Bagian VI: Lentera dari Rumah Sederhana
Penulis Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi.
Putri-putriku menghafal dan melantunkan secara rutin tiap petang Dalā’il al-Khairāt, menyalin catatan syarahku, dan menyiapkan sajian kecil untuk para penuntut ilmu. Banyak santri mengaku lebih mengingat senyum di rumah ini daripada teks yang kusebut di pelajaran—dan aku tidak cemburu; sebab senyum juga adalah syarḥ bagi hati.
Di sela-sela pelayanan, rumah ini tak henti menerima tamu Jawi: dari Bawean, Banten, Minangkabau, Patani. Sebagian menginap; sebagian sekadar bertanya arah; sebagian lain menitipkan rindu untuk kampung halaman. Kami mengerti: di Makkah, rindu adalah lauk utama.
Waktu yang pelan, cinta yang cepat
Setiap fajar, Zuhrah duduk di pangkuanku sambil mengeja mushaf kecil. Kadang ia menepuk bahuku, “Babah, mata Babah merah.” Aku tertawa pelan, “Merah karena mengejar kalimat yang belum selesai.” Di sore hari, Maryam dan Rabi‘ah mengaji di serambi; malamnya Nafisah menanyakan makna satu baris dalam Waraqāt. Di antara halaman yang padat, aku merasakan kedamaian yang tak bisa dibeli.
Jika ada yang bertanya, apa rahasia rumah ini, aku akan menjawab: adab. Adab di meja makan, adab di tikar shalat, adab saat menulis, adab saat letih dan ingin marah. Di rumah yang kecil ini, kami menggunakan kata pelan untuk perkara besar, dan doa panjang untuk masalah kecil.
Alamat kehidupan: rumah sederhana di Syieb ‘Ali, ± 500 m dari Masjidil Haram; pusat singgah jamaah dan santri Jawi.
Istri pertama: Nasimah (darah Banten). Anak:
1. ‘Abdul Mu‘thī (wafat kecil; darinya kunyahku “Abī ‘Abdil Mu‘thī”),
2. Maryam → suami KH. Asy‘ari (Bawean),
3. Rabi‘ah/Ruqayyah → putri Salmah → suami KH. Najihun (Mauk, juru tulis Tausyīḥ Fath al-Qarīb, Qaṭr al-Ghayth),
4. Nafisah → suami Syekh ‘Abdul Hannan → putra Syekh ‘Abdul Ḥaqq (penulis Syarḥ Waraqāt, Ḥāsyiyah Syarḥ al-Ghazziy).
Istri kedua: Hamdanah (Jawa). Anak: Zuhrah. Wasiat: setelah ‘iddah, dinikahkan dengan Asnawi Kudus.
Pengabdian sosial: selain mengajar dan menulis, membimbing jamaah haji/umrah; rumah menjadi madrasah layanan.
Malam ini angin dari Ka‘bah kembali mengetuk jendela. Kutarik selimut pada punggung naskah, memadamkan pelita, lalu kubisikkan doaku yang paling lama:
“Ya Allah, jadikan rumah kecil kami di Syieb ‘Ali ini tempat Engkau senang singgah.
Jadikan ilmu sebagai udara, adab sebagai dinding, dan cinta sebagai atapnya.
Jika esok aku tak sempat menulis, biarlah senyum mereka menjadi syarḥ atas kekuranganku.”
Hamdanah menatapku dari ambang pintu.
“Babah, istirahatlah…”
Aku mengangguk. Dunia memang tak runtuh jika aku tidur sejenak.
Namun aku tahu, selagi ada yang mengetuk dari jauh dari Banten, Bawean, Mauk, Patani rumah ini akan tetap terjaga: menulis, mengajar, melayani, dan memeluk siapa pun yang datang dengan rindu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/Petilasan-rumah-Syekh-Nawawi-Al-Bantani-di-Syieb.jpg)