Bagian III: Pesantren dan Perlawanan

Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan

Tayang:
Editor: Abdul Rosid
Dok/Pribadi
Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan, serta kebangsaan dari perspektif Nahdlatul Ulama. 

 “Kau anak Umar,” katanya. “Ilmunya sudah di kepala, tapi adabnya belum di dada.”

Sejak hari itu aku belajar lebih banyak tentang diam daripada berbicara.
Di Lopang, aku tak hanya belajar kitab, tapi juga belajar mendengarkan angin.
Setiap kali hujan turun, Syekh Sahal berkata:

“Lihat air itu, Nawawi. Ia jatuh dari langit, tapi tak pernah sombong.”

Aku hafal setiap kata, menulisnya di hati seperti tinta yang tak pernah kering.
Dua tahun berlalu seperti satu tasbih panjang.

Aku belajar Fathul Qarib, Sullam at-Taufiq, dan Safinatun Najah dengan penuh ketekunan.

Namun yang paling kuingat bukan isi kitabnya, melainkan tatapan mata guruku yang seolah menanamkan kalimat ke dadaku:

 “Ilmu tanpa adab hanyalah debu yang berhuruf Arab.”

Suatu sore, setelah hujan reda, Syekh Sahal memanggilku.
Beliau berkata tenang:

“Ilmu di sini sudah cukup. Pergilah ke Purwakarta.

Di sana ada Syekh Bai Yusuf, alim yang mengajar dengan cinta, bukan dengan tongkat.”

Aku mencium tangannya, dan entah kenapa, air mataku lebih deras dari hujan sore itu.

Ke Purwakarta

Perjalanan ke Purwakarta seperti melintasi dua dunia.

Dari rawa-rawa Banten ke dataran tinggi Parahyangan, dari bahasa pesisir ke bahasa lembah.

Aku menyeberangi sungai, menumpang gerobak, tidur di surau pinggir jalan.

Sumber: Tribun Banten
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved