Bagian VI: Lentera dari Rumah Sederhana
Penulis Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi.
Penulis Muhamad Roby, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang. Aktivis sosial-keagamaan, dan penulis lepas yang konsisten mengulas demokrasi, kemanusiaan, serta kebangsaan dari perspektif Nahdlatul Ulama.
TRIBUNBANTEN.COM - Rumahku berdiri di Syieb ‘Ali, kira-kira lima ratus langkah dari Masjidil Haram. Dinding batu, tikar pandan, jendela kecil menghadap kiblat. Setiap fajar, azan Subuh merambat masuk seperti benang cahaya, menambal lelah malamku. Aku bukan orang kaya; namun setiap kali mendengar zikir dibisikkan dari dapur, aku merasa seluruh dunia telah singgah di rumah kecil ini.
Aku mengajar dan menulis dari serambi, sementara tamu—santri, jamaah haji, dan saudara jauh dari Jawa—datang silih berganti. Para perempuan di rumahku menjaga semua ini dengan adab: menyuguhkan teh, menyiapkan roti, menenangkan bayi yang menangis, dan merapikan naskah yang tertiup angin gurun.
Baca juga: Bagian I: Benih Ilmu di Tanah Tanara
Baca juga: Bagian II: Anak Kiai dari Ujung Sungai Cidurian
Baca juga: Bagian III: Pesantren dan Perlawanan
Baca juga: Bagian IV: Madrasah Langit: Para Mahaguru Mulia
Baca juga: Bagian V: Perantau Langit
Nasimah: Cinta yang tetap tinggal
Istriku yang pertama Nasimah, tutur lembutnya seperti air Zamzam. Konon, darahnya masih bersambung ke tanah Banten barangkali itu sebabnya rumah ini sering terasa seperti Tanara yang berpindah ke Makkah. Allah mengaruniakan kami empat anak: seorang putra dan tiga putri.
Putraku, ‘Abdul Mu‘thī, pulang kepada Allah ketika masih kecil. Sejak itu, pada setiap kitab, aku menulis kunyahku: “Abī ‘Abdil Mu‘thī.” Bukan untuk dikenang, tetapi agar doa untuk anakku abadi di setiap halaman yang kubuka.
Putri sulungku, Maryam, tumbuh cerdas dan teduh. Ia menikah dengan santriku, KH. Asy‘ari dari Pulau Bawean, lelaki yang memuliakan ilmu dan keluarganya. Putri kedua, Rabi‘ah, ada juga yang menyebutnya Ruqayyah dikaruniai seorang putri, Salmah. Kelak Salmah dinikahi oleh KH. Najihun dari Mauk, Tangerang; dialah murid yang telaten menyalin naskah-naskahku: Tausyīḥ Fath al-Qarīb, Qaṭr al-Ghayth, dan lainnya. Putri bungsu, Nafisah, bersuami Syekh ‘Abdul Hannan; dari keduanya lahir cucuku yang paling rajin membersamaiku, Syekh ‘Abdul Ḥaqq penulis Syarḥ Waraqāt (uṣūl fiqh) dan Ḥāsyiyah Syarḥ al-Ghazziy (gramatikal Arab, ilmu tashrif). Ia menyalakan lentera saat malam, menutup kitab saat aku tertidur di atasnya, dan mengingatkan waktu saat azan hampir tiba.
Hari-hari bersama Nasimah adalah hari-hari ketika ilmu dan kasih bertukar tempat: kadang ilmu menjadi suami yang tegas, kasih menjadi istri yang lembut; kadang sebaliknya. Namun keduanya selalu shalat berjamaah di ruang tengah.
Hamdanah: Lentera di masa senja
Ketika Nasimah wafat, ruang rumah seperti bertambah besar; suaraku menggema sendiri. Beberapa tahun kemudian aku menikah dengan Hamdanah, perempuan Jawa yang ramah, cekatan, dan kuat ibadahnya. Dari rahimnya lahir Zuhrah bintang kecil yang menenangkan masa senjaku.
Hamdanah paham caraku bekerja: malam hari aku menulis, siang hari aku mengajar, sore hari aku menerima tamu haji dan umrah, sebab pemerintah Makkah menugaskanku membimbing jamaah yang datang dari berbagai negeri. Banyak di antaranya dari Nusantara; rumah kecil ini pun seperti pelabuhan: orang datang letih, pergi dengan wajah yang lebih terang.
“Babah, istirahatlah sebentar. Dunia tak akan runtuh jika Babah tidur sejenak,” bisik Hamdanah, menutup tinta dan memindahkan kertas dari tepi pelita. Aku tersenyum. Bagaimana hendak tidur, jika masih ada hati yang gelap menunggu satu baris penjelasan?
Sebelum ajal menepi, aku berwasiat: jika masa ‘iddah usai, Hamdanah hendaknya dinikahi murid kinasihku, Asnawi dari Kudus. “Ilmu dan amanah,” kataku padanya, “harus sama-sama dijaga.” Aku ingin rumah ini tetap menjadi madrasah kasih, bukan sekadar alamat di Syieb ‘Ali.
Rumah yang menjadi madrasah
Di rumah kami, hak suami-istri bukan slogan, melainkan tata cara hidup: aku menunaikan nafkah, mendidik dan membimbing; mereka menjaga rumah, kehormatan, dan ibadah. Sebagaimana kutulis dalam ʿUqūd al-Lujayn, suami memuliakan, istri menentramkan; bila dua cahaya ini bersua, rumah menjelma taman surga. Maka kami hidupkan adab: salam ketika masuk, duduk saat bicara, lembut ketika berbeda, dan memadamkan api kecil sebelum jadi prahara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banten/foto/bank/originals/Petilasan-rumah-Syekh-Nawawi-Al-Bantani-di-Syieb.jpg)