Bagian III: Pesantren dan Perlawanan

Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan

Tayang:
Editor: Abdul Rosid
Dok/Pribadi
Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan, serta kebangsaan dari perspektif Nahdlatul Ulama. 

Setiap tempat yang kulewati penuh kisah rakyat yang lelah: tentang sawah yang dirampas, tentang kiai yang ditangkap, tentang anak-anak yang kehilangan ayah.

Namun di setiap surau, aku temukan juga yang tak bisa dijajah: suara anak kecil membaca Yā Sīn, dan bau kitab kuning yang lembap karena sering disentuh tangan wudhu.

Ketika sampai di pesantren Syekh Bai Yusuf, aku merasa seperti pulang.
Beliau menyambutku dengan senyum luas.

 “Dari mana, Nak?”
“Dari Tanara.”
“Ah… tanah wali-wali,” katanya. “Duduklah. Mari kita tanam lagi wali baru.”

Hari-hariku di Purwakarta penuh cahaya yang lembut.

Syekh Bai Yusuf mengajar fiqh seperti seorang ayah menuntun anaknya berjalan di sawah.
Beliau berkata:

 “Syariat itu pagar, tapi kebunnya adalah akhlak.”

Aku belajar menulis ulang pelajaran di atas kertas kulit, dan setiap kali aku menulis Rahimahullāh, beliau berbisik:

 “Tulisanmu, Wi, kelak akan menjadi doa panjang untuk dunia.”

Isyarat Makrifat

Suatu sore, ketika aku tengah menyalin pelajaran, Syekh Bai Yusuf menatapku lama dari serambi pesantren.

Matanya seperti menembus dinding waktu.
Beliau tak berkata apa-apa selama beberapa saat, lalu berucap pelan:

 “Nawawi, saatnya kau pulang ke Tanara.”

Aku terkejut.
“Sudah tiba waktunya, Guru?”
Beliau tersenyum.

“Ibumu menanam pohon kelapa saat engkau pertama kali meninggalkan rumah.
Hari ini, pohon itu telah berbuah.”

Aku terdiam. Tak ada kabar dari Tanara, tak ada utusan membawa pesan.

Tapi dari wajah beliau, aku tahu beliau tidak bicara dari telinga, melainkan dari pandangan hati.

“Ketahuilah, Wi,” lanjut beliau,
“pohon kelapa adalah perumpamaan bagi santri sejati: ia tumbuh tinggi ke langit, tetapi hidupnya dari akar yang tertanam dalam tanah.

Ia minum dari rahim bumi, tapi buahnya menjadi santapan langit.

Ketika ia berbuah, berarti ilmunya telah matang, dan waktunya kembali, bukan untuk berhenti, tapi untuk berangkat.”

Aku menangis, mencium tangan beliau.
Dalam sujud panjang malam itu, aku mengerti: bahwa buah kelapa itu adalah tanda bahwa doa seorang ibu telah sampai ke langit, dan kini langit mengembalikannya dalam bentuk panggilan ke tanah suci.

Wafat Ayahanda dan Tahun-Tahun Bergolak

Namun sesampainya aku di Tanara,
yang kutemukan bukan pelukan, melainkan duka.

Ayah telah berpulang pada tahun 1826 Masehi, tahun yang sama ketika Hendrik Merkus de Kock diangkat menjadi Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Dari Yogyakarta, Pangeran Diponegoro memproklamirkan Jihad Sabilillah melawan penjajahan Belanda.

Dentum meriam menggema sampai Banten.
Para kiai menyebutnya “Perang Jawa” perang antara iman dan keserakahan.

Di pesantren-pesantren, doa dan air mata menyatu dengan bau mesiu dan darah.

Belanda membangun benteng di sepanjang jalur selatan, menutup jalan haji, memeriksa kapal, dan menangkap para ulama yang dicurigai ikut berperang.

 “Setiap doa dianggap makar,” kata ayah sebelum wafat,

“setiap kitab dianggap peluru.”

Aku menjadi saksi bagaimana Tanara hidup dalam ketakutan dan zikir.

Sungai Cidurian bukan lagi tempat bermain,
tapi jalur rahasia para santri membawa kabar dan kitab.

Setelah ayah wafat, aku harus menggantikan perannya:mengajar, mengimami, menuntun ibu dan adik-adik.

Dua tahun penuh kutempuh dengan sabar,
sementara dunia di luar terus bergolak dalam api Perang Diponegoro.

Pesantren: Benteng Jihad dan Cahaya Kemerdekaan

Dalam suasana mencekam itu aku sadar,
pesantren bukan hanya tempat menulis ilmu, tetapi benteng jihad yang menjaga ruh bangsa.

Setiap kitab yang dibaca adalah senjata,
setiap doa yang dilantunkan adalah perlawanan terhadap penjajahan.

Dari pesantren lahir para pejuang: Kiai Mojo di Perang Jawa, Tuanku Imam Bonjol di Minangkabau, Teungku Cik di Tiro di Aceh, hingga Kiai Wasyid di Banten.

Mereka semua santri, pewaris ruh jihad dari para ulama Tanara dan Nusantara.

 “Selama ada pesantren,” kata seorang kiai tua Tanara,

“negeri ini tidak akan kehilangan keberanian.”

Tradisi Adab: Cinta dan Bakti, Bukan Feodalisme

Budaya pesantren membentuk karakter santri lebih beradab: rendah hati, melayani, dan tahu berterima kasih.

Santri menyalami kiai, mencium tangan guru, bahkan memberi amplop atau bingkisan saat sowan, bukan karena tunduk secara feodal, tetapi karena tahu bahwa jasa kiai tak akan pernah terbalas.

Dalam pandangan santri, melayani kiai adalah bagian dari memuliakan ilmu, dan memberi adalah cara berterima kasih kepada sumber cahaya.

Amplop itu bukan penghormatan duniawi,
tetapi simbol cinta dan doa, rasa malu karena belum mampu membalas lautan jasa guru yang menuntun mereka kepada Allah.

 “Adab lebih tinggi dari ilmu,” ujar para kiai;
“karena tanpa adab, ilmu hanya menjadi beban di kepala.”

Sebaliknya, feodalisme yang sejati bukanlah menghormati guru, melainkan mewarisi kesombongan kolonial: memuja jabatan, memperalat rakyat kecil, menilai derajat manusia dari pakaian, pangkat, atau dompetnya.

Itulah warisan Belanda yang masih tersisa dalam urat sosial bangsaz yang harus dihapus dengan ilmu dan adab pesantren.

Tradisi pesantren justru melawan segala bentuk feodalisme.

Di sana tak ada kasta darah,hanya ada keikhlasan: kiai yang tidur di tikar, santri yang makan seadanya, tapi hati mereka dipenuhi cita-cita besar membebaskan manusia dari kebodohan dan kezaliman.

Dari kesederhanaan itu lahirlah revolusi yang beradab: jihad tanpa dendam, perjuangan tanpa ambisi, dan kemerdekaan yang berakar pada ilmu, iman, serta kasih.

Berangkat ke Makkah, 1828

Pada tahun 1828, saat aku akhirnya mendapat restu ibu untuk berangkat ke Makkah,tanah Jawa masih diselimuti perang dan penjagaan ketat.

De Kock memerintahkan operasi besar-besaran untuk menangkap siapa pun yang dianggap ulama pemberontak.

Pelabuhan Anyer dijaga serdadu bersenjata,
kapal diperiksa satu per satu,namun tak ada penjaga yang bisa memeriksa niat dalam dada manusia.

Ibu memelukku erat.

“Pergilah, Wi,” katanya lirih.
“Ilmu adalah jihad yang tak bisa ditangkap oleh siapa pun.”

Aku menunduk, mencium mushaf kecil peninggalan ayah,dan melangkah menuju samudera.
Angin dari utara membawa harum tanah Tanara,dan di dadaku aku dengar gema pesan ayah:

 “Selama ada yang mengaji, kita masih merdeka.”

Sebab sungai tak diciptakan untuk diam;
ia mengalir agar sampai ke samudera.

Dan di seberang samudera itu,
Makkah telah menunggu seperti langit yang hendak memanggil pulang cahaya yang dulu pernah ia titipkan di Tanara.

Sumber: Tribun Banten
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved