Aksi Penutupan Tambang Pasir Laut Ilegal di Wanasalam Lebak Berujung Teror, Warga Hampir Dibacok

Ketegangan sempat terjadi di wilayah pesisir Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Banten, pada Kamis (14/5/2026) malam.

Tayang:
Penulis: Ahmad Haris | Editor: Abdul Rosid
TribunBanten.com
Kapolsek Wanasalam (kaos putih) ditemani Anggota DPRD Banten Musa Weliansyah (sweater hijau) saat melihat alat bukti golok dan geranit yang pecah dibacok, Jumat (15/5/2026) dini hari. 

Laporan Jurnalis Tribun Banten, Ahmad Haris

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Ketegangan sempat terjadi di wilayah pesisir Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Banten, pada Kamis (14/5/2026) malam.

Insiden itu terjadi hanya beberapa jam setelah sejumlah warga melakukan aksi penutupan aktivitas tambang pasir laut ilegal yang diduga beroperasi di kawasan pesisir Desa Sukatani, Kecamatan Wanasalam.

Dari iformasi yang berhasil dihimpun, sekelompok pria yang diduga terkait dengan aktivitas tambang mendatangi rumah warga sekitar pukul 21.35 WIB.

Baca juga: 212 Perusahaan PMDN dan PMA Tanam Modal di Lebak Awal 2026, Serap 2.856 Tenaga Kerja

Mereka disebut membawa golok dan melakukan intimidasi terhadap warga yang sebelumnya ikut dalam aksi penutupan tambang.

Anggota DPRD Provinsi Banten, Musa Weliansyah, membenarkan adanya dugaan intimidasi tersebut.

Ia menyebut para pelaku diduga merupakan pekerja tambang dan keluarga pemilik tambang pasir ilegal.

“Semalam ada oknum pelaku tambang melakukan penyerangan dan intimidasi kepada warga yang ikut menutup tambang,” ujar Musa kepada Tribun Banten, Jumat (15/5/2026).

Menurut Musa, aktivitas tambang pasir laut ilegal itu diduga sudah berlangsung lebih dari tiga tahun.

Tambang tersebut disebut berada di atas lahan milik Pemerintah Provinsi Banten seluas sekitar enam hektare di Desa Sukatani.

Ia menegaskan, praktik tambang ilegal itu diduga telah merusak kawasan sempadan pantai di wilayah Tenjolaya.

“Pemilik tambang merasa kebal hukum. Sudah lebih dari tiga tahun melakukan usaha pasir ilegal yang merusak sempadan pantai di Tenjolaya,” katanya.

Musa mengaku mengecam keras aksi intimidasi terhadap warga. Bahkan, ia memastikan akan mendampingi warga untuk melaporkan dugaan premanisme tersebut kepada aparat penegak hukum.

“Saya mengutuk keras aksi premanisme terhadap warga yang ikut menutup lokasi tambang pasir ilegal. Saya akan dampingi warga melaporkan para pelaku yang mengintimidasi hingga menyabetkan golok ke salah satu gerobak milik warga,” tegasnya.

Beruntung, dalam kejadian tersebut tidak ada korban luka maupun kekerasan fisik. Namun, warga yang menjadi sasaran intimidasi mengaku merasa terancam dan ketakutan.

Sumber: Tribun Banten
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved