku)

Karbohidrat: sagu, jagung, singkong

Lauk: ikan, daging sapi

Buah: pisang, mangga, jeruk, pepaya

Sayur: pare, terong, kangkung

Area 11 (Papua)

Karbohidrat: sagu, singkong, ubi jalar

Lauk: ikan, daging sapi, kacang-kacangan

Buah: matoa, alpukat, jambu biji, duku, mangga

Sayur: buncis, kembang pepaya

Program ini juga bertujuan untuk memberdayakan ekonomi daerah dengan melibatkan ribuan UMKM, koperasi, dan BUMDes dalam rantai pasok makanan. 

Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp71 triliun untuk mendukung kelancaran program ini. Melalui program MBG, diharapkan peredaran uang di desa dapat meningkat hingga 800 persen, yang sebelumnya diperkirakan hanya Rp1 miliar per desa per tahun menjadi Rp8 miliar per desa per tahun.

Evaluasi dan Pengembangan Program

Pada tahap awal, sekitar 3,2 juta hingga 3,3 juta siswa akan menerima manfaat MBG, dengan program ini terus berkembang setiap harinya. 

Jumlah titik distribusi diharapkan mencapai 937 dapur pada akhir Januari 2025. 

Pemerintah juga berencana meningkatkan jumlah penerima manfaat secara bertahap, dengan target 6 juta pada April-Juni 2025, dan sekitar 15 juta penerima pada Juli-Agustus 2025.

Tantangan di Beberapa Daerah

Namun, tidak semua daerah memulai distribusi program MBG pada Senin ini. Beberapa daerah, seperti Kota Salatiga dan beberapa kabupaten di Bali, masih menunggu petunjuk teknis (juknis) dari pusat. 

Pemerintah daerah setempat menunggu instruksi dan alokasi anggaran dari pemerintah pusat untuk melaksanakan program ini.

Dengan dimulainya program MBG, diharapkan dapat membantu mengurangi masalah gizi buruk dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama di kalangan anak-anak dan ibu hamil, serta berkontribusi pada pemberdayaan ekonomi di tingkat desa.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved